... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

ORIENTASI PERTAMA

Memasuki bulan Desember, selain Mada Adven dan Natal, kita ingat akan satu hal yang amat penting dalam Gereja Katolik yakni orintasi pertama. Orientasi yang dimaksudkan di sini adalah orientasi dalam hal liturgi dan arsitektur. Mengapa di Desember? Karena menurut catatan historis yang ada pada bulan inilah aturan mengenai bangunan dan orang yang berdoa harus mengarah ke Yerusalem diubah menjadi ke Timur.

Kata orientasi berasal dari kata Latin “oriens” yang berarti Timur, tempat terbitnya matahari. Gereja-gereja Katolik awal dibangun dengan pintu utama di barat dan altar di timur. Menghadap timur memiliki makna simbolis: 1) Timur melambangkan Kristus sebagai Sol Justitiae - Matahari Keadilan; 2) arah timur mengingatkan umat pada kebangkitan, karena matahari terbit di timur; dan 3) Gereja sebagai tempat berharap akan kedatangan Kristus yang kedua. Meskipun tidak semua gereja modern menghadap ke timur, semangat orientasi tetap dipertahankan dalam tata liturgi, fokus pada altar sebagai pusat perayaan Ekaristi.

Setelah Aleksander Agung wafat (323 SM), para Diadokhi membagikan kerajaannya. Maka bangsa Israel lebih dahulu masuk ke dalam pemerintah Mesir, kemudian Siria. Raja Siria Antiokhus IV Epifanes bermaksud mewajibkan kebudayaan Yunani kepada semua bangsa yang direbutnya, termasuk bangsa Yahudi. Maka terjadi pemberontakan dipimpin oleh imam Matatias beserta ke-5 anaknya, yang juga disebut kaum Makabe (bdk. 1Mak; 2Mak). Banyak orang Yahudi waktu itu melarikan diri ke padang gurun, dekat Laut Mati. Dari kalangan mereka timbul aliran orang Yahudi yang disebut Esseni. Ada sebuah biara mereka dekat Laut Mati di Qumran.

Pada bulan Desember tahun 167 SM raja Siria, Antiokhus IV Epifanes menempatkan yang disebut kekejian yang mengerikan (monster – kemungkinan besar patungnya sendiri) di atas altar bait Allah di Yerusalem. Sejak itu kaum Esseni di padang gurun tidak lagi bersembah sujud menuju ke Yerusalem, melainkan ke timur, yakni ke arah terbitnya matahari. Kemudian dalam perkembangan agama Kristen (Katolik), arah berdoa bukan lagi ke Yerusalem atau ke Timur melaikan dimana ada salib ditempatkan. Yesus adalah matahari sejati.

Sejak ditemui banyak gulungan kitab di gua-gua dekat Laut Mati, diakui bahwa spiritualitas kaum Esseni banyak mempengaruhi ajaran Perjanjian Baru, khususnya semua tulisan yang dikaitkan dengan nama Yohanes. Injil Yohanes mencatat, bahwa rasul Yohanes dan Andreas pada permulaan menjadi murid Yohanes Pembaptis sebelum mereka beralih kepada Yesus (Yoh 1:35-42).

Ada kemungkinan besar bahwa Yohanes Pembaptis berhubungan dengan para Esseni. Apakah begitu juga Yesus waktu Dia berada di padang gurun, sulit dibuktikan.

Seorang Yahudi bernama Pinkhas Lapide, ahli untuk Injil, yakin, bahwa terjemahan nama Simon Si Kusta dari naskah Ibrani ke dalam bahasa Yunani (Mk 14:3) adalah terjemahan yang salah. Kata Syim’on ha-zarua (Simon Sikusta) mesti Syim’on ha-zanua (Simon yang suci), nama biasa untuk para Esseni karena memakai pakaian putih tanda kesucian mereka. Lukas meratakan gelar Simon dengan dua orang lain yang mengundang Yesus, dan mengatakan Simon Si Farisi.

ASAL USUL KALENDER

Penanggalan atau Kalender yang kita pakai sekarang disebut Kalender Gregorian dan didasarkan atas tahun solar. Apa arti kata-kata asing itu? Lewat tulisan ini saya mencoba menguraikan dengan singkat, padat dan mudah-mudahan jelas.

Tiga ukuran waktu

Sejak awal mula manusia tidak hanya mencoba menguasai dunia, melainkan juga waktu. Ukuran apa yang bisa dipakai untuk penguasaan itu? Ada tiga kejadian di alam yang menolong mengukur waktu:

  1. Perputaran atau rotasi bumi mengelilingi porosnya.
  2. Peredaran bulan mengelilingi bumi atau dikenal dengan revolusi bulan.
  3. Peredaran bumi mengelilingi matahari atau dikenal dengan revolusi bumi.

Perputaran bumi

Perputaran bumi sekali mengelilingi porosnya kita menyebutnya satu hari, dan kita membagi dua: siang dan malam hari, tergantung apakah bumi menghadap matahari atau membelakanginya. Jangka waktu rotasi itu kini dibagikan menjadi 24 bagian yang sama panjangnya, terlepas dari panjangnya malam dan siang, dan kita sebut 24 jam.

Kita mesti tahu, bahwa di daerah tropis siang dan malam hampir tetap sama panjangnya. Beda halnya di belahan bumi utara: di situ hari siang, mulai dari ± 20 Maret, makin menjadi lebih panjang, sampai berpuncak pada tanggal 21 Juni, dan malam hari, mulai dengan 22 September, menjadi lebih panjang, sampai berpuncak pada 21 Desember. Dan ada dua tanggal, di mana siang dan malam sama panjangnya yaitu ± 20 maret dan 22 September dan disebut Ekuinoks I/II.

Bahkan di kutub utara untuk 3 bulan lamanya matahari tidak terbit dan 3 bulan tidak terbenam. Di belahan bumi Selatan (Amerika Selatan, Afrika Selatan, Australia dst) terjadi sebaliknya. Orang Romawi (dan juga Perjanjian Baru) telah membagikan hari siang menjadi 12 jam, mulai dengan terbitnya matahari sampai terbenamnya, dan 4 ronda malam waktu musim dingin dan 3 ronda malam (lih. Luk 12,38) waktu musim panas. Jam-jam tidak sama panjang. Dan sesuai dengan tempat matahari mudah bisa ditaksirkan, hanya dihitung jam satu (hora prima), jam tiga (hora tertia, pukul 9 Wib), jam 6 (hora sexta, siang) jam 9 (hora nona jam 3 sore; dari situ “afternoon”) dan jam 12 (terbenam matahari). Ke lima waktu (hora) itu merupakan juga lima waktu berdoa (ofisi) dan digabungkan dengan peristiwa-peristiwa keselamatan (lht. Mat 20:3-6, Kis 2 :15; 3:1:10:3.9).

B u l a n

Bulan, satelit bumi yang setia, dalam jangka 29,5 (persis 29, 530589) hari sekali hilang, sekali nampak penuh (purnama, tuli, te’o) alias mengelilingi bumi, sehingga bila dia berada di antara bumi dan matahari, kita melihat punggungnya yang gelap, dan bila dia di jauh matahari, alias di belakang bumi, kita melihatnya penuh disinari matahari. Di antaranya ada fase tumbuh (tesa’a = Nias) dan fase surut (akhömita = Nias) sampai lagi “bulan gelap” (fasulöta/fasulöna). Untuk masa pendek baik dulu dan masih sampai sekarang peredaran bulan dipakai sebagai ukuran waktu.

B u m i

Bumi mengelilingi matahari dalam jangka 365 (persisnya 365, 24219879) hari. Dan ini disebut tahun tropis atau tahun solar (dari sol-matahari). Dan ini kita sebut 1 tahun. Karena dalam jangka waktu itu juga suatu bintang tertentu muncul kembali di tempat yang sama pada waktu yang sama, maka orang Nias menyebut tahun döfi. Karena poros bumi condong 23º 27 (alias miring), maka terjadilah musim-musim: di daerah tropis: musim kemarau dan musim hujan, di daerah lain: musim dingin, semi, panas dan gugur; dan ada waktu matahari naik ke atas dan waktu matahari tinggal di dekat horizon. (Bahwa poros bumi miring, kita bisa melihat, di mana matahari bisa terbit pada hari Natal (25 Desember) dan pada tanggal 24 Juni (kelahiran St. Yohanes), selisih juga 23 derajat.

Dan kita mesti tahu, bahwa tumbuhan tanaman beserta panen sangat erat terikat dengan musim-musim. Mulai dengan musim dingin sampai musim panas (lebih 6 bulan lamanya) bumi tidak menghasilkan sesuatu, sehingga sebelum musim dingin mulai segala makanan baik untuk manusia maupun untuk hewan untuk lebih 6 bulan harus disiapkan di rumah. Burung-burung berpindah ribuan kilometer ke daerah tropis, dan banyak jenis binatang tidur saja di bawah tanah; ikan dan kodok dsb. di lumpur sungai. Maka masyarakat terpaksa memperhitungkan tahun solar dengan ke-4 musim.

Kedua angka di atas,peredaran bulan dengan 29, 530589 hari dan peredaran bumi dengan 365, 24219879 tidak bisa diperdamaikan. Maka umat manusia mesti memutuskan, apakah kalender didasarkan atas tahun lunar (luna=bulan) atau solar (sol= surya, matahari). Agama Islam telah memilih tahun lunar murni, berarti menghitung bulan dengan 29 atau 30 dan satu tahun 12 bulan) dengan 354 atau 355 hari. Berarti hari raya Islam dan bulan puasa setiap tahun maju 10 atau 11 hari. Tahun Ibrani (Perjanjian Lama) mengombinasikan tahun lunar dengan tahun solar, tetapi mengutamakan tahun solar dengan memperhatikan ekuinoks. Kini kita menggunakan tahun solar murni. Yang kini disebut bulan adalah bulan abstrak, berarti terlepas dari peredaran bulan di langit.

Tahun Solar

Mesir kuno adalah negara yang paling dini memilih tahun solar murni untuk menghitung waktu. Tidak diketahui mulai sekak kapan, tetapi pada waktu tahun 238 SM dalam maklumat dari Kanopis, raja Mesir (Firaun) Ptolemeus III, juga disebut Euergetes, menetapkan bahwa setiap tahun mempunyai 365 hari, dan setiap tahun ke-4 366 hari. Tahun dengan 366 hari kini kita sebut tahun kabisat (bila angka bisa dibagikan dengan 4). Berarti peredaran bumi dihitung dengan 365,25 hari. Dan ini cukup dekat dengan angka benar di atas.

Dalam perhitungan itu, Ptolemeus ditolong dengan terbitnya bintang Sirius (di rasi bintang Anjing dekat Orion) setiap tahun pada tanggal yang sama di ufuk langit. Dan terbitnya itu bertepatan dengan permulaan banjir sungai Nil di musim semi. Nil begitu banyak membawa lumpur dan lumpur itu berarti kesuburan dan berkat. Mengetahui kapan mulai banjir itu sangat penting untuk orang Mesir. Sebagai informasi Sirius dihormati sebagai dewa Sothis.

Mesir kuno juga sudah mempunyai sistem minggu dengan enam hari kerja dan satu hari istirahat atau hari pantang. Dari situ mungkin Israel membawanya ke Palestina, dipimpin oleh Musa (sekitar 1300 SM) dan menggabungkannya dengan agama Israel.

Tahun Solar di Roma

Kalender Mesir itu yang begitu pas, ditemui oleh Gayus Julius Caesar, panglima dan penguasa Roma (100 – 44 SM), ketika dia mengunjungi Kleopatra, ratu Mesir, dan dibawanya ke Roma. Di kerajaan Roma waktu itu kalender sangat kacau, sehingga masyarakat menderita (tentang pajak, waktu dinas, pesta, dll). Caesar dalam hal ini ditolong oleh Sosigenes, matematikus dan ahli bintang Yunani, dari universitas di Aleksandria, Afrika Utara. Revisi kalender Roma terjadi tahun 46 SM.

Selain mengambil alih kalender solar dari Mesir, Caesar menetapkan, 1 Januari menjadi permulaan tahun (sebelumnya dipertengahan bulan maret). Dan supaya permulaan tahun solar sesuai dengan 1 Januari itu, tahun 46 itu berlangsung 445 hari, tahun terpanjang di sejarah umat manusia. Kalender itu disebut kalender Julian untuk menghormati Julius Caesar, dan juga bulan ke-7 disebut menurut dia.

Caesar pada tahun 44 dibunuh. Penggantinya, Kaisar Oktavianus Agustus (44 SM-14 M), memperbaiki hal-hal kecil. Sejak beliau didewakan oleh senatus Roma (DPR), bulan ke-8 disebut menurut dia. Karena bulan Agustus waktu itu hanya mempunyai 30 hari, maka “dicuri” satu hari di bulan Februari dan ditambah di bulan Agustus, karena dianggap tidak layak bulan Agustus lebih pendek dari pada bulan-7 yang disebut menurut Julius Caesar, karena Caesar hanya panglima dan bukan kaisar.

Revisi kalender oleh Paus Gregorius XIII

Umat Kristen sejak awal mula mengikuti kalender solar Romawi. Namun perayaan Paska masih tetap terikat dengan tahun lunar-solar Ibrani, disebabkan oleh Kel 12:3 di mana Paska ditetapkan pada malam 14/15 Nisan (bulan purnama sesudah Ekuinoks I). Tetapi umat Kristen harus juga memperhatikan Yoh 20:1 dan ketiga Injil lainnya, yaitu hari pertama, yaitu hari Minggu, dalam konteks Paskah. Karena sebagian umat merayakan Paskah pada tanggal bulan purnama (seperti orang Yahudi) dan sebagian pada hari Minggu sesudahnya (sesuai dengan Injil), maka konsili Nicea tahun 325 M menetapkan: Paskah tetap dirayakan pada Hari Minggu sesudah bulan purnama sesudah ekuinoks I (21 Maret dulu). Maka hari Paskah bisa bergeser lebih satu bulan, di antara 22 Maret s/d 25 April). Dengan hari Paskah bergeser juga masa Prapaska dan masa Paskah, dengan Kenaikan Tuhan dan Pentakosta, serta HR Tritunggal, Tubuh dan Darah Kristus, Hati Kudus Yesus (dan peringatan Hati Tak Bernoda S.P.Maria).

Sekitar tahun 1580 Paus Gregorius XIII tidak lagi bisa tidur dengan tenang, karena ketika beliau berdoa di kapel Sixtina pada hari raya Paskah, mata beliau sendiri bisa menyaksikan, bahwa matahari sudah terlalu tinggi dari pada diizinkan oleh konsili Nicea. Apa yang telah terjadi?

Tahun Julian sudah terlambat 10 hari dari tahun solar yang benar, sehingga ketetapan Konsili Nicea (dan Kitab Suci) tidak lagi bisa diindahkan. Selisih itu terjadi karena tahun Julian masih kurang teliti.

Tahun Julian, seperti juga tahun Mesir, menghitung 365,25 hari, tetapi semestinya hanya 365, 2422 (lihat di atas). Perbedaan angka di belakang koma itu dalam jangka 128 tahun menjadi 1 hari, dan dalam abad Paus Gregorius sudah menjadi 10 hari. Maka Paus mengundang para ahli astronomi yang paling unggul ke Roma untuk berunding. Sesuai dengan nasehat mereka Paus pada tanggal 24 Februari 1582 dengan bulla Intergravissimis menetapkan (sebenarnya hanya untuk liturgi):

  1. Pada tanggal 4 Oktober nanti kalender melompat langsung ke tanggal 15 Oktober.
  2. Semua tahun abadiah (1700, 1800, 1900 dst) tidak menjadi tahun kabisat, seperti lazim sampai sekarang, kecuali bisa dibagikan dengan 400. Berarti tahun 1600, 2000, 2400 tetap tahun kabisat.

Kalender ini baru sesudah 3300 tahun akan lari satu hari dari tahun solar benar, sedangkan kalender Julian kini sudah 14 hari (lebih) terlambat. Nah, kalender ini disebut kalender Gregorian dan merupakan Kalender Julian dan Mesir yang disempurnakan.

Nasib Kalender Gregorian

Revisi kalender itu pada permulaan tidak diterima dengan antusias, karena makhluk manusia dalam prinsip malas dan banyak orang menghafal hari peringatan lama. Apalagi negara yang protestan dan agama lain menganggap kalender itu sebagai kalender paus. “Bagaimana mungkin kita tunduk kepada Paus?” mereka bilang. Namun ahli pelbagai ilmu lambat laun bisa meyakinkan negara-negara non-katolik, bahwa kalender Gregorian “benar” (sesuai dengan tahun solar).

Italia, Spanyol, Perancis, Portugal, Luxemburg dan Polandia (negara katolik) langsung taat. Austria, Swiss dan Bayern ikut tahun berikut. Hunggaria 1587, Jerman (protestan) baru 1700; Inggris dengan antek-anteknya (Negara Persemakmuran) ikut tahun 1752, Finlandia, Denmark dan Swedia tahun berikut; Jepang 1873; China 1911; Rusia 1918 (sesudah revolusi komunis); Yunani 1924; Turki 1926; Mesir 1928. (Indonesia tidak diketahui.)

Di dalam hidup sipil praktis seluruh dunia kini memakai Kalender Gregorian. Jepang dan China dalam kebudayaan mempunyai kalender tersendiri yang sangat kuno, tetapi karena ingin menggabungkan diri dengan dunia lain, terpaksa ikut juga Kalender Gregorian. Demikian juga negara-negara Islam untuk agama Islam tetap mempertahankan kalender lunar murni. Gereja orthodoks masih mempertahankan Kalender Julian.

Karena di banyak negera Paskah dan Pentakosta merupakan libur sekolah dan digabungkan dengan perayaan Karnaval dll., maka Konsili Vatikan II menerangkan bahwa Gereja Katolik tidak keberatan, bila termin Paskah diikat (misalnya hari Minggu pertama dalam bulan April) atau dilaksanakan revisi kalender, asal semua golongan yang merayakan Paskah setuju, asal sistem dengan 7 hari satu minggu tidak disentuh dan Paskah tetap dirayakan pada hari Minggu (SC Apendiks).

  1. Januari dari dewa Yanus, dewa permulaan, pembukaan (digambar dengan dua wajah).
  2. Februari dari febrii=upacara-upacara silih dosa, dilaksanakan di Roma pada akhir tahun lama. Februati memang kalender lama bulan terakhir dan mengumpulkan hari-hari sisa dan kadang-kandang ditambah hari-hari kelebihan (kabisat).
  3. Maret dari dewa perang Mars, anak Yupiter, ayah Romulus, pendiri kota Roma (thn 753 SM)
  4. April dari aperire = membuka. Permulaan tahun lama jatuh kadang-kadang bulan Maret atau April.
  5. Mei dari Mayus, Mayor = Agung, atribut untuk Yupiter, dewa tertinggi di Roma, dewa kesuburan. (Bulan Mei merupakan permulaan tumbuhan dan musim bunga).
  6. Juni dari Yuno, isteri Yupiter, dewi perkawinan.
  7. Juli dari Gayus Julius Caesar, bapak kalender Julian, penguasa Roma (100-44 SM), panglima jaya.
  8. Agustus dari Oktavianus Augustus, kaisar pertama di kerajaan Roma (27 SM – 14 M). Di bawah pemerintahan Augustuslah Yesus lahir.
  9. September dari Septem = sapta, tujuh; berarti bulan ke-7 (perhitungan lama, sebelum kalender Julian).
  10. Oktober dari okto = delapan.
  11. November dari novem = sembilan.
  12. Desember dari decem = sepuluh.

Kalender dari Kalendae (bah. Latin) = awal bulan (dari calare=berseru; to call) Sub imam Agung (pontifex minor) setiap awal bulan 5 sampai 7 kali berseru, bahwa bulan baru mulai (dan orang harus membayar gaji dan pajak).

Tahun 2000 (gregorian) adalah tahun 5761 orang Yahudi (sejak penciptaan dunia) tahun 1421 orang Islam (sejak hijrah) tahun 7509 dari era byzantin (sejak penciptaan dunia) tahun 2660 era kebudayaan Jepang tahun 1717 era Diokletianus atau era para martir

Beberapa abad lamanya Gereja menghitung menurut era terakhir ini, yang mulai dengan penobatan Kaisar Diokletianus (284 M). Di antara semua kaisar Romawi Diokletianus merupakan penganiaya Gereja yang paling kejam. Karena itu juga, era itu disebut era para martir. Rahib Dionisius Exiguus dari Siria-Palestina yang sekitar tahun 500 M berkarya di Roma dia menganggap baik, bila waktu tidak dihitung menurut penganiaya yang kejam itu, melainkan menurut Sang Penebus dunia. Maka atas dorongan paus, dia menghitung-hitung waktu Yesus lahir di Betlehem. Sejak itu Gereja kenal era kristiani, yaitu bahwa kita menghitung tahun SM dan M (sebelum Masehi/Mesias dan sesudahnya). Namun kita kini tahu, bahwa hasil Dionisius Exiguus meleset dari kebenaran historis, 4 atau 7 tahun. Karena kini hampir seluruh dunia menghitung waktu menurut era kristiani (dalam hidup sipil dan ilmu), maka kesilafan Dionisius Exiguus tidak lagi bisa diperbaiki. Menarik bahwa masih ada golongan yang menghitung menurut era para martir, dan astronomi mengenal tahun 0. (Disadur dari berbagai sumber)

ASAL-USUL DOA ROSARIO

Berakar dari Doa Bapa Kami

Sembahyang Rosario berakar di dalam liturgi, yaitu di doa ofisi para rahib, khususnya di Irlandia. Waktu permulaan zaman pertengahan mencul kebiasaan mendaras semua 150 mazmur atau sekurang-kurangnya satu “Quinquagena”, berarti 50 buah. Tetapi hanya para imam yang berpendidikan di antara rahib itu sanggup membaca atau menghafal semua mazmur. Rahib yang bukan imam dan juga orang biasa yang saleh mencari jalan yang lebih sederhana. Mereka mengganti mazmur-mazmnr sebanyak jumlah Bapa kami. Untuk-itu dipakai sebuah rantai hitungan, hampir seperti rosario kita sekarang. Praktek itu kita kenal juga dari anggaran dasar S.Fransiskus untuk saudara-saudara dina yang tidak berstudi: 24 Bapa kami untuk Matutina, 5untuk Laudes dan Vesper, 7 untuk masing-masing hora kecil . Sekitar tahun 1140 muncul tali hitungan dan disebut circulus gemmorum (rantaibutir) atau tali Paternoster.

Ave Maria

Sekitar tahun 1000 dengan lambat laun Bapa kami diganti dengan Salam Maria sesuai dengan selera masa itu yang lebih cenderung pada penghormatan bunda Maria (misalnya S. Bernhardus dari Clairvaux), juga mungkin sebagai pengganti untuk Ofisi De Beata yang setiap hari didaras di samping ofisi biasa dan ofisi arwah. Dari masa itu berasal rantai doa 50 biji dan juga bernama Rosario, yang berarti mahkota dari bunga mawar. Karena waktu itu ada kebiasaan bahwa seorang ksatria menyerahkan sebuah mahkota dari bunga ros kepada nyonya pujaannya yang mau dia hormati. Tetapi doa Ave Maria waktu itu masih lebih pendek, hanya teridiri dari kedua kutipan Kitab Suci: Lk 1:28 dan Lk 1:42 dan ditambah nama Maria dan Yesus/Yesus Kristus. Baru sesudah Konsili Trente ditambah permohonan “Sancta Maria, mater Dei… “. Berarti Salam Maria lebih dahulu pujian murni (tanpa permohonan) dan berpuncak di dalam pujian Kristus.

Di Flandria (Belgia) di Regula Begin (sejenis suster tanpa klausura) ditetapkan 3 kali mendaras psalterium domina nostra, berarti tiga quinquagena Salam Maria. Ternyata dianggap terlalu sederhana dan kurang kristologis, maka masing-masing sepuluh Salam Maria didahului dengan Bapa kami dan diikuti dengan doksologi Kemuliaan.

Anamnese Penyelamatan

Sekitar tahun 1300 ditulis sebuah buku doa di dalam biara Sistersien (perempuan) di St. Tomas di pegunungan Eifel (Jerman). Di situ juga terdapat semacam rosario dengan 100 kali Salam Maria. Setiap kali dengan nama Yesus ditambah salah satu misteri atau peristiwa keselamatan (memoria Dei). Misalnya: Salam Maria penuh rahmat… Dan terpujilai buah tubuhmu, Yesus, dengan perantaraan-Nya segala-galanya diciptakan. Atau: Yesus, yang bersengsara di kebun Getsemane untuk kami. Atau: Yesus, yang kembali ke Bapa menjadi pengantara kami. Inilah cara sederhana untuk terus menerus memperingati misteri keselamatan penuh dengan syukur dan cinta.

Doa Rosario yang lengkap

Sembahyang Rosario seperti sekarang baru diciptakan 100 tahun sesudah ditulis cara tadi di dalam buku doa Sistersien (pria) oleh seorang biarawan, Dominikus dari Borussia (Jerman Timur) namanya (+1461). Dia berasal dari sebuah desa dekat kota Danzig. Dia skolar dan vagabundus, berarti sebagai mahasiswa dia mengembara dunia. sampai dia dalam umur 25 tahun masuk biara Kartause (Biara Ordo Kartusian) St. Alban di kota Trier (Jerman Barat).

Karena dia belum berpengetahuan dalam perihal doa, magister nofis dan prior, Adolf dari Essen, menasehati dia mendaras “Quinquagene Ave Maria” (setiap hari mendaras 50 kali Salam Maria). Dominikus rasa kurang sanggup untuk berkonsentrasi waktu pendarasan itu, sehingga dia menempuh jalan seperti ditulis di dalam buku biarawati Sistersien tadi, yaitu sesudah setiap Salam Maria dengan kata Yesus dia menambah satu “clausula” (point renungan) dari riwayat Yesus dan ibu-Nya: … dan terpujilah buah tubultmu, Yesus, yang ditemui oleh para gembala di Betlehem. Atau: ” … Yesus, yang mewartakan keraiaan Allah kepada orang banyak”. Atau: “… Yesus, yang membiarkan diri ditangkap dan diikat dan dibawa ke hadapan hakim-Nya”.

Sesuai dengan Quinquagena (berarti 50 Salam Maria) riwayat Yesus dibagikan menjadi 50 misteri, mulai dari pewartaan malaikat kepada Maria sampai kedatangan Kristus kembali. Ide itu timbul dalam hati nofis Dominikus masa Adven tahun 1409. Prior Adolf dari Essen begitu terpesona dari penemuan nofis itu, bahwa dia mengirim idenya itu ke mana-mana di Eropa.

Di biara Dominikan di Koln sekali lagi diolah/dirobah Rosario Kartause itu. Biarawan-biarawan di situ (khususnya Alanus dari Rupe (+1475)) menyaring ke 150 misteri peristiwa menjadi 15 yang mudah dihafal umat (yang buta huruf waktu itu). Dan satu peristiwa dipertahankan selama 10 Salam Maria lamanya. Dengan ini doa Rosario menjadi lebih mudah dan lebih tenang dan intensif. Dan akhirnya ditambah dengan Bapa kami dan Kemuliaan seperti di regula Begin tadi.

Di Koln juga para Dominikan tidak lama sesudahnya mendirikan sebuah solidaritas (serikat, persaudaraan) pencinta sembahyang rosario yang cepat tersiar ke mana-mana. Pemeliharaan dan propaganda sembahyang rosario menjadi ciri khas Ordo Dominikan sampai masa kini. Oleh karena itu kita tidak heran, bahwa Dominikus dari Borussia tadi yang sebenarnya anggota ordo Kartause ditukar dalam ingatan orang menjadi Santu Dominikus, pendiri Ordo Predikatom (Dominikan). Dan timbul legenda, bahwa bunda Maria sendiri menyerahkan doa Rosario kepada S. Dominikus (+ 1221).

Beberapa catatan Pada Penutup

Di Jerman, tempat asal doa Rosario, sampai sekarang dipertahankan cara asli, yaitu bahwa peristiwa keselamatan disebut dengan nama Yesus, misalnya: Yesus, yang kaukandung dari Roh Kudus, ya perawan. Yesus, yang kaubawa ke Elisabet, ya perawan. Cara itu lebih lama, teta1 lebih mengintensifkan peristiwa.

Di luar Jerman cara yang lebih umum dipakai seperti juga di Indonesia, yaitu peristiwa masing-masing hanya satu kali disebut yaitu pada permulaan setiap sepuluh Salam Maria. Juga pada cara Jerman peristiwa-peristiwa biasanya lebih erat dengan hidup kita dengan tambahan “untuk kami” misalnya: “Yesus, yang bersengsara di Getsemane untuk kami”; “Yesus, yang memberi kami Roh Kudus”.

Doa Rosario pada asalnya doa pujian murni, bila kita bayangkan, bahwa permohanan penutup (Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami…) baru timbul sesudah Konsili Trente. Apalagi, pujian itu yang mulai dengan pujian Maria berpuncak dalam pujian Yesus Kristus, dengan menyebut salah satu misteri-Nya atau karya keselamatan. Sedangkan dalam praktek sering (berpengaruh dari doa permohonan tadi) doa Rosario menjadi sembahyang permohonan (‘Kita ambil doa Rosario untuk ini, atau untuk itu”).

Mengingat intens asal doa Rosario dan juga untuk menghayati spiritualitas doa yang sehat, baik bila doa Rosario lebih erat digabungkan dengan Kitab Suci, misalnya dengan membacakan ayat-ayat Kitab suci (lih. MB No.6) dan bila memilih nyanyian-nyanyian di antara masing-masing peristiwa sebaiknya dipilih lagu sesuai dengan peristiwa tersebut, sehingga doa Rosario menjadi lebih kristologis.

Di Jerman juga, lain dari pada di Indonesia dan negara lain, sesudah syahadat ketiga butir pertama mengenangkan dan memohonkan ketiga keutamaan ilahi: iman, harapan dan cinta kasih (juga begitu di Nias). Dengan ini doa Rosario berbentuk seperti sebuah katedral: Sebelum kita masuk untuk merayakan miiteri-misteri keselamatan, kita melewati pintu gerbang (syahadat) dan ruangan muka (disebut firdaus) demi menyiapkan kita merenungkan misteri Kristus dalam iman, harapan dan cinta kasih. Cara Indonesia adalah sebuah epiklese (seruan) nama Allah Tritunggal. Kedua cara merupakan peringatan inisiasi kita.

GAJAH MADA

 Tulisan ini bermula dari rasa penasaran atas satu kalimat samar yang saya dengar dari rekan guru Sejarah yang sedang mengajar di kelas yang mengatakan bahwa Gajah Mada secara harfiah berarti Gajah Mabuk. Jujur baru pertama kali saya mendengar hal itu. Awalnya saya hanya penasaran saja, sampai akhirnya saya membaca beberap tulisan dan juga bertanya kepada AI tentang siapa sebenarnya Gajah Mada. Akhirnya sesudah mendapatkan beberapa poin penting, saya menuliskan sebagai pengingat untuk saya di masa depan, dan siapa tahu dapat bermanfaat untuk orang lain juga.

Gajah Mada sendiri hidup antara tahun 1290 - 1364). Ia dikenal juga dengan nama Jirnnodhara. Beliau merupakan seorang panglima perang dan Mapatih (baca: perdana menteri) yang sangat berpengaruh di Nusantara pada zaman kerajaan Majapahit.

Menurut catatan yang tersedia seperti dalam puisi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya menjadi Patih. Dia diangkat menjadi patih, pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi. Karirnya berlanjut hingga masa kekuasaan Hayam Wuruk yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia diketahui menganut keyakinan Syiwa-Budha.

Garis Keturunan

“Pada tahun saka 1213/1291 M, Bulan Jyesta, pada waktu itu saat wafatnya Paduka Bhatara yang dimakamkan di Siwabudha Rakryan Mapatih Mpu Mada, yang seolah-olah sebagai yoni bagi Bhatara Sapta Prabhu, dengan yang terutama di antaranya ialah Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwarddhani, cucu-cucu putra dan putri paduka Bhatara Sri Krtanagarajnaneuwarabraja Namabhiseka pada waktu itu saat Rakryan Mapatih Jirnnodhara membuat caitya bagi para brahmana tertinggi Siwa dan Buddha yang mengikuti wafatnya paduka Bhatara dan sang Mahawrddhamantri (Mpu Raganatha) yang gugur di kaki Bhatara.”

Demikian bunyi Prasasti Gajah Mada yang bertarikh 1273 saka atau tahun 1351. Sebagai mahamantri terkemuka, Gajah Mada dapat mengeluarkan prasastinya sendiri dan berhak memberi titah membangun bangunan suci (caitya) untuk tokoh yang sudah meninggal. Prasasti itu memberitakan pembangunan caitya bagi Kertanagara. Raja terakhir Singosari itu gugur di istananya bersama patihnya, Mpu Raganatha dan para brahmana Siva dan Buddha, akibat serangan tentara Jayakatwang dari Kediri.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, agaknya Gajah Mada memiliki alasan khusus mengapa memilih membangunkan caitya bagi Kertanagara daripada tokoh-tokoh pendahulu lainnya. Padahal, selama era Majapahit yang dipandang penting tentunya Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit. kemungkinan besar bangunan suci yang didirikan atas perintah Gajah Mada adalah Candi Singhasari di Malang. Pasalnya, Prasasti Gajah Mada ditemukan di halaman Candi Singhasari. Bangunan candi lain yang dihubungkan dengan Kertanagara, yaitu Candi Jawi di Pasuruan. Candi ini sangat mungkin didirikan tidak lama setelah tewasnya Kertanagara di Kedaton Singhasari.

Menurut Agus, berdasarkan data prasasti, karya sastra, dan tinggalan arkeologis, ada dua alasan mengapa Gajah Mada memuliakan Kertanagara hingga mendirikan candi baginya. Pertama, Gajah Mada mencari legitimasi untuk membuktikan Sumpah Palapa. Dia berupaya keras agar wilayah Nusantara mengakui kejayaan Majapahit. Kertanagara adalah raja yang memiliki wawasan politik luas. Dengan wawasan Dwipantara Mandala, dia memperhatikan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa. Dengan demikian Gajah Mada seakan meneruskan politik pengembangan mandala hingga seluruh Dwipantara (Nusantara) yang awalnya telah dirintis oleh Kertanegara.

Kedua, dalam masa Jawa Kuno, candi atau caitya pen-dharma-an tokoh selalu dibangun oleh kerabat atau keturunan langsung tokoh itu, seperti Candi Sumberjati bagi Raden Wijaya dibangun tahun 1321 pada masa Jayanegara; dan Candi Bhayalango bagi Rajapatmi Gayatri dibangun tahun 1362 oleh cucunya, Hayam Wuruk. Atas alasan itu, Gajah Mada masih keturunan dari Raja Kertanagara. Setidaknya Gajah Mada masih punya hubungan darah dengan Kertanagara.

Ayah Gajah Mada mungkin sekali bernama Gajah Pagon yang mengiringi Raden Wijaya ketika berperang melawan pengikut Jayakatwang dari Kediri. Gajah Pagon tidak mungkin orang biasa, bahkan sangat mungkin anak dari salah satu selir Kertanagara karena dalam kitab Pararaton, nama Gajah Pagon disebut secara khusus. Ketika itu, Raden Wijaya begitu mengkhawatirkan Gajah Pagon yang terluka dan dititipkan kepada seorang kepala desa Pandakan. Menurutnya, sangat mungkin Gajah Pagon selamat kemudian menikah dengan putri kepala desa Pandakan dan akhirnya memiliki anak, yaitu Gajah Mada yang mengabdi pada Majapahit.

Gajah Mada mungkin memiliki eyang yang sama dengan Tribhuwana Tunggadewi. Bedanya Gajah Mada cucu dari istri selir, sedangkan Tribhuwana adalah cucu dari istri resmi Kertanagara. Dengan demikian, tidak mengherankan dan dapat dipahami mengapa Gajah Mada sangat menghormati Kertanagara karena Raja itu adalah eyangnya sendiri. Hanya keturunan Kertanegara saja yang akan dengan senang hati membangun caitya berupa Candi Singasari untuk mengenang kebesaran leluhurnya itu. Bahkan konsepsi Dwipantra Mandala dari Kertanagara mungkin menginspirasi dan mendorong Gajah Mada dalam mencetuskan Sumpah Palapa.

Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang kariernya naik saat menjadi Bekel (kepala pasukan) Bhayangkara (pengawal Raja) pada masa Prabu Jayanagara (1309–1328). Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada, sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.

Gelar Gajah Mada

Kata "Gajah" mengacu kepada hewan yang besar yang disegani hewan lainnya, dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai wahana (hewan tunggangan) dari dewa Indra. Gajah juga dihubungkan dengan Ganesa, dewa berkepala gajah berbadan manusia, putra Siwa dan Parwati. Adapun kata "Mada" dalam bahasa Jawa kuno artinya mabuk, bisa dibayangkan jika seekor gajah sedang mabuk, ia akan berjalan seenaknya, beringas, menerabas segala rintangan. Maka apabila dihubungkan dengan tokoh Gajah Mada, nama itu dapat ditafsirkan dalam dua sifat, yaitu:

  • Ia menganggap dirinya sebagai wahana raja, pelaksana perintah-perintah raja, sebagaimana gajah Airawata menjadi wahana dewa Indra
  • Ia adalah orang yang seakan-akan mabuk dan beringas apabila menghadapi berbagai rintangan yang akan menghambat kemajuan kerajaan. Sungguh merupakan pilihan nama yang tepat dan agaknya nama itu telah dipikirkan masak-masak maknanya sebelum dipakai untuk nama dirinya

Dalam prasasti Gajah Mada diketahui julukan lain, yaitu Rakryan Mapatih Jirnnodhara. Mungkin nama itu hanya sekadar gelaran bagi Gajah Mada, tetapi dapat pula dipandang sebagai nama resminya. Arti kata Jirnnodhara adalah "pembangun sesuatu yang baru" atau "pemugar sesuatu yang telah runtuh/rusak". Dalam pengertian harfiah Gajah Mada adalah pembangun caitya bagi Kertanegara yang semula belum ada. Dalam pengertian kiasan ia dapat dipandang sebagai pemugar dan penerus gagasan Kertanegara dalam konsep Dwipantara Mandala

Meski perannya di Kerajaan Majapahit begitu melegenda, akhir riwayat Gajah Mada hingga kini masih belum jelas. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada Biografi Politik menulis, ada berbagai sumber yang mencoba menjelaskan akhir hidup Gajah Mada. Sumber pertama adalah Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca itu mengisahkan akhir hidup Gajah Mada dengan kematiannya yang wajar pada tahun 1286 Saka (1364 M).

Dari berbagai cerita rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menarik diri setelah Peristiwa Bubat dan memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru. Di wilayah Probolinggo ini memang terdapat air terjun bernama Madakaripura yang airnya jatuh dari tebing yang tinggi. Di balik air terjun yang mengguyur bak tirai itu terdapat deretan ceruk dan satu goa yang cukup menjorok dalam dan dipercaya dulu Gajah Mada menjadi pertapa dengan menarik diri dari dunia ramai sebagai wanaprastha (menyepi tinggal di hutan) hingga akhir hayatnya.

Kidung Sunda menyebutkan bahwa Gajah Mada tidak meninggal. Kidung ini membeberkan bahwa Gajah Mada moksa dalam pakaian kebesaran bak Dewa Visnu. Dia moksa di halaman kepatihan kembali ke khayangan. Namun, Agus Aris Munandar menyatakan bahwa akhir kehidupan Gajah Mada lenyap dalam uraian ketidakpastian karena dia malu dengan pecahnya tragedi Bubat. Selanjutnya, menurut Agus, bisa ditafsirkan bahwa Gajah Mada memang sakit dan meninggal di Kota Majapahit atau di area Karsyan yang tak jauh dari sana. Itu sebagaimana dengan keterangan kembalinya Rajasanagara ke ibu kota Majapahit dalam Nagarakretagama, segera setelah mendengar sang patih sakit.

Ketidakhadiran Gajah Mada dalam politik Majapahit meninggalkan luka bagi sang raja. Hayam Wuruk sangat bersedih. Bahkan dikisahkan raja itu begitu putus asa. Dia langsung menemui ibunya, kedua adik, dan kedua iparnya untuk membicarakan pengganti kedudukan sang Patih Amangkubhumi. Namun, "Baginda berpegang teguh, Adimenteri Gadjah Mada tak akan diganti,” tulis Nagarakretagama pupuh 71 bait 3.

Hayam Wuruk pun mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Gajah Mada. Karena tidak ada satu pun yang sanggup menggantikan Patih Gajah Mada, Hayam Wuruk kemudian memilih empat Mahamantri Agung dibawah pimpinan Mpu Nala Tanding untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Mereka pun digantikan oleh dua orang mentri yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Akhirnya Hayam Wuruk memutuskan untuk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Amangkubhumi menggantikan posisi Gajah Mada.

(Disadur dari berbagai sumber)

GALILEO GALILEI vs GEREJA KATOLIK

Saya pernah berdiskusi dengan sahabat saya, juga saya anggap orangtua saya sendiri, yang sangat berminat dengan ilmu perbintangan (astrologi). Beliau berkebangsaan Jerman dan menjadi WNI sejak umur 32 tahun. Walaupun kini sudah kembali lagi di Negara asalanya, di Jerman. Pada saat itu beliau menunjukan kepada saya foto Galileo yang sungguh luar biasa itu.

Seperti biasa, kalau kita pernah mendengar sesuatu pasti suatu saat kita ceritakan pula kepada orang lain, tak tertutup kemungkinan kepada orang yang pertama menceritakan cerita itu sendiri kepada kita. Maka suatu ketika, saya juga menceritakan hal yang sama kepada teman saya, dan dia bilang: “Gereja Katolik membunuh Galileo! Gereja bilang bumi itu rata dan Galileo bilang bumi bulat.” Karena saya orang katolik yang setengah beriman, kuping saya memerah dan terasa sangat panas.

Sekembalinya di rumah, saya melakukan studi literatur tentang Galileo Galilei tersebut. Studi itu sangat disayangkan jika saya menyimpannya sendiri, sehingga tulisan ini saya bagikan juga kepada orang lain sekaligus untuk meluruskan anggapan yang salah itu.

Teman itu sebenarnya keliru dengan mengatakan bahwa kasus Galileo adalah mempermasalahkan bahwa bumi itu rata atau bulat, sedangkan Gereja Katolik mengatakan bumi itu rata. Karena soal bumi itu bulat sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang sejak lama, bahkan ilmu astronomi kuno sudah mengetahuinya, yang mungkin juga dipengaruhi oleh filsuf Yunani Pythagoras 570 BC, dan Aristoteles 427-247 BC yang mengajarkan bahwa: “Every portion of the earth tends toward the center until by compression and convergence they form a sphere – Tiap-tiap bagian di bumi cenderung menuju ke arah pusat dan dengan tekanan dan pemusatan mereka membentuk suatu lapisan (De caelo, 297a9-21).”

Orang cukup mendaki gunung yang tinggi dan melihat busur cakrawala, dan mengetahui bahwa bumi itu seperti busur/ bulat. Dengan ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Colombus (1492), maka juga sudah dibuktikan bahwa bumi itu bulat di abad ke 15, sekitar seabad sebelum kasus Galileo. Maka Gereja Katolik, yang tidak pernah menentang ilmu pengetahuan, juga tidak mengajarkan bahwa bumi itu rata. Kendatipun memang jika kita membaca Alkitab, terdapat ayat-ayat yang seolah-olah mengatakan bahwa bumi itu rata, contohnya Yes 11:12 dan Why 7:1 yang menyebutkan keempat sudut bumi, atau Ayb 38:13, Yer 16:19, Dan 4:11 yang menyebutkan ‘ujung bumi’. Namun Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan dokumen pengajaran apapun yang mengajarkan bahwa bumi itu rata. Tetapi dalam Alkitab juga (Yes 40:22) mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Yang dipermasalahkan oleh Galileo adalah bahwa ia mendukung teori Copernicus, yaitu konsep heliosentris (matahari sebagai pusat yang statis, sedangkan bumi, bulan dan planet-planet berputar mengelilingi matahari), dan bukannya geo-sentris (bumi sebagai pusat dan bahwa semua planet, bulan dan matahari-lah yang mengitari bumi) yang pada saat itu (abad ke- 17) memang merupakan pandangan umum masyarakat. Kemungkinan besar, pandangan geo-sentris ini didasari juga oleh beberapa ayat Alkitab yang menyatakan bahwa seolah-olah mataharilah yang bergerak mengitari bumi, sedangkan bumi itu sendiri diam, seperti yang dikisahkan dalam kitab Yosua 10:12-13, Mazmur 93:1; 104:1-5, dan Pengkhotbah 1:5.

Pada saat teleskop ditemukan sekitar 1608, sehingga Galileo menggunakannya (1610) untuk mengamati tata surya, maka ia melihat adanya 4 satelit/bulan yang mengitari planet Yupiter, dan ini membuktikan bahwa tidak semua planet bergerak mengitari bumi. Namun penemuan teleskop itu tidak bisa secara meyakinkan menjelaskan secara empiris bahwa semua planet, termasuk bumi bergerak mengitari matahari. Inilah permasalahannya. Sebab ada juga teori lain saat itu, yang dipelopori oleh Tycho de Brahe, yang mengatakan bahwa semua planet bergerak mengitari matahari, dan bersama-sama dengan matahari, semuanya mengitari bumi.

Maka yang pertama-tama menentang Galileo dengan menggunakan Alkitab adalah seorang bernama Lodovico delle Colombe, yang kemudian mendapat dukungan dari imam Dominikan, Tommaso Caccini (1614), walaupun pada saat itu banyak tokoh Gereja Katolik malah sebenarnya mendukung percobaan Galileo, terutama kaum Jesuit. Pandangan Gereja Katolik yang resmi akhirnya disampaikan oleh Kardinal Robertus Bellarminus, yang mengatakan demikian:

“I say that if there were a true demonstration that the sun was in the centre of the universe and the earth in the third sphere, and that the sun did not go around the earth but the earth went around the sun, then it would be necessary to use careful consideration in explaining the Scriptures that seemed contrary, and we should rather have to say that we do not understand them than to say that something is false which had been proven.” (Letter of Cardinal Bellarmine to Foscarini.) Artinya kira-kira begini: “Saya katakan jika ada pembuktian yang benar bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi di lingkaran ke tiga, dan bahwa matahari tidak berputar mengelilingi bumi tetapi bumi mengitari matahari, maka adalah penting untuk menggunakan pertimbangan yang hati-hati dalam menjelaskan Kitab Suci yang kelihatannya sebaliknya, dan kita seharusnya mengatakan bahwa kita tidak mengetahuinya daripada mengatakan sesuatu yang salah, seperti yang telah dibuktikan.” (Surat Kardinal Belarminus kepada Foscarini).

Maka di sini saja sebenarnya kita ketahui bahwa pihak otoritas Gereja Katolik mempunyai pikiran yang terbuka terhadap teori Galileo, seandainya ia dapat membuktikannya. Namun sayangnya Galelio tidak dapat membuktikannya, tapi ia bersikeras agar Gereja memperhitungkan cara baru untuk menginterpretasikan Kitab Suci. Sebenarnya, jika Galileo hanya mendiskusikan mengenai pergerakan planet, maka ia dapat terus mengajarkan konsep heliosentris ini sebagai proposal teori dengan aman, tetapi rupanya Galileo ngotot untuk mengatakan hal ini sebagai kebenaran, walaupun ia tidak mempunyai bukti yang mendukung pada saat itu. Karena bukti yang diperlukan, yaitu jalur pergeseran paralel dari bintang-bintang karena pergesaran orbit bumi mengelilingi matahari, tidak dapat diamati dengan teknologi pada saat itu. Konfirmasi stellar parallax ini baru ditemukan di abad ke 19 oleh Friedrich Wilhelm Bessel.

Karena bukti yang dapat mendukung teori ini tidak cukup memadai, maka Gereja tidak dapat mendukung teorinya. Maka pada tahun 1616, pihak Gereja Katolik mengeluarkan dekrit bahwa teori heliosentris tersebut adalah teori yang salah dan bertentangan dengan Alkitab. Perlu kita ketahui bahwa bukan hanya Gereja Katolik yang menolak teori Copernicus yang dipegang oleh Galileo, tetapi gereja Protestan juga menolaknya. Bahkan Martin Luther termasuk barisan pertama yang menentang teori heliosentris, bersama-sama dengan muridnya Melancthon dan para teolog Protestan lainnya. Mereka mengecam karya Copernicus. Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya demikian “an ass who wants to pervert the whole of astronomy and deny what is said in the book of Joshua, only to make a show of ingenuity and attract attention”. (Herbert Butterfield, The Origins of Modern Science (New York: the Free Press, 1957), p. 69). Atau Melancthon yang menyebut semua pengikut Copernicus (termasuk Galileo) sebagai “tidak jujur dan merusak” (P. Melancthon, “Initia doctrinae physicae,” Corpus Reformatorum, ed. Bretschneider, XIII, p. 216.) Maka tidak benar bahwa pada saat itu yang menentang Galileo hanya Gereja Katolik, sebab Luther dan para tokoh gereja Protestan juga menentang teori heliosentris yang diyakininya.

Pada tahun 1623 Galileo bertemu dengan Paus Urban VIII yang memperbolehkan ia mempresentasikan argumen (pro dan kontra) tentang teori heliosentris ini. Galileo membukukannya dalam bukunya Dialogue on the Two World Systems, namun ia menaruh argumen- argumen yang dikatakan oleh Paus untuk diucapkan oleh karakter Simplicio, seorang tokoh dalam buku itu yang digambarkan sebagai orang bodoh. Maka ia bukannya menampilkan hal pro dan kontra secara netral, tetapi cenderung untuk membela pandangannya yang pro terhadap heliosentris ini. Karena inilah maka akhirnya, Galileo kehilangan dukungan dari Paus yang merasa dilecehkan olehnya, dan juga oleh para Jesuit yang juga mempunyai seorang astronom yang juga mengklaim telah menemukan sunspots seperti yang telah ditemukan oleh Galileo. Galileo memang akhirnya dikenakan tahanan rumah sampai ia diadili oleh Pengadilan Inkuisisi tahun 1633, namun tidak benar jika dikatakan bahwa Galileo dibunuh oleh Gereja Katolik. Ia meninggal tetap dalam iman kekristenannya.

Urusan Galileo ini tidak ada hubungannya dengan Infalibilitas Bapa Paus. Sebab karisma Infalibilitas Bapa Paus (Paus yang tidak dapat sesat) ini hanya dapat berlaku dalam 3 syarat: 1) Bapa Paus harus berbicara dalam kapasitasnya sebagai penerus Rasul Petrus; 2) pada saat Bapa Paus mengajarkan secara definitif tentang iman dan moral; 3) Ketika Bapa Paus mendefinisikan doktrin yang harus dipegang oleh semua orang beriman. Dalam kasus Galileo ini, ketiga syarat tidak terpenuhi. Klaim yang dapat dikatakan dalam hal ini adalah bahwa Gereja pada saat itu mengeluarkan disiplin yang non-infallible terhadap seorang scientist yang mengajarkan teori yang belum bisa dibuktikan, dan yang menuntut Gereja mengubah interpretasi Kitab Suci untuk dapat menerima teorinya ini.

Adalah baik bahwa Gereja Katolik tidak terburu-buru untuk menyetujui teori Galileo ini, sebab sekarang kita ketahui bahwa teori Galileo ini tidak sepenuhnya benar. Galileo berpegang bahwa matahari tidak hanya pusat tata surya tetapi pusat seluruh jagad raya. Sekarang kita ketahui bahwa matahari bukan pusat dari seluruh jagad raya, dan matahari juga sebenarnya bergerak mengitari pusat galaksi. Maka Galileo ‘benar’ dengan menyatakan bahwa bumi bergerak, tetapi ’salah’ dengan menyatakan matahari tidak bergerak. Sebaliknya para opponent Galileo ‘benar’ dalam mengatakan bahwa matahari bergerak, namun ’salah’ dengan menyatakan bumi tidak bergerak.

Terlepas dari bermacam kontroversi Galileo ini, kenyataannya, Gereja Katolik juga telah berusaha mengembalikan nama baik Galileo. Paus Yohanes Paulus II pernah membuat permintaan maaf secara formal pada tahun 1992. Sekarang malah direncanakan Vatikan akan meletakkan patung Galileo di kompleks Vatikan, yaitu kebun di dekat apartemen tempat Galileo ditahan ketika menunggu pengadilan tahun 1633. Namun jauh sebelumnya melalui surat ensikliknya Providentissimus Deus (1893), Paus Leo XIII telah mendorong pendekatan/approach Galileo untuk menyelaraskan antara iman dan ilmu pengetahuan, sebab keduanya sebenarnya tak mungkin bertentangan, walaupun memang Alkitab bukan buku science/ ilmu pengetahuan. Jika ada ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan dengan science, itu adalah karena penyampaiannya dengan gaya bahasa fenomenologis, dan inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik.