... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

JALAN SALIB

Selain berpantang dan berpuasa, selama masa prapaskah umat katolik sangat dianjurkan untuk mengikuti ibadah jalan salib. Ibadat jalan salib ini bukan merupakan bagian liturgi resmi gereja, tetapi merupakan devosi yang membantu kita merenungkan penderitaan, wafat, dan kasih Yesus bagi umat manusia.

Jalan Salib berakar sejak awal Kekristenan, ketika para murid dan umat Kristen mula-mula di Yerusalem mengenang sengsara Yesus dengan menelusuri kembali jalan yang Yesus lalui menuju Golgota.

Perkembangan devosi ini semakin kuat ketika Kaisar Konstantinus melegalkan agama Kristen melalui Edik Milano pada tahun 313. Ibunya, Santa Helena, yang sangat berdevosi kepada Kristus, melakukan ziarah ke Tanah Suci pada tahun 326 dan menemukan tempat-tempat suci terkait kehidupan Yesus, termasuk lokasi penyaliban dan makam-Nya. Atas dorongan Santa Helena, Basilika Makam Kudus dibangun pada tahun 335, dan menjadikan ziarah ke Yerusalem semakin populer.

Namun karena pada abad ke-7, ketika Kekhalifahan Islam menguasai Tanah Suci, ziarah ke Yerusalem menjadi semakin sulit bagi umat Kristen. Meski demikian, semangat untuk merenungkan sengsara Kristus tidak padam. Akhirnya muncullah praktik membangun perhentian Jalan Salib di berbagai tempat di Eropa, memungkinkan umat yang tidak bisa pergi ke Yerusalem tetap mengalami devosi ini di lingkungan mereka sendiri.

Penyebaran luas devosi ini tidak lepas dari peran Ordo Fransiskan. Pada abad ke-13, Paus Klemens VI memberikan kepercayaan kepada para Fransiskan untuk menjaga dan merawat tempat-tempat suci di Yerusalem. Para biarawan Fransiskan yang kembali ke Eropa membawa serta tradisi ini dengan mendirikan replika perhentian Jalan Salib di gereja-gereja, biara-biara, dan bahkan di ruang terbuka agar umat dapat mengenang penderitaan Kristus secara lebih mendalam.

Salah satu tokoh yang berperan besar dalam mempopulerkan devosi ini adalah Santo Leonardus dari Porto Mauricio (1676-1751). Ia mendirikan lebih dari 500 Jalan Salib di berbagai tempat di Eropa, termasuk yang paling terkenal di dalam Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Berkat usahanya, pada tahun 1731, Paus Klemens XII secara resmi menetapkan bahwa setiap gereja boleh memiliki perhentian Jalan Salib dengan jumlah yang tetap, yakni 14 perhentian, dari pengadilan Yesus di hadapan Pilatus hingga pemakamannya.

Gereja mengajarkan bahwa melalui peristiwa ini, kita dipanggil untuk:
1.        Mengenang pengorbanan Kristus yang menebus dosa-dosa kita (KGK 571-572).
2.        Meneladan kesabaran dan ketaatan-Nya dalam menghadapi penderitaan.
3.        Menjawab kasih-Nya dengan hidup yang lebih suci dan penuh kasih kepada sesama.

Melalui ibadat Jalan Salib, Gereja mangajak kita untuk merenungkan setiap perhentian dengan hati yang terbuka, menghubungkan penderitaan Yesus dengan pengalaman hidup kita dan menguatkan komitmen untuk bertobat dan mengikuti-Nya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sengsara Kristus bukan hanya sebuah kenangan, tetapi sungguh menjadi nyata dan menjadi kekuatan bagi kita untuk bertahan dalam pencobaan-pencobaan yang kita alami.