GALILEO GALILEI vs GEREJA KATOLIK

Saya pernah berdiskusi dengan sahabat saya, juga saya anggap orangtua saya sendiri, yang sangat berminat dengan ilmu perbintangan (astrologi). Beliau berkebangsaan Jerman dan menjadi WNI sejak umur 32 tahun. Walaupun kini sudah kembali lagi di Negara asalanya, di Jerman. Pada saat itu beliau menunjukan kepada saya foto Galileo yang sungguh luar biasa itu.

Seperti biasa, kalau kita pernah mendengar sesuatu pasti suatu saat kita ceritakan pula kepada orang lain, tak tertutup kemungkinan kepada orang yang pertama menceritakan cerita itu sendiri kepada kita. Maka suatu ketika, saya juga menceritakan hal yang sama kepada teman saya, dan dia bilang: “Gereja Katolik membunuh Galileo! Gereja bilang bumi itu rata dan Galileo bilang bumi bulat.” Karena saya orang katolik yang setengah beriman, kuping saya memerah dan terasa sangat panas.

Sekembalinya di rumah, saya melakukan studi literatur tentang Galileo Galilei tersebut. Studi itu sangat disayangkan jika saya menyimpannya sendiri, sehingga tulisan ini saya bagikan juga kepada orang lain sekaligus untuk meluruskan anggapan yang salah itu.

Teman itu sebenarnya keliru dengan mengatakan bahwa kasus Galileo adalah mempermasalahkan bahwa bumi itu rata atau bulat, sedangkan Gereja Katolik mengatakan bumi itu rata. Karena soal bumi itu bulat sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang sejak lama, bahkan ilmu astronomi kuno sudah mengetahuinya, yang mungkin juga dipengaruhi oleh filsuf Yunani Pythagoras 570 BC, dan Aristoteles 427-247 BC yang mengajarkan bahwa: “Every portion of the earth tends toward the center until by compression and convergence they form a sphere – Tiap-tiap bagian di bumi cenderung menuju ke arah pusat dan dengan tekanan dan pemusatan mereka membentuk suatu lapisan (De caelo, 297a9-21).”

Orang cukup mendaki gunung yang tinggi dan melihat busur cakrawala, dan mengetahui bahwa bumi itu seperti busur/ bulat. Dengan ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Colombus (1492), maka juga sudah dibuktikan bahwa bumi itu bulat di abad ke 15, sekitar seabad sebelum kasus Galileo. Maka Gereja Katolik, yang tidak pernah menentang ilmu pengetahuan, juga tidak mengajarkan bahwa bumi itu rata. Kendatipun memang jika kita membaca Alkitab, terdapat ayat-ayat yang seolah-olah mengatakan bahwa bumi itu rata, contohnya Yes 11:12 dan Why 7:1 yang menyebutkan keempat sudut bumi, atau Ayb 38:13, Yer 16:19, Dan 4:11 yang menyebutkan ‘ujung bumi’. Namun Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan dokumen pengajaran apapun yang mengajarkan bahwa bumi itu rata. Tetapi dalam Alkitab juga (Yes 40:22) mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Yang dipermasalahkan oleh Galileo adalah bahwa ia mendukung teori Copernicus, yaitu konsep heliosentris (matahari sebagai pusat yang statis, sedangkan bumi, bulan dan planet-planet berputar mengelilingi matahari), dan bukannya geo-sentris (bumi sebagai pusat dan bahwa semua planet, bulan dan matahari-lah yang mengitari bumi) yang pada saat itu (abad ke- 17) memang merupakan pandangan umum masyarakat. Kemungkinan besar, pandangan geo-sentris ini didasari juga oleh beberapa ayat Alkitab yang menyatakan bahwa seolah-olah mataharilah yang bergerak mengitari bumi, sedangkan bumi itu sendiri diam, seperti yang dikisahkan dalam kitab Yosua 10:12-13, Mazmur 93:1; 104:1-5, dan Pengkhotbah 1:5.

Pada saat teleskop ditemukan sekitar 1608, sehingga Galileo menggunakannya (1610) untuk mengamati tata surya, maka ia melihat adanya 4 satelit/bulan yang mengitari planet Yupiter, dan ini membuktikan bahwa tidak semua planet bergerak mengitari bumi. Namun penemuan teleskop itu tidak bisa secara meyakinkan menjelaskan secara empiris bahwa semua planet, termasuk bumi bergerak mengitari matahari. Inilah permasalahannya. Sebab ada juga teori lain saat itu, yang dipelopori oleh Tycho de Brahe, yang mengatakan bahwa semua planet bergerak mengitari matahari, dan bersama-sama dengan matahari, semuanya mengitari bumi.

Maka yang pertama-tama menentang Galileo dengan menggunakan Alkitab adalah seorang bernama Lodovico delle Colombe, yang kemudian mendapat dukungan dari imam Dominikan, Tommaso Caccini (1614), walaupun pada saat itu banyak tokoh Gereja Katolik malah sebenarnya mendukung percobaan Galileo, terutama kaum Jesuit. Pandangan Gereja Katolik yang resmi akhirnya disampaikan oleh Kardinal Robertus Bellarminus, yang mengatakan demikian:

“I say that if there were a true demonstration that the sun was in the centre of the universe and the earth in the third sphere, and that the sun did not go around the earth but the earth went around the sun, then it would be necessary to use careful consideration in explaining the Scriptures that seemed contrary, and we should rather have to say that we do not understand them than to say that something is false which had been proven.” (Letter of Cardinal Bellarmine to Foscarini.) Artinya kira-kira begini: “Saya katakan jika ada pembuktian yang benar bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi di lingkaran ke tiga, dan bahwa matahari tidak berputar mengelilingi bumi tetapi bumi mengitari matahari, maka adalah penting untuk menggunakan pertimbangan yang hati-hati dalam menjelaskan Kitab Suci yang kelihatannya sebaliknya, dan kita seharusnya mengatakan bahwa kita tidak mengetahuinya daripada mengatakan sesuatu yang salah, seperti yang telah dibuktikan.” (Surat Kardinal Belarminus kepada Foscarini).

Maka di sini saja sebenarnya kita ketahui bahwa pihak otoritas Gereja Katolik mempunyai pikiran yang terbuka terhadap teori Galileo, seandainya ia dapat membuktikannya. Namun sayangnya Galelio tidak dapat membuktikannya, tapi ia bersikeras agar Gereja memperhitungkan cara baru untuk menginterpretasikan Kitab Suci. Sebenarnya, jika Galileo hanya mendiskusikan mengenai pergerakan planet, maka ia dapat terus mengajarkan konsep heliosentris ini sebagai proposal teori dengan aman, tetapi rupanya Galileo ngotot untuk mengatakan hal ini sebagai kebenaran, walaupun ia tidak mempunyai bukti yang mendukung pada saat itu. Karena bukti yang diperlukan, yaitu jalur pergeseran paralel dari bintang-bintang karena pergesaran orbit bumi mengelilingi matahari, tidak dapat diamati dengan teknologi pada saat itu. Konfirmasi stellar parallax ini baru ditemukan di abad ke 19 oleh Friedrich Wilhelm Bessel.

Karena bukti yang dapat mendukung teori ini tidak cukup memadai, maka Gereja tidak dapat mendukung teorinya. Maka pada tahun 1616, pihak Gereja Katolik mengeluarkan dekrit bahwa teori heliosentris tersebut adalah teori yang salah dan bertentangan dengan Alkitab. Perlu kita ketahui bahwa bukan hanya Gereja Katolik yang menolak teori Copernicus yang dipegang oleh Galileo, tetapi gereja Protestan juga menolaknya. Bahkan Martin Luther termasuk barisan pertama yang menentang teori heliosentris, bersama-sama dengan muridnya Melancthon dan para teolog Protestan lainnya. Mereka mengecam karya Copernicus. Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya demikian “an ass who wants to pervert the whole of astronomy and deny what is said in the book of Joshua, only to make a show of ingenuity and attract attention”. (Herbert Butterfield, The Origins of Modern Science (New York: the Free Press, 1957), p. 69). Atau Melancthon yang menyebut semua pengikut Copernicus (termasuk Galileo) sebagai “tidak jujur dan merusak” (P. Melancthon, “Initia doctrinae physicae,” Corpus Reformatorum, ed. Bretschneider, XIII, p. 216.) Maka tidak benar bahwa pada saat itu yang menentang Galileo hanya Gereja Katolik, sebab Luther dan para tokoh gereja Protestan juga menentang teori heliosentris yang diyakininya.

Pada tahun 1623 Galileo bertemu dengan Paus Urban VIII yang memperbolehkan ia mempresentasikan argumen (pro dan kontra) tentang teori heliosentris ini. Galileo membukukannya dalam bukunya Dialogue on the Two World Systems, namun ia menaruh argumen- argumen yang dikatakan oleh Paus untuk diucapkan oleh karakter Simplicio, seorang tokoh dalam buku itu yang digambarkan sebagai orang bodoh. Maka ia bukannya menampilkan hal pro dan kontra secara netral, tetapi cenderung untuk membela pandangannya yang pro terhadap heliosentris ini. Karena inilah maka akhirnya, Galileo kehilangan dukungan dari Paus yang merasa dilecehkan olehnya, dan juga oleh para Jesuit yang juga mempunyai seorang astronom yang juga mengklaim telah menemukan sunspots seperti yang telah ditemukan oleh Galileo. Galileo memang akhirnya dikenakan tahanan rumah sampai ia diadili oleh Pengadilan Inkuisisi tahun 1633, namun tidak benar jika dikatakan bahwa Galileo dibunuh oleh Gereja Katolik. Ia meninggal tetap dalam iman kekristenannya.

Urusan Galileo ini tidak ada hubungannya dengan Infalibilitas Bapa Paus. Sebab karisma Infalibilitas Bapa Paus (Paus yang tidak dapat sesat) ini hanya dapat berlaku dalam 3 syarat: 1) Bapa Paus harus berbicara dalam kapasitasnya sebagai penerus Rasul Petrus; 2) pada saat Bapa Paus mengajarkan secara definitif tentang iman dan moral; 3) Ketika Bapa Paus mendefinisikan doktrin yang harus dipegang oleh semua orang beriman. Dalam kasus Galileo ini, ketiga syarat tidak terpenuhi. Klaim yang dapat dikatakan dalam hal ini adalah bahwa Gereja pada saat itu mengeluarkan disiplin yang non-infallible terhadap seorang scientist yang mengajarkan teori yang belum bisa dibuktikan, dan yang menuntut Gereja mengubah interpretasi Kitab Suci untuk dapat menerima teorinya ini.

Adalah baik bahwa Gereja Katolik tidak terburu-buru untuk menyetujui teori Galileo ini, sebab sekarang kita ketahui bahwa teori Galileo ini tidak sepenuhnya benar. Galileo berpegang bahwa matahari tidak hanya pusat tata surya tetapi pusat seluruh jagad raya. Sekarang kita ketahui bahwa matahari bukan pusat dari seluruh jagad raya, dan matahari juga sebenarnya bergerak mengitari pusat galaksi. Maka Galileo ‘benar’ dengan menyatakan bahwa bumi bergerak, tetapi ’salah’ dengan menyatakan matahari tidak bergerak. Sebaliknya para opponent Galileo ‘benar’ dalam mengatakan bahwa matahari bergerak, namun ’salah’ dengan menyatakan bumi tidak bergerak.

Terlepas dari bermacam kontroversi Galileo ini, kenyataannya, Gereja Katolik juga telah berusaha mengembalikan nama baik Galileo. Paus Yohanes Paulus II pernah membuat permintaan maaf secara formal pada tahun 1992. Sekarang malah direncanakan Vatikan akan meletakkan patung Galileo di kompleks Vatikan, yaitu kebun di dekat apartemen tempat Galileo ditahan ketika menunggu pengadilan tahun 1633. Namun jauh sebelumnya melalui surat ensikliknya Providentissimus Deus (1893), Paus Leo XIII telah mendorong pendekatan/approach Galileo untuk menyelaraskan antara iman dan ilmu pengetahuan, sebab keduanya sebenarnya tak mungkin bertentangan, walaupun memang Alkitab bukan buku science/ ilmu pengetahuan. Jika ada ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan dengan science, itu adalah karena penyampaiannya dengan gaya bahasa fenomenologis, dan inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan komentar atau pertanyaan Anda disini