Penanggalan atau Kalender yang kita
pakai sekarang disebut Kalender Gregorian dan didasarkan
atas tahun solar. Apa arti kata-kata asing itu? Lewat tulisan ini
saya mencoba menguraikan dengan singkat, padat dan mudah-mudahan jelas.
Tiga
ukuran waktu
Sejak
awal mula manusia tidak hanya mencoba menguasai dunia, melainkan juga waktu.
Ukuran apa yang bisa dipakai untuk penguasaan itu? Ada tiga kejadian di alam
yang menolong mengukur waktu:
- Perputaran
atau rotasi bumi mengelilingi porosnya.
- Peredaran
bulan mengelilingi bumi atau dikenal dengan revolusi bulan.
- Peredaran
bumi mengelilingi matahari atau dikenal dengan revolusi bumi.
Perputaran
bumi
Perputaran
bumi sekali mengelilingi porosnya kita menyebutnya satu hari, dan
kita membagi dua: siang dan malam hari, tergantung apakah bumi menghadap
matahari atau membelakanginya. Jangka waktu rotasi itu kini dibagikan menjadi
24 bagian yang sama panjangnya, terlepas dari panjangnya malam dan siang, dan
kita sebut 24 jam.
Kita
mesti tahu, bahwa di daerah tropis siang dan malam hampir tetap sama
panjangnya. Beda halnya di belahan bumi utara: di situ hari siang, mulai dari ±
20 Maret, makin menjadi lebih panjang, sampai berpuncak pada tanggal 21 Juni,
dan malam hari, mulai dengan 22 September, menjadi lebih panjang, sampai
berpuncak pada 21 Desember. Dan ada dua tanggal, di mana siang dan malam sama
panjangnya yaitu ± 20 maret dan 22 September dan disebut Ekuinoks I/II.
Bahkan
di kutub utara untuk 3 bulan lamanya matahari tidak terbit dan 3 bulan tidak
terbenam. Di belahan bumi Selatan (Amerika Selatan, Afrika Selatan, Australia
dst) terjadi sebaliknya. Orang Romawi (dan juga Perjanjian Baru) telah
membagikan hari siang menjadi 12 jam, mulai dengan terbitnya matahari sampai
terbenamnya, dan 4 ronda malam waktu musim dingin dan 3 ronda malam (lih. Luk
12,38) waktu musim panas. Jam-jam tidak sama panjang. Dan sesuai dengan tempat
matahari mudah bisa ditaksirkan, hanya dihitung jam satu (hora prima), jam tiga
(hora tertia, pukul 9 Wib), jam 6 (hora sexta, siang) jam 9 (hora nona jam 3
sore; dari situ “afternoon”) dan jam 12 (terbenam matahari). Ke lima waktu
(hora) itu merupakan juga lima waktu berdoa (ofisi) dan digabungkan dengan
peristiwa-peristiwa keselamatan (lht. Mat 20:3-6, Kis 2 :15; 3:1:10:3.9).
B
u l a n
Bulan,
satelit bumi yang setia, dalam jangka 29,5 (persis 29, 530589) hari sekali
hilang, sekali nampak penuh (purnama, tuli, te’o) alias
mengelilingi bumi, sehingga bila dia berada di antara bumi dan matahari, kita
melihat punggungnya yang gelap, dan bila dia di jauh matahari, alias di belakang
bumi, kita melihatnya penuh disinari matahari. Di antaranya ada fase tumbuh (tesa’a
= Nias) dan fase surut (akhömita = Nias) sampai lagi “bulan gelap” (fasulöta/fasulöna).
Untuk masa pendek baik dulu dan masih sampai sekarang peredaran bulan dipakai
sebagai ukuran waktu.
B
u m i
Bumi
mengelilingi matahari dalam jangka 365 (persisnya 365, 24219879) hari. Dan ini
disebut tahun tropis atau tahun solar (dari sol-matahari).
Dan ini kita sebut 1 tahun. Karena dalam jangka waktu itu juga suatu bintang
tertentu muncul kembali di tempat yang sama pada waktu yang sama, maka orang
Nias menyebut tahun döfi. Karena poros
bumi condong 23º 27′ (alias miring), maka terjadilah musim-musim: di daerah tropis: musim kemarau dan musim
hujan, di daerah lain: musim dingin, semi, panas dan gugur; dan ada waktu
matahari naik ke atas dan waktu matahari tinggal di dekat horizon. (Bahwa poros
bumi miring, kita bisa melihat, di mana matahari bisa terbit pada hari Natal
(25 Desember) dan pada tanggal 24 Juni (kelahiran St. Yohanes), selisih juga 23
derajat.
Dan
kita mesti tahu, bahwa tumbuhan tanaman beserta panen sangat erat terikat
dengan musim-musim. Mulai dengan musim dingin sampai musim panas (lebih 6 bulan
lamanya) bumi tidak menghasilkan sesuatu, sehingga sebelum musim dingin mulai
segala makanan baik untuk manusia maupun untuk hewan untuk lebih 6 bulan harus
disiapkan di rumah. Burung-burung berpindah ribuan kilometer ke daerah tropis,
dan banyak jenis binatang tidur saja di bawah tanah; ikan dan kodok dsb. di
lumpur sungai. Maka masyarakat terpaksa memperhitungkan tahun solar dengan ke-4
musim.
Kedua
angka di atas,peredaran bulan dengan 29, 530589 hari dan peredaran bumi dengan
365, 24219879 tidak bisa diperdamaikan. Maka umat manusia mesti memutuskan,
apakah kalender didasarkan atas tahun lunar (luna=bulan) atau solar (sol=
surya, matahari). Agama Islam telah memilih tahun lunar murni, berarti
menghitung bulan dengan 29 atau 30 dan satu tahun 12 bulan) dengan 354 atau 355
hari. Berarti hari raya Islam dan bulan puasa setiap tahun maju 10 atau 11
hari. Tahun Ibrani (Perjanjian Lama) mengombinasikan tahun lunar dengan tahun
solar, tetapi mengutamakan tahun solar dengan memperhatikan ekuinoks. Kini kita
menggunakan tahun solar murni. Yang kini disebut bulan adalah bulan abstrak,
berarti terlepas dari peredaran bulan di langit.
Tahun
Solar
Mesir
kuno adalah negara yang paling dini memilih tahun solar murni untuk menghitung
waktu. Tidak diketahui mulai sekak kapan, tetapi pada waktu tahun 238 SM dalam
maklumat dari Kanopis, raja Mesir (Firaun) Ptolemeus III, juga disebut
Euergetes, menetapkan bahwa setiap tahun mempunyai 365 hari, dan setiap tahun
ke-4 366 hari. Tahun dengan 366 hari kini kita sebut tahun kabisat (bila
angka bisa dibagikan dengan 4). Berarti peredaran bumi dihitung dengan 365,25
hari. Dan ini cukup dekat dengan angka benar di atas.
Dalam
perhitungan itu, Ptolemeus ditolong dengan terbitnya bintang Sirius (di rasi
bintang Anjing dekat Orion) setiap tahun pada tanggal yang sama di ufuk langit.
Dan terbitnya itu bertepatan dengan permulaan banjir sungai Nil di musim semi.
Nil begitu banyak membawa lumpur dan lumpur itu berarti kesuburan dan berkat.
Mengetahui kapan mulai banjir itu sangat penting untuk orang Mesir. Sebagai informasi
Sirius dihormati sebagai dewa Sothis.
Mesir
kuno juga sudah mempunyai sistem minggu dengan enam hari kerja
dan satu hari istirahat atau hari pantang. Dari situ mungkin Israel membawanya ke
Palestina, dipimpin oleh Musa (sekitar 1300 SM) dan menggabungkannya dengan
agama Israel.
Tahun
Solar di Roma
Kalender
Mesir itu yang begitu pas, ditemui oleh Gayus Julius Caesar, panglima dan
penguasa Roma (100 – 44 SM), ketika dia mengunjungi Kleopatra, ratu Mesir, dan
dibawanya ke Roma. Di kerajaan Roma waktu itu kalender sangat kacau, sehingga
masyarakat menderita (tentang pajak, waktu dinas, pesta, dll). Caesar dalam hal
ini ditolong oleh Sosigenes, matematikus dan ahli bintang Yunani, dari
universitas di Aleksandria, Afrika Utara. Revisi kalender Roma terjadi tahun 46
SM.
Selain
mengambil alih kalender solar dari Mesir, Caesar menetapkan, 1 Januari menjadi
permulaan tahun (sebelumnya dipertengahan bulan maret). Dan supaya permulaan
tahun solar sesuai dengan 1 Januari itu, tahun 46 itu berlangsung 445 hari,
tahun terpanjang di sejarah umat manusia. Kalender itu disebut kalender Julian
untuk menghormati Julius Caesar, dan juga bulan ke-7 disebut menurut dia.
Caesar
pada tahun 44 dibunuh. Penggantinya, Kaisar Oktavianus Agustus (44 SM-14 M),
memperbaiki hal-hal kecil. Sejak beliau didewakan oleh senatus Roma (DPR),
bulan ke-8 disebut menurut dia. Karena bulan Agustus waktu itu hanya mempunyai
30 hari, maka “dicuri” satu hari di bulan Februari dan ditambah di bulan
Agustus, karena dianggap tidak layak bulan Agustus lebih pendek dari pada
bulan-7 yang disebut menurut Julius Caesar, karena Caesar hanya panglima dan
bukan kaisar.
Revisi
kalender oleh Paus Gregorius XIII
Umat
Kristen sejak awal mula mengikuti kalender solar Romawi. Namun perayaan Paska
masih tetap terikat dengan tahun lunar-solar Ibrani, disebabkan oleh Kel 12:3
di mana Paska ditetapkan pada malam 14/15 Nisan (bulan purnama sesudah Ekuinoks
I). Tetapi umat Kristen harus juga memperhatikan Yoh 20:1 dan ketiga Injil
lainnya, yaitu hari pertama, yaitu hari Minggu, dalam
konteks Paskah. Karena sebagian umat merayakan Paskah pada tanggal bulan
purnama (seperti orang Yahudi) dan sebagian pada hari Minggu sesudahnya (sesuai
dengan Injil), maka konsili Nicea tahun 325 M menetapkan: Paskah tetap
dirayakan pada Hari Minggu sesudah bulan purnama sesudah ekuinoks I (21 Maret
dulu). Maka hari Paskah bisa bergeser lebih satu bulan, di antara 22 Maret s/d
25 April). Dengan hari Paskah bergeser juga masa Prapaska dan masa Paskah,
dengan Kenaikan Tuhan dan Pentakosta, serta HR Tritunggal, Tubuh dan Darah
Kristus, Hati Kudus Yesus (dan peringatan Hati Tak Bernoda S.P.Maria).
Sekitar
tahun 1580 Paus Gregorius XIII tidak lagi bisa tidur dengan tenang, karena
ketika beliau berdoa di kapel Sixtina pada hari raya Paskah, mata beliau
sendiri bisa menyaksikan, bahwa matahari sudah terlalu tinggi dari pada
diizinkan oleh konsili Nicea. Apa yang telah terjadi?
Tahun
Julian sudah terlambat 10 hari dari tahun solar yang benar, sehingga ketetapan
Konsili Nicea (dan Kitab Suci) tidak lagi bisa diindahkan. Selisih itu terjadi
karena tahun Julian masih kurang teliti.
Tahun
Julian, seperti juga tahun Mesir, menghitung 365,25 hari, tetapi
semestinya hanya 365, 2422 (lihat di atas). Perbedaan angka di
belakang koma itu dalam jangka 128 tahun menjadi 1 hari, dan dalam abad
Paus Gregorius sudah menjadi 10 hari. Maka Paus mengundang para ahli astronomi
yang paling unggul ke Roma untuk berunding. Sesuai dengan nasehat mereka Paus
pada tanggal 24 Februari 1582 dengan bulla Intergravissimis menetapkan
(sebenarnya hanya untuk liturgi):
- Pada
tanggal 4 Oktober nanti kalender melompat langsung ke tanggal 15 Oktober.
- Semua
tahun abadiah (1700, 1800, 1900 dst) tidak menjadi tahun kabisat, seperti
lazim sampai sekarang, kecuali bisa dibagikan dengan 400. Berarti tahun
1600, 2000, 2400 tetap tahun kabisat.
Kalender
ini baru sesudah 3300 tahun akan lari satu hari dari tahun solar benar,
sedangkan kalender Julian kini sudah 14 hari (lebih) terlambat. Nah, kalender
ini disebut kalender Gregorian dan merupakan Kalender Julian dan Mesir
yang disempurnakan.
Nasib
Kalender Gregorian
Revisi
kalender itu pada permulaan tidak diterima dengan antusias, karena makhluk
manusia dalam prinsip malas dan banyak orang menghafal hari peringatan lama.
Apalagi negara yang protestan dan agama lain menganggap kalender itu sebagai
kalender paus. “Bagaimana mungkin kita tunduk kepada Paus?” mereka bilang.
Namun ahli pelbagai ilmu lambat laun bisa meyakinkan negara-negara non-katolik,
bahwa kalender Gregorian “benar” (sesuai dengan tahun solar).
Italia,
Spanyol, Perancis, Portugal, Luxemburg dan Polandia (negara katolik) langsung
taat. Austria, Swiss dan Bayern ikut tahun berikut. Hunggaria 1587, Jerman
(protestan) baru 1700; Inggris dengan antek-anteknya (Negara Persemakmuran)
ikut tahun 1752, Finlandia, Denmark dan Swedia tahun berikut; Jepang 1873;
China 1911; Rusia 1918 (sesudah revolusi komunis); Yunani 1924; Turki 1926;
Mesir 1928. (Indonesia tidak diketahui.)
Di
dalam hidup sipil praktis seluruh dunia kini memakai Kalender Gregorian. Jepang
dan China dalam kebudayaan mempunyai kalender tersendiri yang sangat kuno,
tetapi karena ingin menggabungkan diri dengan dunia lain, terpaksa ikut juga
Kalender Gregorian. Demikian juga negara-negara Islam untuk agama Islam tetap
mempertahankan kalender lunar murni. Gereja orthodoks masih mempertahankan
Kalender Julian.
Karena
di banyak negera Paskah dan Pentakosta merupakan libur sekolah dan digabungkan
dengan perayaan Karnaval dll., maka Konsili Vatikan II menerangkan bahwa Gereja
Katolik tidak keberatan, bila termin Paskah diikat (misalnya hari Minggu
pertama dalam bulan April) atau dilaksanakan revisi kalender, asal semua
golongan yang merayakan Paskah setuju, asal sistem dengan 7 hari satu minggu
tidak disentuh dan Paskah tetap dirayakan pada hari Minggu (SC Apendiks).
- Januari dari dewa Yanus, dewa permulaan,
pembukaan (digambar dengan dua wajah).
- Februari dari febrii=upacara-upacara
silih dosa, dilaksanakan di Roma pada akhir tahun lama. Februati memang
kalender lama bulan terakhir dan mengumpulkan hari-hari sisa dan
kadang-kandang ditambah hari-hari kelebihan (kabisat).
- Maret dari dewa perang Mars, anak
Yupiter, ayah Romulus, pendiri kota Roma (thn 753 SM)
- April dari aperire = membuka. Permulaan
tahun lama jatuh kadang-kadang bulan Maret atau April.
- Mei dari Mayus, Mayor = Agung,
atribut untuk Yupiter, dewa tertinggi di Roma, dewa kesuburan. (Bulan
Mei merupakan permulaan tumbuhan dan musim bunga).
- Juni dari Yuno, isteri Yupiter,
dewi perkawinan.
- Juli dari Gayus Julius Caesar, bapak
kalender Julian, penguasa Roma (100-44 SM), panglima jaya.
- Agustus dari Oktavianus Augustus, kaisar
pertama di kerajaan Roma (27 SM – 14 M). Di bawah pemerintahan Augustuslah
Yesus lahir.
- September dari Septem = sapta, tujuh;
berarti bulan ke-7 (perhitungan lama, sebelum kalender Julian).
- Oktober dari okto = delapan.
- November dari novem = sembilan.
- Desember dari decem = sepuluh.
Kalender dari Kalendae (bah. Latin)
= awal bulan (dari calare=berseru; to call) Sub imam Agung (pontifex minor)
setiap awal bulan 5 sampai 7 kali berseru, bahwa bulan baru mulai (dan orang
harus membayar gaji dan pajak).
Tahun
2000 (gregorian) adalah tahun 5761 orang Yahudi (sejak penciptaan dunia) tahun
1421 orang Islam (sejak hijrah) tahun 7509 dari era byzantin (sejak
penciptaan dunia) tahun 2660 era kebudayaan Jepang tahun 1717 era
Diokletianus atau era para martir
Beberapa
abad lamanya Gereja menghitung menurut era terakhir ini, yang mulai dengan
penobatan Kaisar Diokletianus (284 M). Di antara semua kaisar Romawi
Diokletianus merupakan penganiaya Gereja yang paling kejam. Karena itu juga,
era itu disebut era para martir. Rahib Dionisius Exiguus dari Siria-Palestina
yang sekitar tahun 500 M berkarya di Roma dia menganggap baik, bila waktu tidak
dihitung menurut penganiaya yang kejam itu, melainkan menurut Sang Penebus
dunia. Maka atas dorongan paus, dia menghitung-hitung waktu Yesus lahir di
Betlehem. Sejak itu Gereja kenal era kristiani, yaitu bahwa kita menghitung
tahun SM dan M (sebelum Masehi/Mesias dan
sesudahnya). Namun kita kini tahu, bahwa hasil Dionisius Exiguus meleset dari
kebenaran historis, 4 atau 7 tahun. Karena kini hampir seluruh dunia menghitung
waktu menurut era kristiani (dalam hidup sipil dan ilmu), maka kesilafan
Dionisius Exiguus tidak lagi bisa diperbaiki. Menarik bahwa masih ada golongan
yang menghitung menurut era para martir, dan astronomi mengenal tahun 0. (Disadur dari berbagai sumber)