... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

MAKNA HIDUP MANUSIA

Setiap manusia pasti pernah seperti ini di dalam hatinya; “Untuk apa saya hidup di dunia ini? Sesudah kehidupan ini bagaiaman? Pada dasarnya pertanyaan seperti ini merupakan pertanyaan refleksi pribadi bagi dirinya sendiri untuk menemukan makna dan tujuan hidupnya di dunia. Dengan bertanya tentang tujuan hidupnya, manusia dapat mencari jawaban tentang makna sesungguhnya hidupnya di dunia. Sesungguhnya Tuhan sendiri yang membimbing manusia untuk mencari tujuan akhir hidupnya. Tuhan yang menciptakan manusia, menanamkan juga di dalam hatinya kerinduan untuk kembali kepada-Nya, darimana manusia itu berasal, dan tujuan akhir ke mana ia harus berpulang.

TRIPLE FILTER TEST

Test, test, test!

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seseorang datang kepadanya dan terjadilah percakapan berikut.

Seseorang        :    “Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?”

Socrates          :    “Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan test sederhana. Triple Filter Test!”

Seseorang        :    “Triple Filter Test?”

Socrates          :    Benar. Sebelum kita membicarakan tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat, dan menyaring apa yang Anda katakan. Filter pertama adalah KEBENARAN. Apakah Anda yakin bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?”

Seseorang        :    “Tidak! Sebenarnya saya hanya mendengar tentang hal itu.

Socrates          :    “Baik. Jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang Anda katakan tentang teman saya itu, sesuatu yang baik?”

Seseorang        :    “Tidak, malah sebaliknya.”

Socrates          :    “Jadi, Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin bahwa itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, yaitu filter KEGUNAAN. Apakah yang Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna pada saya?”

Seseorang        :    “Tidak! Sama sekali tidak!”

Socrates          :    “Jadi kalau Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, buruk dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?”

(Kompas, 22 Agustus 2010, hlm. 13

Parodi – A Good Life, by Samuel Mulia)

TUBUH ALAMIAH YANG DITABUR, DIBANGKITKAN TUBUH ROHANIAH

Apa itu kematian?

Sejenak mari kita membaca kutipan ayat Alkitab dari surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus: Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. (lih. 1Kor 15:40-44)

Bertanya tentang apa arti kematian, sebuah jawaban yang sering dilontarkan yakni bahwa kematian adalah suatu keadaan dimana seseorang lupa bernafas. Seperti sebuah lelucon, namun sungguh benar. Karena memang orang yang sudah meninggal dunia tidak lagi bernafas. Jawaban lain yang setinggkat lebih maju adalah suatu keadaan berpisahnya jiwa dan raga. Dan sebagai orang Kristen kita mengatakan bahwa kematian adalah suatu keadaan dimana nafas Allah telah diambil keluar dari tubuh yang fana ini. Nafas yang dulu dihembuskan Allah ke dalam hidung Adam, telah diambil kembali, sehingga tanah akan kembali seperti tanah.

Secara alamiah-manusiawi manusia yang hidup sulit menerima kematian orang terdekat, kekasih atau anggota keluarganya. Hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan kecil: Mengapa? Banyak kenangan, suka duka dan perjuangan yang telah dilalui bersama. Apalagi bila yang meninggal adalah orang yang paling dikasihi atau disayangi. Jangankan meninggal, pergi jauh saja atau pindah domisili di suatu kampung dekat, isak tangis sudah dipastikan mengiringi kepergian orang yang kita kasihi itu.

Karena beratnya menerima kenyataan itu, maka ada orangtua meninggal dunia, bila ada anaknya yang masih kecil, biasanya dikatakan, “ibu (bapamu) hanya tidur yang panjang nak, kita akan bertemu nanti”. Walaupun jawaban itu sebanarnya tidak benar dan itu dilakukan hanya karena anak itu belum mengerti arti sebuah kematian, tetapi memang sungguh benar bahwa ibu (bapa) yang meninggal itu tidaklah meninggal, hanya beristirahat (dalam kubur) untuk dibangkitkan kelak, dan kita pun akan bertemu kelak dalam bumi dan langit yang baru. Bandingkan juga dengan bacaan yang baru saja dibacakan di atas.

Mati dan hidup dalam Kristus

Dulu, setidak-tidaknya pada zaman rasul Paulus, orang-orang sudah bertanya-tanya mengenai apa arti kematian. Apa yang terjadi setelah kematian manusia? Secara gampang rasul Paulus menjawab: “Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri (ayat 35-37).

Oleh karena itu, kita, orang Kristen, tidak perlu menangis, bersedih atau bahkan sampai membunuh diri. Karena kita sungguh mengerti bahwa segala sesuatu yang hidup pasti akan melewati pintu kematian: Contigentia omnia rerum. Karena tidak ada yang kekal di dunia. Tetapi lebih dari itu, sabda Tuhan sudah memberi jaminan bagi kita orang percaya. Di tempat lain dalam kitab suci dikatakan, “Bila kita sudah mati bersama Kritus, kita juga akan bangkit bersama Kristus”.

Mati bersama Kristus artinya kita meninggal dalam kepercayaan akan Kristus, kita sudah menerima pembaptisan dalam Kristus Yesus, selama kita menjalankan hidup kita mengikuti ajaran dan perintah Tuhan Yesus dan lebih dari itu kita mengikuti teladan yang telah diberikan oleh Yesus: merendahkan diri dan berkorban bagi sesame. Bila sudah demikian, kita dapat kuat berharap bahwa kita akan bangkit bersama Kristus, artinya kita masuk sebagai anggota kerajaan Allah, dimana Kristus bertahta.

Untuk kita yang masih hidup, keluarga yang ditinggal, tidak perlu bersedih dan berputus harap, karena orangtua yang meninggal hanyalah mendahului kita, nanti kita akan bertemu dan bersama lagi dalam dunia yang baru menjadi sebuah keluarga. Dan lebih dari itu mari kita menyiapkan diri untuk menghadapi saudara maut itu, supaya kita sungguh pantas bangkit bersama Kristus. Karena kematian itu adalah pintu untuk kehidupan baru!

Kembalilah hai anak-anak manusia!

Kembalilah hai anak-anak manusia!

Selain dalam Mazmur 90:10, dalam kitab Kej 5:1-32 juga dibicarakan tentang umur manusia. Namun dua perikope ini mempunyai perbedaan yang sangat besar. Perbedaan itu sekurang-kurangnya dari segi angka (jumlah) tahun umur manusia. Dalam Mazmur 70 tahun, bila kuat 80 tahun. Sementara dalam perikope Kejadian 5:1-32, kita terheran-heran dan menggeleng-geleng kepala. Mengapa tidak? Karena disana kita membaca ada orang yang umurnya mencapai 969 tahun.

Bisa kita bayangkan apa yang kira-kira akan terjadi bila di zaman kita ini ada orang yang hidup sampai umur 969 tahun. Bisa jadi orang itu bosan hidup, atau ada orang bosan melihat dia. Karena belum sepersepuluh umurnya dia sudah dipensiunkan oleh pemerintah. Saya yakin kalau memang rata-rata orang berumur panjang, seperti ditulis dalam Kejadian 5, pemerintah akan membuat UU baru mengenai kepegawaian: kapan dia pensiun, umur berapa baru bisa diterima jadi pegawai dll.

Atau juga mungkin orang yang sudah berumur 200 tahun baru berkenalan dengan seseorang dan kemudian saling menerimakan sakramen perkawinan. Kalau untuk kita sekarang, jangankan 200 tahun, pada umur 100 tahun pun, tenaga hanya cukup untuk bisa membuka kelopak mata saja, apa lagi untuk melamar seseorang, pasti sudah tidak mungkin.

Kitab Suci Salah?

Kalau begitu, kita pantas mempertanyakan kitab suci. Siapa yang bisa dipercaya, apakah Kejadian atau Mazmur atau justru kenyataan zaman kita: umur rata-rata manusia sekarang 60 tahun. Itu berarti ada tiga versi panjangnya umur manusia.

Umur panjang para nenek moyang yang hidup ratusan tahun bahkan mendekati seribu tahun itu, sudah banyak orang meragukannya dengan mengatakan bahwa tidak mungkin ada orang yang mencapai umur 969 tahun. Atau kemungkinan besar kalender yang mereka pakai waktu itu sangat berbeda dengan kalender yang kita pakai sekarang,dengan kata lain kalender mereka lebih pendek. Untuk mereka yang satu hari bukan 24 jam, mungkin hanya 4 jam saja.

Terlepas dari benar tidaknya ada orang yang mencapai umur 969 tahun, tetapi satu hal yang perlu kita sadari adalah kitab suci bukanlah terutama sebagai buku sejarah, melainkan BUKU IMAN. Itu berarti tidak semua berita atau peristiwa yang tercatat dalam kitab suci dapat dilihat sebagai berita dan peristiwa historis, melainkan harus dilihat sebagai berita dan peristiwa yang maknaniah. Kita harus mampu melihat pesan dan sabda Allah dalam semua berita dan peristiwa itu.

Oleh karena itu, kitab Mazmur dan Kejadian sebenarnya tidak saling bertentangan. Walaupun mereka mencatat angka yang berbeda, tetapi melainkan mereka sama-sama menyampaikan satu hal yang sama, yang tidak berbeda juga dengan kenyataan sekarang.

Mari membaca Mzm 90: 3 disitu dikatakan, “Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”” Jadi satu kata kunci: kembalilah anak-anak Adam! Dari segi bahasa, kata kembalilah, merupakan permintaan tetapi sekaligus perintah. Perintah hanya bisa berasal dari sesuatu yang lebih tinggi dari kita. Maka kata kembalilah, disini adalah perintah yang harus dituruti oleh manusia: Kembalilah! Artinya waktumu sudah selesai, sekarang kembalilah dimana engkau berasal.

Namun dalam Kejadian dikatakan: “Pada umur sekian, si Anu menikah dan memperanakkan Si Ano, Si Anu hidup 500 tahun lagi setelah itu, lalu ia mati. Si A memperanakkan si B dan pada umur sekian memperanakkan anak laki-laki dan perempuan, dan si A hidup 100 tahun lagi, lalu ia mati.” Jadi ada kata kunci: Lalu ia mati. Jadi berapa pun umurnya pada ujungnya mati juga, game is over. Dia mendapat perintah untuk kembali dan perntah itu tak terbantahkan.

Jadi baik Mazmur, baik kejadian maupun kenyataan duania kita sekarang ini, sama-sama mengatakan bahwa semua manusia pada akhirnya mendapat perintah untuk KEMBALI dan dengan perintah kembali itu manusia MATI. Dari tanah kembali ke tanah, dari Allah kembali kepada Allah.

Sikap menghadapi kematian

Kita sebagai orang Krsiten tidak pantas berlarut-larut dalam kesedihan, karena walau bagaimanapun kita menjaga kesehatan, seberapa pun umur kita, pada akhirnya kita akan mati. Dan itu dialami oleh semua manusia, laki-laki atau perempuan. Namun ada satu jaminan bahwa kita akan kembali kepada Dia dan akan menuju kehidupan baru. “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengutus PuteraNya ke dunia ini supaya tidak seorangpun yang binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Jadi kembalilah hai anak manusia ke hidup yang kekal, kembali kepada Allah dari mana engkau berasal.

Memang secara manusiawi wajar bila kita bersedih, apalagi yang meninggal adalah ibu kita, yang membesarkan kita. Kita bersedih karena beberapa alasan:

  • Mengenang masa lalu yang indah, ketika kita disusui, dimanja dll;
  • Mendapat petunjuk dan nasehat demi kebaikan kita;
  • Hal yang paling mendasar, yang membuat kita sedih, kita masih ingin membalas kasih sayang kepada orangtua kita, yang dulu sudah ia berikan kepada kita.

Namun sebagai seorang beriman kristiani, kita tidak boleh lalrut dalam kesedihan, apalagi sampai menyesalinya dengan mengatakan “harumani sa’e, maifu tö na sa mena’ö”. Mengapa?

  • Karena kematian itu merupakan pintu ke kehidupan abadi. Suatu kehidupan baru bersama dengan Allah kita, pencipta kita darimana kita berasal. Tak seorang pun akan bisa masuk ke kehidupan kekal tanpa mati secara badani.
  • Ingat akan kedua kata kuci: Lalu Ia Mati – Kembalilah!

Lagu bagaimana sebaiknya kita bersikap? Sebagai orang beriman tentu kita harus mengikhlaskan ibu kita menerima perintah untuk kembali. Mari kita mendoakannya agar segala dosa dan kesalahannya diampuni oleh Tuhan dan memperhitungkan segala kebaikan hatinya sebagai sesuatu yang meringankan hukuman akibat luka-luka dosa itu. Tetapi yang paling penting adalah menyadari kematian kita sendiri dan menghitung-hitung tahun kehidupan kita, dan mengisi sisa umur itu untuk berbuat sesuatu yang lebih baik.

Untuk menutup renungan ini saya akan menceritakan sebuah cerita: Diceriterakan di sebuah kampung, ada seorang ibu paruh baya yang ditinggal mati oleh suami tercinta. Saking cintanya kepada suminya, sang istri ini mengawetkan jenazah suamiya dan menggantungkannya di langit-langit kamar tidur mereka dan setiap hari menangisinya. Namun beberapa waktu kemudian dia mendengar bahwa ada seorang bijak sekaligus sakti yang mampu menghidupkan orang mati.

Karena cinta akan suami, sang istri bangkit dengan penuh semangat menemui sibijak-sakti itu. Tanpa basa-basi sang istri bertanya, “Saya dengar bapak bisa menghidupkan orang mati, tolonglah hidupkan kembali suami saya.” Si bijak-sakti menjawab, “Itu memang benar dan menghidupkan suamimu juga merupakan hal yang gampang. Tetapi ada ramuannnya”. Dengan tidak sabar istri langsung menyela, “Apa ramuannya pak?” Si bijak-sakti menjawab, “Gampang saja, cuma bawang merah dan bawang putih dan merica dari dapur orang lain yang tidak pernah ada anggota keluarganya yang meninggal.” Dengan semangatnya istri itu mengatakan: “Saya akan segera membawakannya”. Namun dari pintu ke pintu rumah tetangga, dari kampung yang satu ke kampung yang lain, istri memang mendapatkannya, tetapi tidak bisa diambil sebgai ramuan karena mereka semua mengaku bahwa pernah ada anggota keluarga yang meninggal. Dalam kekecewaan, si istri sampai pada kesadaran bahwa bukan hanya dia yang mengalami kematian semacam ini, semua orang, semua keluarga. Maka dia segera pulang dan menguburkan suaminya.

Bapak/Ibu/Sdra/sdri, kita semua adalah manusia yang berasal dari debu dan akan kembali kepada debu dan Tuhan akan memberi perintah yang sama pada waktunya: Kembalilah anak-anak adam!. Mari kita menyiapkan diri untuk menerima dan menjalankan perintah itu. Amin

NERAKA: ASAL KATA DAN MAKNANYA

Kata neraka bukanlah suatu kata asing di telinga kita. Mendengar “neraka”, dengan segera otak kita memberi gambaran tentang api yang sangat besar, membara, panas dan memusnahkan segala yang ada di dalamnya, bahkan yang ada di dekatnya sekali pun akan terpanggang oleh panas baranya. Lebih mengerikan dari api yang membakar kota Gunugsitoli waktu gempa bumi, atau dari api yang membakar pipa minyak di Irak beberapa tahun yang lalu. Para seniman juga telah menempuh berbagai cara untuk menggambarkan kedasyatan api neraka itu dengan berbagai lukisan juga dengan sastra. 

Ada berbagai pandangan mengenai neraka. Ada yang berpandangan bahwa Allah dengan sangat mudah melemparkan orang-orang berdosa ke dalam neraka. Ada juga yang percaya bahwa dalam nerakalah orang-orang jahat disiksa untuk selama-lamanya dengan api, namun mereka tidak mati agar mereka tetap merasakan siksaan api neraka itu. Ada lagi yang berpandangan bahwa neraka adalah tempat dihancurkannya para pendosa secara tuntas sampai abu pun tak tersisa.

Dalam Kitab Suci (Alkitab) bahasa Indonesia kerap kali kita menjumpai istilah ini, walaupun sebenarnya dalam teks aslinya tidak pernah menggunakan istilah neraka. Dalam Kitab Suci bahasa Indonesia, neraka digunakan sebagai terjemahan kata gehenna, sheol atau hades dan tartaros. Keempat istilah (gehenna-sheol-hades-tartaros) haruslah dibedakan dengan neraka yang seringkali dianggap sama. Memang dalam bahasa Indonesia keempat istilah itu diterjemahkan dalam satu kata, yaitu neraka. Berikut kita akan melihat satu per satu.

1.  Gehenna

Gehenna mempunyai arti yang harafiah, yaitu lembah yang terletak di sebelah Barat Daya kota Yerusalem. Daerah itu disebut sebagai lembah Henom (dalam bahasa Ibrani disebut gè-Hinnòm atau Ben-Hinom; dalam bahasa Yunani disebut gehenna). Lembah ini terkutuk dan dikenal sebagai tempat dilakukannya semua hal-hal yang keji dan najis. Seperti pada zaman nabi Yeremia, ada banyak anak dari orang Israel dibakar hidup-hidup sebagai korban kepada dewa kafir, sehingga akhirnya menjadi tempat pembakaran mayat dan sampah. Di tempat ini juga dipraktekkan ilmu-ilmu sihir, ilmu-ilmu gaib serta pedukunan. Dalam injil Yesus sering menggunakan kata ini untuk menunjukan tempat sekaligus sebagai upah orang berdosa, misalnya Markus 9:43 ” … lebih baik bagimu untuk masuk ke dalam hidup tanpa tangan daripada dua tangan masuk ke dalam gehenna (=neraka), api yang tak terpadamkan”.

 

Seperti kita tahu bahwa tempat pembuangan sampah : Bau busuk, berasap, tempat membusuknya segala sesuatu dimakan ngengat, dan api yang tak pernah padam . Di tempat inilah terjadi kebusukan dan kehancuran.

 

2.  Sheol atau Hades

 

Dalam Septuaginta (terjemahan pertama Alkitab dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani), sheol dalam bahasa Ibrani biasanya diterjemahkan menjadi hades dalam bahasa Yunani. Shoel atau hades mempunyai arti yang sangat umum, yaitu kematian, keadaan kematian, kubur, wilayah kematian dan kuburan, tempat di mana semua manusia akan pergi sesudah mati. Istilah ini tidaklah menggambarkan dan tidak mengandung ide api, atau siksaan, melainkan hanyalah kematian, tempat tinggal orang mati, yang baik maupun yang jahat. Kiranya sepadan dengan sebutan orang Nias terhadap “banua niha tou” (=kampung/dunia orang bawah). Kemudian sejalan dengan berlalunya waktu istilah ini mengalami pergeseran arti, yakni nama yang diberikan oleh orang Israel terhadap kediaman orang mati, yang mana tempat ini dibayangkan gelap dan orang mati tampak seperti bayangan yang dilupakan oleh Allah dan tanpa harapan.

Menurut pandangan Gereja Katolik, sheol dan Hades kiranya bukan tempat kediaman orang mati yang tanpa harapan lagi seperti pandangan orang Israel, melainkan terlebih dilihat sebagai tempat penantian sebelum seseorang dibangkitkan oleh Allah.

3.  Tartaros

 

Tartaros adalah bahasa Yunani (=tartarum dalam bahasa Latin) artinya liang yang gelap, tempat pembuangan bagi malaikat jahat/pemberontak, dan kita kurang tahu di mana persisnya tempat itu, apakah ada di angkasa raya, atau seputar bumi ini atau di mana. Yang jelas tempat itu adalah tempat para malaikat pemberontak dibuang sampai hari pengadilan. Istilah ini dikhususkan untuk malaikat dan tidak menyangkut nasib manusia yang tak mau membuka hati untuk menerima keselamatan dari Allah (bdk. 2 Petrus 2:4; Yudas ayat 6).

 

4.  Neraka

 

Kata neraka berasal dari pemahaman orang Yahudi mengenai Gehenna. Neraka adalah sebuah kata yang melukiskan nasib para pendosa yang selama hidupnya menentang Allah dan melanggar perintah-perintahNya, dan bukanlah sebagai suatu tempat. Nasib itu diperkenalkan secara menakutkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dengan bantuan berbagai mitologi, seperti: jurang maut, kegelapan luar, lautan api, dapur api, api yang tak terpadamkan, api kekal, hukuman kekal, kebinasaan, kehancuran, tempat tangisan dan kertakan gigi, kuasa kematian. Semua ungkapan ini bertujuan untuk menyatakan secara imajinatif bahwa pendosa akhirnya terpisah dari Allah, artinya ia akan disingkirkan dari sumber kehidupan dan kebahagiaan.

 

Dengan banyaknya jumlah sebutan ini, adalah merupakan gambaran betapa kayanya bahasa sekitar “neraka”, sekaligus menggambarkan betapa miskinnya bahasa umat manusia sehingga hampir tidak mampu mengungkapkan atau menggambarkan nasib para pendosa yang tidak membuka hati terhadap belaskasih dan kerahiman Allah. Oleh karena itu, untuk menerangkan kepada manusia sekarang akibat dari perbuatan jahat yang dilakukannya (kelak), yang sekaligus sebagai hukuman, digambarkanlah sebagai gehenna, dimana tempat itu telah diketahui dengan jelas (pada masa itu) bahwa: Di sana tidak ada kehidupan dan kebahagiaan, semuanya akan mati dan hancur.

 

Sekarang timbul pertanyaan: Bagaimana bisa diperdamaikan gambaran Alkitab mengenai neraka dengan kerahiman dan keadilan Allah? Hal ini tidaklah begitu sulit dimengerti apabila kita mengingat tiga fakta ini:

  1. Allah tidak menentukan seseorang masuk neraka secara sewenang-wenang. Surga dan neraka dapat diibaratkan dengan dua buah pintu yang bebas untuk dipilih. Allah tidak pernah menutup pintu surga kepada siapapun. Ia ingin semua manusia ciptaan tanganNya selamat, dan telah membuka jalan untuk itu. Tetapi ada banyak yang menutup pintu surga bagi diri mereka sendiri, dengan cara memilih kejahatan terus-menerus dan sedikitpun tak mau mendengar bisikan hati nurani mereka. Mereka sendiri menolak untuk masuk ke dalam kehidupan dan kebahagiaan bersama Allah. Jadi, kita sendirilah yang menentukan masuk surga atau neraka. Jika mau masuk surga, jauhilah kejahatan dan turutilah kehendak Tuhan. Jika memilih neraka lakukanlah sebaliknya. Allah sangat rindu dan menginginkan semua orang selamat. Bukankah Ia yang menciptakan mereka? Apakah Dia begitu saja membiarkan seorang jatuh binasa? Tidak . Namun karena kita tetap menutup diri untuk itu, Dia bukanlah Allah yang otoriter, Dia tidak mau mencabut kebebasan kita yang telah diberikanNya.
  2. Orang jahat tidak akan merasa bahagia dalam alam semesta yang bersih dan bebas dosa, sama seperti cacing yang terkena sinar matahari, karena memang dia bukan bagian dari itu. Pemikiran orang jahat, keinginannya, motivasinya, akan menjadi hal yang asing bagi surga. Walaupun orang jahat diperbolehkan masuk surga, toh baginya menjadi siksaan (bdk. Amsal 8:36; Why 22:11; 2 Pet 2:22). Ia senantiasa ingin pergi, lari dan bersembunyi dari Dia yang menjadi terang dan sumber dari segala hal yang berlawanan dengan kejahatan itu.
  3. Hilangnya karunia hidup bagi orang jahat adalah berdasarkan kasih Allah pada alam semesta secara keseluruhan. Di hadapan Allah, kejahatan dan sejenisnya tidak dapat bertahan. Sehingga terkesan, dengan sangat aktif Allah harus mengamankan kebahagiaan dan kesejahteraan alam semesta ini seperti seorang dokter ahli bedah yang memotong anggota badan yang sakit atau sudah keracunan dan tak dapat disembuhkan lagi, untuk menjaga supaya anggota tubuh lainnya tidak terkena infeksi, dan akhirnya menghancurkan anggota tubuh seluruhnya. Allah tidaklah adil atau mengasihi jika Ia membiarkan penyakit kanker kejahatan terus bertumbuh dan menyebarkan pencemaran untuk selamanya, sama seperti seorang dokter yang membiarkan kaki atau jari yang terkena penyakit kanker ganas. Ada saatnya Allah berkata “tidak lagi! – Cukup! – Aku muak!” untuk segala kejahatan.

Sekarang menjadi jelas, bahwa neraka adalah lawan dari surga, lawan dari kehidupan dan kebahagiaan. Neraka adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketidakbahagiaan, kehancuran dan kemusnahan total, sebagai akibat keterpisahan dari Allah, sumber kehidupan dan kebahagiaan.
Jika neraka bukanlah terutama dilihat sebagai suatu tempat, melainkan sebagai suatu situasi keterpisahan secara total dari Allah, sebagai sumber kehidupan dan kebahagiaan, apakah neraka memang tidaklah ada? Apakah neraka itu baru ada setelah kematian tubuh yang fana ini? Atau sangat dekat dengan kita?
Neraka sangat dekat dengan kehidupan nyata kita setiap hari dan senantiasa sabar menantikan orang yang akan mendiaminya. Hampir setiap hari kita mengucapkan “neraka” dengan keras bila keluarga kita sedang tidak harmonis, anak tidak mau menurut didikan kita, atau kita sedang dalam kesulitan untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Spontan kita berkata “neraka!” untuk memecahkan kebuntuan pikiran atau untuk mengeluarkan emosi yang tak dapat dibendung lagi. Pada saat itu, hati kita panas, tekanan darah kita naik dan urat-urat saraf kita menegang, seperti mau pecah rasanya. Kita tidak merasa nyaman. Dan cara yang paling ampuh untuk keluar dari situasi itu adalah berteriak, atau menangis. Bagi sebagian orang menempuh cara yang brutal, misalnya: memukuli orang, memecahkan peralatan rumah tangga, memaki, dan sebagainya. Maka ungkapan “jangan sering marah cepat tua” bukan saja hanya dapat dibenarkan melainkah harus diubah menjadi “jangan sering marah nati cepat meninggal”, bila urat saraf sering tegang, akhirnya menjadi pecah dan stroke.

Itu barulah neraka kecil, yang menggambarkan ketidakbahagian yang mungkin juga dengan segera akan berakhir. Tetapi harus diingat, bahwa hal itu sekaligus merupakan gambaran atau bayangan yang samar-samar terhadap neraka sesungguhnya; keterpisahan total dari Allah. Kalau dengan neraka kecil-kecilan saja kita sudah mengeluh dan mau mati rasanya, mengapa kita tidak mau percaya akan adanya neraka yang lebih dahsyat bila kita tetap bertegar hati dan menutup diri terhadap belaskasih kerahiman Allah? Kita memilih yang mana?