... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

NEGOSIASI ABRAHAM: MENGAPA BERHENTI DI ANGKA SEPULUH?

Kisah Sodom dan Gomora dalam Kitab Kejadian (Kej. 18–19) merupakan salah satu kisah paling dramatis dalam Alkitab Perjanjian Lama. Kisah ini memuat unsur kejahatan kolektif, murka ilahi, serta negosiasi moralis antara Abraham dan Allah. Salah satu bagian paling menarik dalam kisah ini adalah dialog intens antara Abraham dan Allah mengenai kemungkinan penyelamatan kota jika ditemukan sejumlah orang benar.

Komunikasi Manusia dengan Allah: Sebuah Relasi Iman

Kisah komunikasi antara Abraham dan Allah dalam Kejadian 18 bukan hanya narasi historis-teologis, tetapi sekaligus manifestasi dari kedalaman relasi antara manusia dan Yang Ilahi. Abraham tidak hanya mendengar perintah Allah, tetapi juga berbicara, memohon, bahkan menawar secara intens. Ini menjadi pertanyaan reflektif yang penting: bagaimana mungkin manusia yang terbatas bisa bernegosiasi dengan Allah yang transenden dan mahakuasa? Jawabannya terletak dalam pemahaman iman, penciptaan manusia menurut gambar Allah (imago Dei), serta dalam konsep wahyu dan relasi perjanjian.

Manusia sebagai Citra Allah (Imago Dei)

Konsep imago Dei dalam Kejadian 1:26–27 memberikan fondasi teologis bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berelasi dengan Allah karena ia adalah refleksi dari pribadi-Nya. Seperti dikemukakan oleh teolog Emil Brunner, imago Dei bukanlah kemampuan intelektual atau moral manusia semata, melainkan relasi. Dalam relasi itulah manusia dapat mengenal, merespons, dan bahkan berdialog dengan Penciptanya. “Imago Dei is not a static attribute, but a relational reality. It is the I–Thou relationship between God and man.” (Brunner, Man in Revolt, 1937)

Dengan demikian, komunikasi Abraham dengan Allah adalah ekspresi dari relasi itu. Allah bukan hanya sebagai pihak yang memerintah dari atas, tetapi juga sebagai Pribadi yang membuka ruang percakapan dengan ciptaan-Nya.

Pandangan klasik dalam teologi Kristen mengajarkan bahwa komunikasi manusia dengan Allah dimungkinkan karena Allah sendiri terlebih dahulu menyatakan diri (self-revelation). Menurut Karl Barth, segala komunikasi teologis bergantung pada Allah yang menyatakan diri-Nya dalam sejarah, terutama melalui Firman. “Revelation is the self-unveiling of the God who is wholly other.” (Barth, Church Dogmatics I/1)

Dalam konteks Abraham, wahyu itu bersifat personal dan langsung. Allah menampakkan diri kepada Abraham dalam bentuk antropomorfis (tiga orang tamu) dan membuka percakapan. Ini menunjukkan bahwa Allah bukan sekadar objek untuk disembah, tetapi Subjek yang dapat berinteraksi, bahkan memberikan ruang bagi manusia untuk menyampaikan keberatannya.

Dialog antara Allah dan Abraham tidak terjadi dalam kekosongan, melainkan dalam kerangka relasi perjanjian. Allah telah mengikat perjanjian dengan Abraham dalam Kejadian 15 dan 17, yang menempatkan Abraham sebagai sahabat Allah (Yes. 41:8). Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, status ini memberi hak istimewa bagi Abraham untuk berbicara kepada Allah secara lebih terbuka dan intim.

Menurut Scott Hahn, seorang teolog Katolik, relasi perjanjian dalam Kitab Kejadian bersifat kovenantal, bukan kontraktual. Artinya, hubungan Allah dan Abraham bersifat kekeluargaan, sehingga dialog yang terjadi mencerminkan relasi antara bapak dan anak, bukan antara raja dan hamba semata.

Dari perspektif eksistensialis teologis, seperti yang dikemukakan Paul Tillich, komunikasi antara manusia dan Allah juga menyangkut keberanian untuk berdiri di hadapan Yang Kudus dan menyampaikan suara nurani. “Prayer is not just talking to God. It is participating in the ground of being, where ultimate concern meets ultimate reality.” (Tillich, The Courage to Be, 1952)

Abraham tidak takut. Ia mengambil risiko eksistensial dalam berbicara kepada Allah, bahkan menyampaikan pertanyaan etis: “Apakah Engkau akan membinasakan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?” (Kej. 18:23). Ini bukan hanya bentuk doa, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral dan solidaritas dengan sesama manusia.

Dialog Sebagai Persatuan Jiwa dengan Allah

Dari sudut pandang mistik Kristen, seperti yang diajarkan oleh Meister Eckhart atau Teresa dari Avila, komunikasi dengan Allah adalah hasil dari keheningan batin dan keterbukaan spiritual. Meski Abraham tidak digambarkan dalam pose meditasi, relasi dan keintiman yang ditunjukkan menggambarkan suatu bentuk persatuan spiritual yang dalam.

Bagi para mistikus, dialog dengan Allah bukan hanya pertukaran kata, tetapi pertukaran hati—sebuah penyatuan kehendak manusia dengan kehendak Ilahi. Abraham, dalam dialog itu, menunjukkan sensitivitas rohani yang tinggi terhadap nilai keadilan dan belas kasih, dua sifat Allah yang juga menjadi tema utama dalam mistisisme Kristen.

Menurut Paul Ricoeur, komunikasi manusia dengan Allah selalu bersifat simbolik dan menuntut penafsiran (hermeneutic act). Kisah Abraham tidak hanya ditangkap secara literal sebagai percakapan verbal, melainkan sebagai simbol relasi manusia yang terbuka terhadap kehendak Allah, namun juga berani menafsirkan dan menyuarakan keadilan universal.

Dalam hal ini, komunikasi Abraham mencerminkan “keberanian menafsirkan” kehendak Allah—menantang anggapan bahwa Allah adalah hakim kejam, dan sebaliknya menampilkan Allah sebagai Allah yang bersedia “mendengar argumen manusia.”

Alasan Murka Ilahi: Kejahatan Sosial dan Ketidakadilan Kolektif

Kemarahan Allah terhadap Sodom dan Gomora bukan sekadar reaksi terhadap dosa seksual sebagaimana sering disederhanakan. Kitab Yehezkiel 16:49 memberikan klarifikasi penting: "Lihat, inilah kesalahan Sodom, saudaramu: kecongkakan, banyak makan, dan hidup dalam kemewahan, tetapi dia tidak membantu yang miskin dan yang membutuhkan."

Dengan demikian, alasan utama kehancuran Sodom adalah kombinasi dari kecongkakan, kerakusan, ketidakpedulian sosial, dan ketidakadilan. Kejahatan di Sodom sudah masif dan bersifat sistemik, bukan hanya individual. Memang dalam Kitab-kitab Kenabian, para nabi juga kerap mengutuk ketidakadilan sosial sebagai bentuk kejahatan kolektif yang mendatangkan hukuman ilahi (bdk. Yes. 1:10–17; Am. 4:1–11).

Murah hatinya Allah tampak dalam kesediaan-Nya untuk menahan penghukuman jika ditemukan hanya sedikit orang benar. Namun, keberdosaan kota itu sudah sampai pada titik di mana tidak ada mekanisme pertobatan kolektif yang dapat menyelamatkannya. Dengan kata lain, Sodom dan Gomora adalah simbol masyarakat yang menolak keadilan dan belas kasih sampai pada level ekstrem.

Mengapa Abraham Berhenti di Angka Sepuluh?

Negosiasi Abraham yang dimulai dari angka lima puluh orang benar dan berhenti pada sepuluh (Kej. 18:32) menimbulkan pertanyaan hermeneutis yang menarik, “Mengapa ia tidak terus menawar sampai satu orang?”

Beberapa tafsir menyatakan bahwa angka sepuluh adalah simbol komunitas minimal dalam tradisi Yahudi, dikenal sebagai minyan, jumlah minimum sepuluh laki-laki dewasa yang diperlukan untuk ibadah bersama. Artinya, Abraham tidak sedang mencari individu, melainkan komunitas benar yang bisa menjadi garam dan terang bagi kota. Hal ini menggemakan ide bahwa keselamatan bukan hanya perkara pribadi, tetapi juga bersifat komunal.

Penafsir lain, seperti Nahum Sarna (dalam The JPS Torah Commentary: Genesis), menyebut bahwa Abraham mungkin merasa bahwa menawar lebih lanjut bisa melampaui batas keberanian manusia terhadap Ilahi. Ia berhenti karena sudah merasa berada di ambang ketidaksopanan, bahkan dalam hubungan dekatnya dengan Allah. Ini sungguh-sungguh menunjukan kedekatan relasi antara Allah dan Abraham dalam sisi kemanusiaan yang sangat kentara.

Refleksi teologis lain menyatakan bahwa Abraham, sebagai manusia terbatas, tidak memiliki pengetahuan penuh tentang keadaan kota Sodom dan Gomora. Ketika ia menawar sampai sepuluh, Abraham berandai-andai masih ada komunitas benar yang layak. Namun, kenyataannya, tidak ditemukan bahkan sepuluh orang benar. Penegasan ini dapat dilihat sebagai informasi valid tentang kerusakan moral total dari kota tersebut.

Dialog, Murka, dan Keadilan dalam Relasi Allah-Manusia

Kisah Sodom dan Gomora memperlihatkan tiga hal penting dalam relasi Allah dengan manusia: (1) Allah terbuka terhadap komunikasi dengan manusia, bahkan terhadap keberanian moral manusia untuk mempertanyakan keadilan Ilahi; (2) murka Allah bukanlah kemarahan buta, melainkan respons terhadap kerusakan sistemik yang merusak martabat manusia dan keadilan sosial; dan (3) harapan selalu ada ketika masih ditemukan komunitas kecil yang benar; namun jika tidak ada, kehancuran menjadi konsekuensi logis demi kebaikan yang lebih besar.

Dalam dunia modern yang juga menghadapi krisis keadilan, ketidakpedulian sosial, dan degradasi moral, kisah ini menjadi cermin keras. Allah yang sama masih terbuka terhadap doa, negosiasi, dan suara profetik dari mereka yang berani menyuarakan kebaikan. Namun, tanggung jawab manusia pun besar, yakni tidak hanya menjadi pribadi benar, tetapi membentuk komunitas yang membawa terang di tengah kegelapan. Semoga setiap umat beriman berani mengambil peran sebagai “Abraham” yang berani membuka dialog dengan Allah untuk kebaikan masyarakat kita.

SUMBER BACAAN

  1. Barth, K. (1956). Church dogmatics: Volume I/1. The doctrine of the Word of God (G. W. Bromiley & T. F. Torrance, Eds. & Trans.). Edinburgh: T&T Clark.
  2. Brueggemann, W. (1982). Genesis (Interpretation: A Bible commentary for teaching and preaching). Atlanta, GA: John Knox Press.
  3. Brunner, E. (1937). Man in revolt: A Christian anthropology (O. Wyon, Trans.). Philadelphia, PA: Westminster Press.
  4. Hahn, S. (1998). A father who keeps his promises: God's covenant love in Scripture. Cincinnati, OH: St. Anthony Messenger Press.
  5. Ricoeur, P. (1976). Interpretation theory: Discourse and the surplus of meaning. Fort Worth, TX: Texas Christian University Press.
  6. Sarna, N. M. (1989). Genesis: The traditional Hebrew text with the new JPS translation (The JPS Torah Commentary Series). Philadelphia, PA: Jewish Publication Society.
  7. Teresa of Avila. (2008). The interior castle (A. Peers, Trans.). New York, NY: Dover Publications. (Original work published 1577)
  8. Tillich, P. (1952). The courage to be. New Haven, CT: Yale University Press.
  9. Wenham, G. J. (1994). Genesis 16–50 (Vol. 2). Dallas, TX: Word Books.

PENTINGNYA PERANGKAT PEMBELAJARAN

Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan dokumen yang dirancang secara sistematis untuk memandu guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar agar berjalan efektif, efisien, dan terarah. Perangkat ini biasanya mencakup silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), modul ajar, bahan ajar, media pembelajaran, instrumen penilaian, serta panduan lain yang mendukung kegiatan pembelajaran.

Namun demikian masih banyak juga para guru yang merasa perangkat pembelajaran tidak penting dan terasa seperti seperti beban untuk membuatnya. Pentingnya perangkat pembelajaran dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:

  1. Sebagai Panduan dan Arah Pembelajaran. Perangkat pembelajaran berfungsi seperti peta perjalanan. Tanpanya, guru berisiko mengajar tanpa tujuan yang jelas, sehingga pembelajaran menjadi tidak fokus. Dengan perangkat yang baik, guru tahu kompetensi apa yang ingin dicapai, materi apa yang harus diajarkan, dan metode apa yang paling sesuai.
  2. Menjamin Konsistensi dan Keteraturan Proses Mengajar. Perangkat pembelajaran membantu memastikan bahwa proses belajar mengajar dilakukan sesuai standar yang ditetapkan, tidak tergantung pada suasana hati atau improvisasi berlebihan. Hal ini penting agar mutu pembelajaran tetap terjaga, baik untuk satu kelas maupun lintas tahun ajaran.
  3. Membantu Pencapaian Tujuan Pendidikan. Setiap jenjang pendidikan memiliki capaian pembelajaran tertentu. Perangkat yang dirancang dengan baik akan memandu guru agar setiap kegiatan di kelas mengarah pada pencapaian tujuan tersebut, termasuk pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.
  4. Mempermudah Evaluasi dan Perbaikan. Perangkat pembelajaran menyediakan tolok ukur yang jelas untuk menilai keberhasilan pembelajaran. Guru dapat membandingkan rencana dengan pelaksanaan, lalu melakukan perbaikan jika ditemukan kelemahan, baik dalam materi, metode, maupun media yang digunakan.
  5. Meningkatkan Profesionalisme Guru. Guru yang menyusun perangkat pembelajaran secara serius menunjukkan tanggung jawab profesionalnya. Ini bukan sekadar memenuhi kewajiban administrasi, tetapi juga mencerminkan dedikasi dalam merancang pembelajaran yang berkualitas.
  6. Mendukung Kreativitas dan Inovasi. Perangkat pembelajaran tidak hanya berisi rencana baku, tetapi juga dapat menjadi wadah untuk berkreasi—misalnya menambahkan metode pembelajaran berbasis proyek, teknologi digital, atau pendekatan kolaboratif. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih menarik dan relevan bagi peserta didik.

Perangkat pembelajaran bukan sekadar dokumen administratif, melainkan alat strategis untuk memastikan pembelajaran berjalan efektif, terarah, dan sesuai standar pendidikan. Guru yang memiliki perangkat pembelajaran yang baik akan lebih mudah mengelola kelas, mencapai tujuan pendidikan, dan meningkatkan kualitas belajar siswa. Oleh karena itu, penyusunan perangkat pembelajaran harus dilakukan dengan perencanaan matang, pemahaman kurikulum yang baik, dan semangat untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Bagi rekan-rekan yang ingin memperoleh perangkat pembelajaran yang dapat diunduh, diedit dan digunakan sebagai bahan pembanding silakan kunjungi link berikut. Semoga membantu!

JENIS DOKUMEN

TAUTAN UNDUHAN

CP Terbaru

https://drive.google.com/file/d/1Jj1T-BEEfDhM5tY70o1pixTPu2cxCZ7h/view?usp=drive_link

Alur Tujuan Pembelajaran

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1nELYD8mdQvtS0JBv8Q4dkWA9cJmCv-Cq/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

Analisis Minggu Efektif Semester Ganjil

https://docs.google.com/spreadsheets/d/18_JRamPTFH7FzHqwH9IJv3qP3ephglAB/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

Analisis Minggu Efektif Semester Genap

https://docs.google.com/spreadsheets/d/15M-ncV9ln_iScc_pd4sNt4EDMGPmXFqm/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

Program Tahunan

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1UeKuniydoCV5Z1WYhdDseHHd0htbU35B/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

Program Semester Ganjil

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1Ml0_E8v72dnZBmozg-BXf438ZPeSwMW8/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

Program Semester Genap

https://docs.google.com/spreadsheets/d/19wm7b2uC7NC9pfaj1-USFmxSWHS0Pk0e/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

RPP Kelas XII Semester Ganjil

https://docs.google.com/document/d/1nPjvjnJx--6-R-nFbodtrlA4U51fvkfo/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

RPP Kelas XII Semester Genap

https://docs.google.com/document/d/1bKQu_5MhJhsO3Nk69xlAaXCijJlLaQd3/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

RPP Kelas X Semester Ganjil

https://docs.google.com/document/d/1yA9q5IzUJQoldt-2TEaykYy7bsbKvKZR/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

RPP Kelas X Semester Genap

https://docs.google.com/document/d/148GfN1UA9GKTRkLVqxYTB1EOuNdsoT9I/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true

MA Kelas XI

https://docs.google.com/document/d/1wT73DH-g_LLekJgr6m8c7gpK1bABACXj/edit?usp=drive_link&ouid=103151911052046354887&rtpof=true&sd=true


PORTA SANCTA

Porta Santa (Latin) atau Pintu Suci adalah pintu khusus di basilika-basilika utama di Roma yang hanya dibuka selama Tahun Suci (Jubileum), yaitu waktu khusus dalam Gereja Katolik untuk memperoleh rahmat pengampunan dosa dan indulgensi penuh. Pintu ini secara fisik benar-benar ada, misalnya di Basilika Santo Petrus, Santo Yohanes Lateran, Santa Maria Maggiore, dan Santo Paulus di Luar Tembok. Pintu ini bukan sekadar pintu batu atau logam, tetapi simbol Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan menuju keselamatan. "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat." (Yohanes 10:9)

Asal-usul Tradisi Porta Santa

Tradisi membuka Porta Santa dimulai sejak Tahun Suci 1500 oleh Paus Alexander VI. Sejak saat itu, setiap kali Gereja merayakan Tahun Yubileum, Paus membuka pintu tersebut sebagai tanda dimulainya masa rahmat dan pengampunan. Tahun Yubileum biasanya dirayakan setiap 25 tahun sekali, tetapi bisa juga diadakan pada tahun-tahun luar biasa, seperti Jubileum Luar Biasa Kerahiman Ilahi pada tahun 2015-2016 oleh Paus Fransiskus.

Porta Santa melambangkan:

  • Kristus sebagai Pintu Keselamatan. Seperti yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 10:9, hanya melalui Dia kita memperoleh keselamatan. Pintu Suci adalah lambang konkret dari undangan Kristus untuk masuk ke dalam hidup baru.
  • Pertobatan dan Pengampunan. Melewati Porta Santa menjadi tanda fisik dari pertobatan batin. Umat diundang untuk "melangkah keluar dari dosa" dan masuk ke dalam kehidupan rahmat.
  • Kesempatan Pembaruan Spiritual. Tahun Yubileum dan Porta Santa menjadi momen istimewa untuk memperdalam iman, menerima sakramen, dan memperbarui hidup dalam kasih dan belas kasih Allah.

Mereka yang melewati Porta Santa dengan sikap batin yang benar dan memenuhi syarat-syarat tertentu dapat menerima indulgensi penuh, yaitu penghapusan hukuman sementara akibat dosa. Syaratnya:

  • Mengakukan dosa (sakramen tobat)
  • Menerima Ekaristi
  • Berdoa untuk intensi Paus
  • Menolak semua keterikatan pada dosa

Mengapa di beberapa Gereja Katedral Juga Dibuka Porta Santa?

Hal ini merupakan inisiatif Paus Fransiskus, dengan prinsip mendekatkan rahmat kepada umat. Biasanya Porta Santa hanya dibuka di empat basilika utama di Roma. Namun pada Jubileum Luar Biasa Kerahiman Ilahi (2015–2016), Paus Fransiskus mengambil langkah luar biasa dan historis. Ia menghendaki agar Pintu Suci juga dibuka di setiap keuskupan di seluruh dunia. Tujuannya: mendekatkan rahmat Yubileum kepada seluruh umat, terutama yang tidak mampu berziarah ke Roma. Porta Sancta dibuat terutama di:

  • Gereja Katedral (pusat liturgi keuskupan)
  • Tempat ziarah utama
  • Gereja-gereja tertentu yang dipilih oleh uskup setempat

Makna dan Tujuan Pintu Suci di Katedral

Dengan membuka Porta Santa di katedral, Gereja menekankan bahwa:

Rahmat pengampunan dan belas kasih Allah tidak terbatas secara geografis

  • Setiap umat beriman, di mana pun ia berada, dapat mengalami ziarah rohani menuju pertobatan dan pembaruan iman
  • Katedral, sebagai pusat kehidupan rohani di keuskupan, menjadi simbol keterbukaan Allah terhadap semua orang

Tindakan membuka Pintu Suci di gereja-gereja lokal juga:

  • Memberi kesempatan nyata untuk berpartisipasi dalam rahmat Yubileum tanpa harus bepergian jauh
  • Mendorong kegiatan tobat, amal, dan doa dalam konteks komunitas lokal
  • Menjadi tanda keterlibatan Gereja lokal dalam Gereja universal

Apakah Paus fransiskus yang pertama mengizinkan porta santa boleh di buka di tempat lain selain di Basilika Santo Petrus, Santo Yohanes Lateran, Santa Maria Maggiore, dan Santo Paulus di Luar Tembok. Ya, Paus Fransiskus adalah Paus pertama dalam sejarah Gereja Katolik yang secara resmi mengizinkan.

1.   Sebelum Paus Fransiskus

Sebelum Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Ilahi (2015–2016), Porta Santa hanya dibuka di:

·       Basilika Santo Petrus (Vatikan)

·       Basilika Santo Yohanes Lateran (katedral Keuskupan Roma)

·       Basilika Santa Maria Maggiore

·       Basilika Santo Paulus di Luar Tembok

Keempat basilika ini adalah simbol pusat Gereja universal, dan ziarah ke sana selama Tahun Suci adalah tanda pertobatan dan penerimaan rahmat pengampunan.

2.   Kebaruan Paus Fransiskus

Dalam bulla Misericordiae Vultus (Wajah Kerahiman Allah), yang diterbitkan pada 11 April 2015, Paus Fransiskus menyatakan secara eksplisit bahwa: "Setiap Keuskupan, di gereja katedralnya – dan, jika diinginkan, juga di gereja lain yang bermakna secara khusus – akan membuka Pintu Suci sebagai tanda nyata partisipasi seluruh Gereja dalam Tahun Kerahiman." (Misericordiae Vultus, no. 3)

Dengan kebijakan ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat Katolik di seluruh dunia dapat melewati Porta Santa di keuskupan masing-masing dan mendapatkan indulgensi penuh tanpa harus datang ke Roma.

Mengapa Ini Penting?

  • Paus Fransiskus ingin menekankan bahwa belas kasih Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
  • Ia ingin agar semua umat, termasuk yang miskin dan tak mampu bepergian, dapat mengalami rahmat Tahun Suci.
  • menunjukkan wajah Gereja yang terbuka dan dekat dengan umat, bukan hanya terpusat di Vatikan