ia tidak bangun dengan wajah keemasan,
melainkan merah,
seperti mata seorang ibu
yang semalaman menangisi anak-anaknya.
Langit menggantungkan kabut
di atas rumah-rumah yang resah.
Bukan lagi kabut pagi
yang membawa harum tanah dan embun,
melainkan asap dari hutan-hutan
yang kita nyalakan dengan tangan sendiri.
Di kejauhan,
air menggenang di jalan-jalan,
mengetuk pintu,
memasuki rumah-rumah,
menghapus batas halaman dan sungai.
Sungai-sungai pun sedang bingung:
ke mana harus pulang
jika manusia telah mengubah
jalan air menjadi jalan keserakahan?
Lalu bumi menggigil.
Enam gunung di kejauhan
membuka mulutnya bersamaan,
menumpahkan api, batu, dan lahar
seperti ada sesuatu yang hendak dikatakan
dengan bahasa paling tua
yang tidak lagi kita mengerti.
Tetapi manusia tetap menebang.
Satu pohon tumbang,
lalu satu lagi,
lalu hutan kehilangan suara.
Burung-burung terbang
tanpa tahu di mana harus hinggap.
Rusa berlari
tanpa menemukan rimbun untuk bersembunyi.
Monyet memeluk dahan terakhir
seperti seorang anak
memeluk rumahnya yang sedang terbakar.
Di mana mereka akan tidur malam ini?
Mungkin di antara asap.
Mungkin di tepian banjir.
Mungkin di dalam ingatan
orang-orang yang kelak bertanya:
Pernahkah hutan tumbuh di sini?
Dan barangkali, suatu hari nanti,
pertanyaan itu akan berbalik kepada kita:
Pernahkah manusia memiliki rumah di sini?
Sebab bumi tidak pernah benar-benar marah
kepada manusia.
Ia hanya lelah
menanggung luka
yang kita sebut pembangunan,
menanggung kehilangan
yang kita sebut kemajuan,
dan menelan keserakahan
yang kita sebut kebutuhan.
Hari ini,
matahari merah di antara asap,
air meluap dari sungai,
gunung-gunung menggelegar,
hutan-hutan kehilangan tubuhnya,
dan makhluk-makhluk kecil
kehilangan alamat kehidupannya.
Bumi sedang mengirimkan surat terakhirnya
ditulis dengan api di gunung,
dengan air di jalan,
dengan asap di langit,
dengan sunyi di hutan.
Mungkin yang berbeda hari ini
bukan mataharinya.
Bukan langitnya.
Bukan gunungnya.
Kitalah yang seharusnya merasa berbeda.
Sesungguhnya manusia sedang kehilangan
sedikit demi sedikit
tempat untuk pulang.
Dan ketika kelak
anak-anak kita menengadah
ke langit yang merah
dan bertanya,
“Ke mana perginya dunia
yang dulu diceritakan dalam buku-buku?”
Sebab pagi ini,
entah mengapa,
setelah melihat langit, air, api,
dan hutan yang terus kita habisi
hari ini tampak berbeda.













