Tentang Kirie-eleison
Kirie’eleison
(bahasa Indonesia: Tuhan kasihanilah (kami) sudah terdapat di Kitab Suci bahasa
Yunani (Septuginta) dalam berbagai mazmur. Umat Yahudi yang hidup dalam
diaspora dan memakai Septuaginta tersebut sudah terbiasa dengan
Kirie’eleison. Kirie itu untuk mereka Yahwe atau Adonai-Tuhan.
Dalam kehidupan mereka di luar agama Yahudi Kirie’eleison itu
menjadi seruan pemujaan dan sekaligus seruan permohonan kepada dewa dan
imperator (penguasa) seperti kaisar, dan di Roma oleh para budak, digunakan
sebagai salam pagi kepada majikan atau tuan rumah.
Di
agama kristen di sebelah Timur dalam hidup biasa, kemudian juga di liturgi
orang Kristen memakai juga Kirie’eleison, sering diselang-seling
dengan doa permohonan di antara Ki yang diulang-ulangi menjadi litani.
Peziarah
wanita Egeria sekitar tahun 380 menceriterakan, bahwa waktu ibadat sore diakon
mengucapkan pelbagai intensi doa permohonan. Di dekatnya berdiri sekumpulan
anak yang tiap kali berseru kirie’eleison. Tentu Kirie itu
adalah Kyrios-Tuhan Yesus, sesuai dengan Rom 10:9.
Di
liturgi Roma seruan Kirie’eleison baru mucul pada abad ke-5,
tentu baru sesudah tidak lagi ada kaisar kafir. Dulu Ki tidak biasa diucapkan
oleh imam melainkan oleh koor dan umat, mungkin karena berlaku imam in
persona Christi. Tempat Ki adalah di muka doa pembukaan yang tetap terarah
kepada Bapa, sesuai dengan kata Yesus di Yoh 16:23-24. Dalam litani, misalnya
litani agung, kirie’eleison diluaskan baik dalam pelbagai soal
maupun dengan menyebut para kudus. Dalam liturgi kita ada juga perubahan yakni
Christe’eleison atau terjemahan Tuhan, kasihanilah kami.
Ucapan tiga kali Ki sudah ada sebelum agama Kristen, terdapat juga pengulangan sembilan kali dan lebih. Mulai abad ke-12 seruan Ki tiga kali ditafsirkan sebagai simbol trinitaris. Di liturgi Timur (berbahasa Slavia, Rusia, Bizantin) biasanya dipakai bahasa daerah, misalnya: Gospodi pomilui.
Tengang
Alleluya (halelu-jah)
Istilah
ini terdiri dari dua bagian: halelu=pujilah (jamak) dan Yah bentuk pendek dari
nama Yahweh, seperti dalam banyak nama orang, misalnya Eliyah, Yesayah. Pujilah
Yah sering diucapkan awal atau di akhir berbagai mazmur, tetap dalam mazmur
pujian. Ternyata mazmur-mazmur itu dulu diiringi dengan refren alleluia. Ada
sejumlah mazmur yang disebut Hallel besar dan Hallel kecil. Mazmur-mazmur itu
termasuk Malam Seder / Malam Paskah orang Yahudi; dan menghias Ofisi kita hari
Minggu.
Sering pujilah
Yah digabungkan menjadi satu kata yang merupakan istilah kegembiraan
dan kemenangan, dan di agama kita sering tidak diterjemahkan. Juga agama Islam
mengenal istilah itu. Sejak abad ke-3 di ofisi dan ekaristi halleluya bersifat
paskah, maka di masa prapaskah tidak diucapkan, lain di masa Adven. Dalam PB
hanya Kitab Wahyu yang memakai Alleluya sebagai istilah kemenangan.
Di
Masa Paskah setiap antifon digabungkan dengan alleluya, sesuai sabda Yesus.
Konsili Vatikan II menyatakan kembali hari minggu sebagai kemenangan
kebangkitan Kristus dan kita dikenakan dengan hidup baru berkat pembaptisan (SC
106), maka hari Minggu, hari Tuhan, boleh lebih bersifat “paskalis” dari pada
dalam masa sebelum konsili. (Lihatlah komunitas Taize pada setiap malam
menjelang hari Minggu merayakan sebagai malam Paskah.)
(Disarikan
dari tulisan Pater Hadrian Hess, OMFCap)








0 komentar:
Posting Komentar
Tuliskan komentar atau pertanyaan Anda disini