... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

RESENSI BUKU GAME THEORY

Mengupas Logika Strategi dalam Pengambilan Keputusan Modern

Identitas Buku

Judul

Game Theory (Third Edition)

Penulis

Giacomo Bonanno

Edisi

Third Edition

Tahun Terbit

2024 (Hak Cipta: 2015, 2018, 2024)

Penerbit

Kindle Direct Publishing

ISBN Volume 1

978-1983604638

ISBN Volume 2

979-8338684214

Bahasa

Inggris

Jumlah Volume

2 Volume

Format

PDF (bebas didistribusikan untuk tujuan non-komersial) dan cetak

Di tengah perkembangan ilmu ekonomi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), ilmu komputer, ilmu politik, hingga manajemen bisnis yang semakin kompleks, teori permainan (game theory) menjadi salah satu disiplin ilmu yang memiliki pengaruh besar dalam menjelaskan bagaimana individu maupun organisasi mengambil keputusan ketika kepentingannya saling berinteraksi. Melalui buku Game Theory edisi ketiga, Giacomo Bonanno berhasil menyajikan materi yang selama ini dikenal rumit menjadi jauh lebih sistematis, logis, dan mudah dipahami.

Giacomo Bonanno merupakan profesor ekonomi di University of California, Davis, yang telah lama dikenal sebagai salah satu akademisi berpengaruh dalam bidang teori permainan. Pengalaman panjangnya sebagai dosen sekaligus peneliti tercermin dari gaya penulisan yang tidak hanya berorientasi pada ketepatan matematis, tetapi juga pada proses pembelajaran pembaca. Buku ini merupakan penyempurnaan dari edisi-edisi sebelumnya dengan berbagai pembaruan materi, penyusunan ulang beberapa bab, serta penambahan contoh dan latihan yang lebih relevan dengan perkembangan ilmu saat ini.

Secara keseluruhan, buku ini terbagi menjadi dua volume besar. Volume pertama membahas konsep-konsep dasar, seperti permainan statis, permainan dinamis, strategi dominan, keseimbangan Nash (Nash Equilibrium), permainan berurutan, hingga permainan dengan informasi sempurna. Sementara itu, volume kedua mengulas topik yang lebih mendalam, antara lain permainan Bayesian, permainan berulang (Repeated Games), teori negosiasi (Bargaining Theory), permainan evolusioner (Evolutionary Games), serta berbagai model strategis yang digunakan dalam penelitian modern.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada cara penulis membangun pemahaman secara bertahap. Bonanno tidak langsung membawa pembaca pada formulasi matematika yang kompleks, melainkan memulai setiap konsep melalui ilustrasi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setelah pembaca memahami intuisi dari suatu konsep, barulah diperkenalkan pembuktian matematis secara bertahap. Pendekatan ini menjadikan buku tersebut dapat dipelajari tidak hanya oleh mahasiswa ekonomi, tetapi juga oleh mahasiswa matematika, ilmu komputer, ilmu politik, psikologi, bahkan teknik.

Keunggulan lain yang sangat menonjol adalah banyaknya contoh kasus dan latihan yang tersedia. Hampir setiap konsep disertai contoh konkret sehingga pembaca dapat memahami penerapan teori dalam berbagai situasi nyata. Selain itu, penulis juga menyediakan buku pendamping yang berisi sekitar 180 soal lengkap beserta penyelesaiannya. Kehadiran buku pendamping ini sangat membantu mahasiswa yang ingin menguji sekaligus memperdalam pemahamannya secara mandiri.

Dari sisi akademik, buku ini menunjukkan kualitas yang sangat tinggi. Penyusunan materi mengikuti urutan logis sehingga setiap bab menjadi landasan bagi bab berikutnya. Definisi, teorema, proposisi, serta pembuktian dituliskan secara konsisten dan menggunakan notasi matematika yang jelas. Bagi pembaca yang telah memiliki dasar aljabar dan logika matematika, penyajian seperti ini akan sangat membantu membangun pemahaman konseptual yang kuat.

Tidak hanya sebagai buku teks, Game Theory juga layak dijadikan referensi penelitian. Banyak konsep yang dijelaskan dalam buku ini merupakan fondasi bagi berbagai penelitian di bidang ekonomi mikro, strategi bisnis, kecerdasan buatan, keamanan siber, analisis jaringan, desain mekanisme (mechanism design), hingga ilmu politik modern. Oleh karena itu, buku ini memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan relevan untuk pembelajaran maupun penelitian.

Meskipun demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Bagi pembaca yang belum memiliki dasar matematika, beberapa bagian akan terasa cukup berat, terutama ketika memasuki pembahasan mengenai pembuktian formal dan notasi matematis. Selain itu, seluruh isi buku menggunakan bahasa Inggris akademik sehingga membutuhkan kemampuan membaca literatur ilmiah yang memadai. Penyajian visual juga relatif sederhana karena penulis lebih mengutamakan kedalaman konsep daripada tampilan grafis.

Walaupun terdapat beberapa keterbatasan tersebut, kualitas buku ini secara keseluruhan tetap sangat baik. Kejelasan alur pembahasan, kedalaman materi, banyaknya contoh, serta kelengkapan latihan menjadikan buku ini salah satu referensi teori permainan terbaik yang tersedia secara bebas di internet. Kebijakan penulis yang mengizinkan distribusi versi PDF untuk kepentingan non-komersial juga merupakan kontribusi besar bagi dunia pendidikan, karena membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa dan peneliti dari berbagai negara.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi mahasiswa tingkat akhir, mahasiswa magister dan doktoral, dosen, peneliti, analis kebijakan, praktisi bisnis, serta siapa saja yang ingin memahami bagaimana keputusan rasional dibuat dalam situasi yang melibatkan interaksi strategis antarindividu maupun antarorganisasi. Dengan mempelajari buku ini, pembaca tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai game theory, tetapi juga memperoleh kerangka berpikir analitis yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Kelebihan Buku

  • Materi sangat lengkap, sistematis, dan mengikuti perkembangan teori permainan modern.
  • Penjelasan dibangun secara bertahap dari konsep intuitif menuju pembuktian formal.
  • Banyak contoh kasus yang memudahkan pemahaman konsep.
  • Tersedia latihan dalam jumlah besar beserta buku pendamping yang berisi solusi lengkap.
  • Sangat cocok digunakan sebagai buku ajar di perguruan tinggi maupun referensi penelitian.
  • Dapat diakses secara bebas dalam format PDF untuk penggunaan non-komersial sehingga mendukung pemerataan akses ilmu pengetahuan.

Kekurangan Buku

  • Membutuhkan kemampuan matematika dasar hingga menengah agar pembaca dapat mengikuti seluruh pembahasan.
  • Menggunakan bahasa Inggris akademik yang cukup padat bagi pembaca pemula.
  • Penyajian visual relatif sederhana sehingga lebih menekankan aspek konseptual daripada ilustrasi grafis.

Penilaian Akhir

Game Theory karya Giacomo Bonanno merupakan salah satu buku teks teori permainan paling komprehensif dan berkualitas yang tersedia saat ini. Penyajian yang sistematis, keseimbangan antara intuisi dan pembuktian matematis, serta relevansinya dengan berbagai disiplin ilmu menjadikan buku ini layak dijadikan referensi utama dalam mempelajari teori permainan. Meskipun menuntut kemampuan matematika dan bahasa Inggris yang cukup baik, manfaat akademik yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan tingkat kesulitannya. Oleh karena itu, buku ini sangat layak direkomendasikan sebagai bacaan wajib bagi mahasiswa, dosen, peneliti, maupun praktisi yang ingin memahami strategi pengambilan keputusan secara ilmiah dan mendalam.

SIAPA MARIA MAGDALENA?

Nama tokoh ini selalu menjadi pusat perhatian setiap kali Gereja merayakan Hari Raya Paskah. Mengapa tidak? Karena dalam kisah kebangkitan Yesus, Maria Magdalena menjadi tokoh sentralnya. Peristiwa kebangkitan Yesus Kristus merupakan pusat iman Kristiani. Santo Paulus dengan tegas menyatakan bahwa “jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman kamu” (1Kor 1
5:14). Dalam narasi Injil, terdapat satu tokoh yang mendapat tempat istimewa dalam peristiwa monumental ini, yaitu Maria Magdalena. Ia dikenal sebagai pribadi pertama yang menyaksikan kebangkitan Kristus dan menerima perutusan untuk mewartakannya kepada para rasul.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Maria Magdalena tidak hanya dipahami sebagai saksi historis, tetapi juga sebagai figur teologis yang mencerminkan relasi kasih, pertobatan, dan kesetiaan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran Maria Magdalena sebagai saksi pertama kebangkitan Yesus berdasarkan Kitab Suci dan refleksi iman Gereja Katolik.

Maria Magdalena dalam Kesaksian Kitab Suci

Keempat Injil secara konsisten menyebut Maria Magdalena sebagai salah satu perempuan yang mengikuti Yesus dan hadir dalam peristiwa sengsara, wafat, hingga kebangkitan-Nya (Mat 27:55–56; Mrk 15:40; Luk 8:2; Yoh 19:25). Secara khusus, Injil Yohanes memberikan narasi yang paling mendalam tentang perjumpaan Maria Magdalena dengan Kristus yang bangkit (Yoh 20:1–18).

Dalam Yohanes 20:11–18, Maria Magdalena digambarkan menangis di luar kubur. Ketika Yesus menampakkan diri, ia tidak langsung mengenali-Nya hingga Yesus memanggil namanya: “Maria!” (Yoh 20:16). Momen ini menunjukkan dimensi personal dalam relasi antara Yesus dan Maria Magdalena. Setelah mengenali-Nya, ia menerima perutusan: “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku…” (Yoh 20:17).

Fakta bahwa seorang perempuan menjadi saksi pertama kebangkitan memiliki signifikansi besar, mengingat dalam konteks budaya Yahudi saat itu, kesaksian perempuan tidak memiliki kekuatan hukum. Namun, Injil justru menempatkan Maria Magdalena sebagai saksi utama, yang memperlihatkan logika ilahi yang melampaui struktur sosial manusia.

Pandangan Gereja Katolik

Gereja Katolik menempatkan Maria Magdalena dalam posisi yang sangat terhormat. Dalam tradisi liturgi, ia bahkan disebut sebagai “Apostola Apostolorum” (Rasul bagi para rasul). Gelar ini menunjukkan bahwa ia adalah orang pertama yang diutus untuk mewartakan kebangkitan kepada para rasul.

Paus Fransiskus pada tahun 2016 secara resmi meningkatkan peringatan liturgi Santa Maria Magdalena menjadi pesta (feast), setara dengan para rasul (Congregation for Divine Worship, 2016). Dalam dekrit tersebut ditegaskan bahwa Maria Magdalena adalah teladan pewarta Injil yang sejati.

Katekismus Gereja Katolik juga menegaskan bahwa para perempuan, terutama Maria Magdalena, adalah saksi pertama kebangkitan (KGK 641). Hal ini dipahami sebagai tanda bahwa rahmat Allah bekerja melalui mereka yang setia dan mengasihi, bukan semata-mata melalui struktur kekuasaan.

Kesalahpahaman tentang Identitas Maria Magdalena

Salah satu persoalan yang cukup lama mengiringi figur Maria Magdalena adalah adanya kesalahpahaman yang mengidentifikasikannya sebagai seorang pelacur atau perempuan berdosa. Pandangan ini berkembang dalam tradisi populer Barat, terutama sejak homili Paus Gregorius Agung pada abad ke-6, yang menggabungkan beberapa tokoh perempuan dalam Injil menjadi satu figur.

Dalam homili tersebut, Maria Magdalena disamakan dengan “perempuan berdosa” yang mengurapi kaki Yesus (Luk 7:36–50), serta dengan Maria dari Betania, saudari Marta dan Lazarus (Yoh 11–12). Namun, penelitian biblis modern dan refleksi teologis Gereja kemudian menunjukkan bahwa ketiga tokoh ini tidak secara eksplisit diidentifikasi sebagai pribadi yang sama dalam Kitab Suci.

Injil Lukas secara jelas menyebut Maria Magdalena sebagai perempuan yang telah dibebaskan dari “tujuh roh jahat” (Luk 8:2), tetapi tidak pernah menyebutnya sebagai pelacur. Sementara itu, perempuan berdosa dalam Lukas 7 tidak disebutkan namanya, dan Maria dari Betania memiliki identitas yang berbeda serta konteks kisah yang lain.

Gereja Katolik sendiri, dalam perkembangan teologinya, telah mengambil sikap yang lebih hati-hati dan berbasis pada kesaksian Kitab Suci. Liturgi resmi Gereja, terutama setelah pembaruan kalender liturgi pasca Konsili Vatikan II, tidak lagi menggabungkan ketiga figur tersebut. Penegasan ini juga tampak dalam dokumen resmi Gereja, termasuk ketika Paus Fransiskus menegaskan martabat Maria Magdalena sebagai “rasul bagi para rasul,” tanpa mengaitkannya dengan stereotip moral tertentu.

Meluruskan kesalahpahaman ini penting, bukan sekadar untuk akurasi historis, tetapi juga untuk menjaga kemurnian makna teologis dari kesaksian Maria Magdalena. Ia bukan dikenang karena masa lalunya yang kelam, yang bahkan tidak pernah ditegaskan sebagai kehidupan berdosa secara moral dalam arti sosial, melainkan karena kesetiaannya, kasihnya, dan perutusannya sebagai saksi pertama kebangkitan.

Dengan demikian, Maria Magdalena seharusnya dipahami sebagai murid yang setia dan saksi iman yang otentik, bukan sebagai simbol dosa masa lalu. Pemurnian pemahaman ini juga membuka ruang refleksi yang lebih adil mengenai peran perempuan dalam sejarah keselamatan.

Refleksi dalam Kehidupan Iman

Bagi umat beriman, Maria Magdalena menjadi teladan iman yang hidup. Ia menunjukkan bahwa pengalaman akan Kristus tidak selalu dimulai dari kesempurnaan, tetapi dari pertobatan dan kasih yang tulus. Tradisi Gereja juga sering mengaitkan Maria Magdalena dengan pengalaman pembebasan dari dosa (Luk 8:2), yang semakin menegaskan bahwa rahmat Allah bekerja dalam kelemahan manusia.

Dalam konteks pastoral, figur Maria Magdalena sangat relevan, terutama dalam mendorong peran perempuan dalam kehidupan Gereja. Ia menjadi bukti bahwa perempuan memiliki tempat penting dalam sejarah keselamatan.

Maria Magdalena bukan sekadar tokoh pendukung dalam kisah Injil, tetapi merupakan saksi utama kebangkitan Kristus. Dalam perspektif Gereja Katolik, perannya memiliki makna historis sekaligus teologis yang mendalam. Ia adalah simbol kesetiaan, kasih, dan perutusan.

Kesaksiannya mengingatkan bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi realitas iman yang terus dihidupi dan diwartakan. Melalui Maria Magdalena, Gereja belajar bahwa perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit selalu berujung pada misi: mewartakan kabar sukacita kepada dunia.

 

Daftar Bacaan

Alkitab. (2005). Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Katekismus Gereja Katolik. (1992). Jakarta: Obor.

Schneiders, S. M. (2003). Written That You May Believe: Encountering Jesus in the Fourth Gospel. New York: Crossroad.

Congregation for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments. (2016). Decree on the Celebration of Saint Mary Magdalene.

Witherington III, B. (1984). Women in the Ministry of Jesus. Cambridge: Cambridge University Press.

Bauckham, R. (2002). Gospel Women: Studies of the Named Women in the Gospels. Grand Rapids: Eerdmans.

  

KIRIEELEISON - ALLELUYA

Tentang Kirie-eleison

Kirie’eleison (bahasa Indonesia: Tuhan kasihanilah (kami) sudah terdapat di Kitab Suci bahasa Yunani (Septuginta) dalam berbagai mazmur. Umat Yahudi yang hidup dalam diaspora dan memakai Septuaginta tersebut sudah terbiasa dengan Kirie’eleison. Kirie itu untuk mereka Yahwe atau Adonai-Tuhan. Dalam kehidupan mereka di luar agama Yahudi Kirie’eleison itu menjadi seruan pemujaan dan sekaligus seruan permohonan kepada dewa dan imperator (penguasa) seperti kaisar, dan di Roma oleh para budak, digunakan sebagai salam pagi kepada majikan atau tuan rumah.

Di agama kristen di sebelah Timur dalam hidup biasa, kemudian juga di liturgi orang Kristen memakai juga Kirie’eleison, sering diselang-seling dengan doa permohonan di antara Ki yang diulang-ulangi menjadi litani.

Peziarah wanita Egeria sekitar tahun 380 menceriterakan, bahwa waktu ibadat sore diakon mengucapkan pelbagai intensi doa permohonan. Di dekatnya berdiri sekumpulan anak yang tiap kali berseru kirie’eleison. Tentu Kirie itu adalah Kyrios-Tuhan Yesus, sesuai dengan Rom 10:9.

Di liturgi Roma seruan Kirie’eleison baru mucul pada abad ke-5, tentu baru sesudah tidak lagi ada kaisar kafir. Dulu Ki tidak biasa diucapkan oleh imam melainkan oleh koor dan umat, mungkin karena berlaku imam in persona Christi. Tempat Ki adalah di muka doa pembukaan yang tetap terarah kepada Bapa, sesuai dengan kata Yesus di Yoh 16:23-24. Dalam litani, misalnya litani agung, kirie’eleison diluaskan baik dalam pelbagai soal maupun dengan menyebut para kudus. Dalam liturgi kita ada juga perubahan yakni Christe’eleison atau terjemahan Tuhan, kasihanilah kami.  

Ucapan tiga kali Ki sudah ada sebelum agama Kristen, terdapat juga pengulangan sembilan kali dan lebih. Mulai abad ke-12 seruan Ki tiga kali ditafsirkan sebagai simbol trinitaris. Di liturgi Timur (berbahasa Slavia, Rusia, Bizantin) biasanya dipakai bahasa daerah, misalnya: Gospodi pomilui.


Tengang Alleluya (halelu-jah)

Istilah ini terdiri dari dua bagian: halelu=pujilah (jamak) dan Yah bentuk pendek dari nama Yahweh, seperti dalam banyak nama orang, misalnya Eliyah, Yesayah. Pujilah Yah sering diucapkan awal atau di akhir berbagai mazmur, tetap dalam mazmur pujian. Ternyata mazmur-mazmur itu dulu diiringi dengan refren alleluia. Ada sejumlah mazmur yang disebut Hallel besar dan Hallel kecil. Mazmur-mazmur itu termasuk Malam Seder / Malam Paskah orang Yahudi; dan menghias Ofisi kita hari Minggu.

Sering pujilah Yah digabungkan menjadi satu kata yang merupakan istilah kegembiraan dan kemenangan, dan di agama kita sering tidak diterjemahkan. Juga agama Islam mengenal istilah itu. Sejak abad ke-3 di ofisi dan ekaristi halleluya bersifat paskah, maka di masa prapaskah tidak diucapkan, lain di masa Adven. Dalam PB hanya Kitab Wahyu yang memakai Alleluya sebagai istilah kemenangan.

Di Masa Paskah setiap antifon digabungkan dengan alleluya, sesuai sabda Yesus. Konsili Vatikan II menyatakan kembali hari minggu sebagai kemenangan kebangkitan Kristus dan kita dikenakan dengan hidup baru berkat pembaptisan (SC 106), maka hari Minggu, hari Tuhan, boleh lebih bersifat “paskalis” dari pada dalam masa sebelum konsili. (Lihatlah komunitas Taize pada setiap malam menjelang hari Minggu merayakan sebagai malam Paskah.)

(Disarikan dari tulisan Pater Hadrian Hess, OMFCap)