Kata orientasi berasal dari kata Latin “oriens” yang
berarti Timur, tempat terbitnya matahari. Gereja-gereja Katolik awal dibangun
dengan pintu utama di barat dan altar di timur. Menghadap timur memiliki makna
simbolis: 1) Timur melambangkan Kristus sebagai Sol Justitiae - Matahari
Keadilan; 2) arah timur mengingatkan umat pada kebangkitan, karena matahari
terbit di timur; dan 3) Gereja sebagai tempat berharap akan kedatangan Kristus
yang kedua. Meskipun tidak semua gereja modern menghadap ke timur, semangat
orientasi tetap dipertahankan dalam tata liturgi, fokus pada altar sebagai
pusat perayaan Ekaristi.
Setelah Aleksander Agung wafat (323 SM), para Diadokhi
membagikan kerajaannya. Maka bangsa Israel lebih dahulu masuk ke dalam
pemerintah Mesir, kemudian Siria. Raja Siria Antiokhus IV Epifanes bermaksud mewajibkan
kebudayaan Yunani kepada semua bangsa yang direbutnya, termasuk bangsa Yahudi.
Maka terjadi pemberontakan dipimpin oleh imam Matatias beserta ke-5 anaknya,
yang juga disebut kaum Makabe (bdk. 1Mak; 2Mak). Banyak orang Yahudi waktu itu
melarikan diri ke padang gurun, dekat Laut Mati. Dari kalangan mereka timbul
aliran orang Yahudi yang disebut Esseni. Ada sebuah biara mereka dekat Laut
Mati di Qumran.
Pada bulan Desember tahun 167 SM raja Siria, Antiokhus IV
Epifanes menempatkan yang disebut kekejian yang mengerikan (monster
– kemungkinan besar patungnya sendiri) di atas altar bait Allah di Yerusalem.
Sejak itu kaum Esseni di padang gurun tidak lagi bersembah sujud menuju ke
Yerusalem, melainkan ke timur, yakni ke arah terbitnya matahari. Kemudian dalam
perkembangan agama Kristen (Katolik), arah berdoa bukan lagi ke Yerusalem atau
ke Timur melaikan dimana ada salib ditempatkan. Yesus adalah matahari sejati.
Sejak ditemui banyak gulungan kitab di gua-gua dekat Laut
Mati, diakui bahwa spiritualitas kaum Esseni banyak mempengaruhi ajaran
Perjanjian Baru, khususnya semua tulisan yang dikaitkan dengan nama Yohanes.
Injil Yohanes mencatat, bahwa rasul Yohanes dan Andreas pada permulaan menjadi
murid Yohanes Pembaptis sebelum mereka beralih kepada Yesus (Yoh 1:35-42).
Ada kemungkinan besar bahwa Yohanes Pembaptis berhubungan dengan para Esseni. Apakah begitu juga Yesus waktu Dia berada di padang gurun, sulit dibuktikan.
Seorang Yahudi bernama Pinkhas Lapide, ahli untuk Injil, yakin, bahwa terjemahan nama Simon Si Kusta dari naskah Ibrani ke dalam bahasa Yunani (Mk 14:3) adalah terjemahan yang salah. Kata Syim’on ha-zarua (Simon Sikusta) mesti Syim’on ha-zanua (Simon yang suci), nama biasa untuk para Esseni karena memakai pakaian putih tanda kesucian mereka. Lukas meratakan gelar Simon dengan dua orang lain yang mengundang Yesus, dan mengatakan Simon Si Farisi.








0 komentar:
Posting Komentar
Tuliskan komentar atau pertanyaan Anda disini