... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

GAJAH MADA

 Tulisan ini bermula dari rasa penasaran atas satu kalimat samar yang saya dengar dari rekan guru Sejarah yang sedang mengajar di kelas yang mengatakan bahwa Gajah Mada secara harfiah berarti Gajah Mabuk. Jujur baru pertama kali saya mendengar hal itu. Awalnya saya hanya penasaran saja, sampai akhirnya saya membaca beberap tulisan dan juga bertanya kepada AI tentang siapa sebenarnya Gajah Mada. Akhirnya sesudah mendapatkan beberapa poin penting, saya menuliskan sebagai pengingat untuk saya di masa depan, dan siapa tahu dapat bermanfaat untuk orang lain juga.

Gajah Mada sendiri hidup antara tahun 1290 - 1364). Ia dikenal juga dengan nama Jirnnodhara. Beliau merupakan seorang panglima perang dan Mapatih (baca: perdana menteri) yang sangat berpengaruh di Nusantara pada zaman kerajaan Majapahit.

Menurut catatan yang tersedia seperti dalam puisi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya menjadi Patih. Dia diangkat menjadi patih, pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi. Karirnya berlanjut hingga masa kekuasaan Hayam Wuruk yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia diketahui menganut keyakinan Syiwa-Budha.

Garis Keturunan

“Pada tahun saka 1213/1291 M, Bulan Jyesta, pada waktu itu saat wafatnya Paduka Bhatara yang dimakamkan di Siwabudha Rakryan Mapatih Mpu Mada, yang seolah-olah sebagai yoni bagi Bhatara Sapta Prabhu, dengan yang terutama di antaranya ialah Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwarddhani, cucu-cucu putra dan putri paduka Bhatara Sri Krtanagarajnaneuwarabraja Namabhiseka pada waktu itu saat Rakryan Mapatih Jirnnodhara membuat caitya bagi para brahmana tertinggi Siwa dan Buddha yang mengikuti wafatnya paduka Bhatara dan sang Mahawrddhamantri (Mpu Raganatha) yang gugur di kaki Bhatara.”

Demikian bunyi Prasasti Gajah Mada yang bertarikh 1273 saka atau tahun 1351. Sebagai mahamantri terkemuka, Gajah Mada dapat mengeluarkan prasastinya sendiri dan berhak memberi titah membangun bangunan suci (caitya) untuk tokoh yang sudah meninggal. Prasasti itu memberitakan pembangunan caitya bagi Kertanagara. Raja terakhir Singosari itu gugur di istananya bersama patihnya, Mpu Raganatha dan para brahmana Siva dan Buddha, akibat serangan tentara Jayakatwang dari Kediri.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, agaknya Gajah Mada memiliki alasan khusus mengapa memilih membangunkan caitya bagi Kertanagara daripada tokoh-tokoh pendahulu lainnya. Padahal, selama era Majapahit yang dipandang penting tentunya Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit. kemungkinan besar bangunan suci yang didirikan atas perintah Gajah Mada adalah Candi Singhasari di Malang. Pasalnya, Prasasti Gajah Mada ditemukan di halaman Candi Singhasari. Bangunan candi lain yang dihubungkan dengan Kertanagara, yaitu Candi Jawi di Pasuruan. Candi ini sangat mungkin didirikan tidak lama setelah tewasnya Kertanagara di Kedaton Singhasari.

Menurut Agus, berdasarkan data prasasti, karya sastra, dan tinggalan arkeologis, ada dua alasan mengapa Gajah Mada memuliakan Kertanagara hingga mendirikan candi baginya. Pertama, Gajah Mada mencari legitimasi untuk membuktikan Sumpah Palapa. Dia berupaya keras agar wilayah Nusantara mengakui kejayaan Majapahit. Kertanagara adalah raja yang memiliki wawasan politik luas. Dengan wawasan Dwipantara Mandala, dia memperhatikan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa. Dengan demikian Gajah Mada seakan meneruskan politik pengembangan mandala hingga seluruh Dwipantara (Nusantara) yang awalnya telah dirintis oleh Kertanegara.

Kedua, dalam masa Jawa Kuno, candi atau caitya pen-dharma-an tokoh selalu dibangun oleh kerabat atau keturunan langsung tokoh itu, seperti Candi Sumberjati bagi Raden Wijaya dibangun tahun 1321 pada masa Jayanegara; dan Candi Bhayalango bagi Rajapatmi Gayatri dibangun tahun 1362 oleh cucunya, Hayam Wuruk. Atas alasan itu, Gajah Mada masih keturunan dari Raja Kertanagara. Setidaknya Gajah Mada masih punya hubungan darah dengan Kertanagara.

Ayah Gajah Mada mungkin sekali bernama Gajah Pagon yang mengiringi Raden Wijaya ketika berperang melawan pengikut Jayakatwang dari Kediri. Gajah Pagon tidak mungkin orang biasa, bahkan sangat mungkin anak dari salah satu selir Kertanagara karena dalam kitab Pararaton, nama Gajah Pagon disebut secara khusus. Ketika itu, Raden Wijaya begitu mengkhawatirkan Gajah Pagon yang terluka dan dititipkan kepada seorang kepala desa Pandakan. Menurutnya, sangat mungkin Gajah Pagon selamat kemudian menikah dengan putri kepala desa Pandakan dan akhirnya memiliki anak, yaitu Gajah Mada yang mengabdi pada Majapahit.

Gajah Mada mungkin memiliki eyang yang sama dengan Tribhuwana Tunggadewi. Bedanya Gajah Mada cucu dari istri selir, sedangkan Tribhuwana adalah cucu dari istri resmi Kertanagara. Dengan demikian, tidak mengherankan dan dapat dipahami mengapa Gajah Mada sangat menghormati Kertanagara karena Raja itu adalah eyangnya sendiri. Hanya keturunan Kertanegara saja yang akan dengan senang hati membangun caitya berupa Candi Singasari untuk mengenang kebesaran leluhurnya itu. Bahkan konsepsi Dwipantra Mandala dari Kertanagara mungkin menginspirasi dan mendorong Gajah Mada dalam mencetuskan Sumpah Palapa.

Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang kariernya naik saat menjadi Bekel (kepala pasukan) Bhayangkara (pengawal Raja) pada masa Prabu Jayanagara (1309–1328). Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada, sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.

Gelar Gajah Mada

Kata "Gajah" mengacu kepada hewan yang besar yang disegani hewan lainnya, dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai wahana (hewan tunggangan) dari dewa Indra. Gajah juga dihubungkan dengan Ganesa, dewa berkepala gajah berbadan manusia, putra Siwa dan Parwati. Adapun kata "Mada" dalam bahasa Jawa kuno artinya mabuk, bisa dibayangkan jika seekor gajah sedang mabuk, ia akan berjalan seenaknya, beringas, menerabas segala rintangan. Maka apabila dihubungkan dengan tokoh Gajah Mada, nama itu dapat ditafsirkan dalam dua sifat, yaitu:

  • Ia menganggap dirinya sebagai wahana raja, pelaksana perintah-perintah raja, sebagaimana gajah Airawata menjadi wahana dewa Indra
  • Ia adalah orang yang seakan-akan mabuk dan beringas apabila menghadapi berbagai rintangan yang akan menghambat kemajuan kerajaan. Sungguh merupakan pilihan nama yang tepat dan agaknya nama itu telah dipikirkan masak-masak maknanya sebelum dipakai untuk nama dirinya

Dalam prasasti Gajah Mada diketahui julukan lain, yaitu Rakryan Mapatih Jirnnodhara. Mungkin nama itu hanya sekadar gelaran bagi Gajah Mada, tetapi dapat pula dipandang sebagai nama resminya. Arti kata Jirnnodhara adalah "pembangun sesuatu yang baru" atau "pemugar sesuatu yang telah runtuh/rusak". Dalam pengertian harfiah Gajah Mada adalah pembangun caitya bagi Kertanegara yang semula belum ada. Dalam pengertian kiasan ia dapat dipandang sebagai pemugar dan penerus gagasan Kertanegara dalam konsep Dwipantara Mandala

Meski perannya di Kerajaan Majapahit begitu melegenda, akhir riwayat Gajah Mada hingga kini masih belum jelas. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada Biografi Politik menulis, ada berbagai sumber yang mencoba menjelaskan akhir hidup Gajah Mada. Sumber pertama adalah Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca itu mengisahkan akhir hidup Gajah Mada dengan kematiannya yang wajar pada tahun 1286 Saka (1364 M).

Dari berbagai cerita rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menarik diri setelah Peristiwa Bubat dan memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru. Di wilayah Probolinggo ini memang terdapat air terjun bernama Madakaripura yang airnya jatuh dari tebing yang tinggi. Di balik air terjun yang mengguyur bak tirai itu terdapat deretan ceruk dan satu goa yang cukup menjorok dalam dan dipercaya dulu Gajah Mada menjadi pertapa dengan menarik diri dari dunia ramai sebagai wanaprastha (menyepi tinggal di hutan) hingga akhir hayatnya.

Kidung Sunda menyebutkan bahwa Gajah Mada tidak meninggal. Kidung ini membeberkan bahwa Gajah Mada moksa dalam pakaian kebesaran bak Dewa Visnu. Dia moksa di halaman kepatihan kembali ke khayangan. Namun, Agus Aris Munandar menyatakan bahwa akhir kehidupan Gajah Mada lenyap dalam uraian ketidakpastian karena dia malu dengan pecahnya tragedi Bubat. Selanjutnya, menurut Agus, bisa ditafsirkan bahwa Gajah Mada memang sakit dan meninggal di Kota Majapahit atau di area Karsyan yang tak jauh dari sana. Itu sebagaimana dengan keterangan kembalinya Rajasanagara ke ibu kota Majapahit dalam Nagarakretagama, segera setelah mendengar sang patih sakit.

Ketidakhadiran Gajah Mada dalam politik Majapahit meninggalkan luka bagi sang raja. Hayam Wuruk sangat bersedih. Bahkan dikisahkan raja itu begitu putus asa. Dia langsung menemui ibunya, kedua adik, dan kedua iparnya untuk membicarakan pengganti kedudukan sang Patih Amangkubhumi. Namun, "Baginda berpegang teguh, Adimenteri Gadjah Mada tak akan diganti,” tulis Nagarakretagama pupuh 71 bait 3.

Hayam Wuruk pun mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Gajah Mada. Karena tidak ada satu pun yang sanggup menggantikan Patih Gajah Mada, Hayam Wuruk kemudian memilih empat Mahamantri Agung dibawah pimpinan Mpu Nala Tanding untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Mereka pun digantikan oleh dua orang mentri yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Akhirnya Hayam Wuruk memutuskan untuk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Amangkubhumi menggantikan posisi Gajah Mada.

(Disadur dari berbagai sumber)

GALILEO GALILEI vs GEREJA KATOLIK

Saya pernah berdiskusi dengan sahabat saya, juga saya anggap orangtua saya sendiri, yang sangat berminat dengan ilmu perbintangan (astrologi). Beliau berkebangsaan Jerman dan menjadi WNI sejak umur 32 tahun. Walaupun kini sudah kembali lagi di Negara asalanya, di Jerman. Pada saat itu beliau menunjukan kepada saya foto Galileo yang sungguh luar biasa itu.

Seperti biasa, kalau kita pernah mendengar sesuatu pasti suatu saat kita ceritakan pula kepada orang lain, tak tertutup kemungkinan kepada orang yang pertama menceritakan cerita itu sendiri kepada kita. Maka suatu ketika, saya juga menceritakan hal yang sama kepada teman saya, dan dia bilang: “Gereja Katolik membunuh Galileo! Gereja bilang bumi itu rata dan Galileo bilang bumi bulat.” Karena saya orang katolik yang setengah beriman, kuping saya memerah dan terasa sangat panas.

Sekembalinya di rumah, saya melakukan studi literatur tentang Galileo Galilei tersebut. Studi itu sangat disayangkan jika saya menyimpannya sendiri, sehingga tulisan ini saya bagikan juga kepada orang lain sekaligus untuk meluruskan anggapan yang salah itu.

Teman itu sebenarnya keliru dengan mengatakan bahwa kasus Galileo adalah mempermasalahkan bahwa bumi itu rata atau bulat, sedangkan Gereja Katolik mengatakan bumi itu rata. Karena soal bumi itu bulat sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang sejak lama, bahkan ilmu astronomi kuno sudah mengetahuinya, yang mungkin juga dipengaruhi oleh filsuf Yunani Pythagoras 570 BC, dan Aristoteles 427-247 BC yang mengajarkan bahwa: “Every portion of the earth tends toward the center until by compression and convergence they form a sphere – Tiap-tiap bagian di bumi cenderung menuju ke arah pusat dan dengan tekanan dan pemusatan mereka membentuk suatu lapisan (De caelo, 297a9-21).”

Orang cukup mendaki gunung yang tinggi dan melihat busur cakrawala, dan mengetahui bahwa bumi itu seperti busur/ bulat. Dengan ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Colombus (1492), maka juga sudah dibuktikan bahwa bumi itu bulat di abad ke 15, sekitar seabad sebelum kasus Galileo. Maka Gereja Katolik, yang tidak pernah menentang ilmu pengetahuan, juga tidak mengajarkan bahwa bumi itu rata. Kendatipun memang jika kita membaca Alkitab, terdapat ayat-ayat yang seolah-olah mengatakan bahwa bumi itu rata, contohnya Yes 11:12 dan Why 7:1 yang menyebutkan keempat sudut bumi, atau Ayb 38:13, Yer 16:19, Dan 4:11 yang menyebutkan ‘ujung bumi’. Namun Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan dokumen pengajaran apapun yang mengajarkan bahwa bumi itu rata. Tetapi dalam Alkitab juga (Yes 40:22) mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Yang dipermasalahkan oleh Galileo adalah bahwa ia mendukung teori Copernicus, yaitu konsep heliosentris (matahari sebagai pusat yang statis, sedangkan bumi, bulan dan planet-planet berputar mengelilingi matahari), dan bukannya geo-sentris (bumi sebagai pusat dan bahwa semua planet, bulan dan matahari-lah yang mengitari bumi) yang pada saat itu (abad ke- 17) memang merupakan pandangan umum masyarakat. Kemungkinan besar, pandangan geo-sentris ini didasari juga oleh beberapa ayat Alkitab yang menyatakan bahwa seolah-olah mataharilah yang bergerak mengitari bumi, sedangkan bumi itu sendiri diam, seperti yang dikisahkan dalam kitab Yosua 10:12-13, Mazmur 93:1; 104:1-5, dan Pengkhotbah 1:5.

Pada saat teleskop ditemukan sekitar 1608, sehingga Galileo menggunakannya (1610) untuk mengamati tata surya, maka ia melihat adanya 4 satelit/bulan yang mengitari planet Yupiter, dan ini membuktikan bahwa tidak semua planet bergerak mengitari bumi. Namun penemuan teleskop itu tidak bisa secara meyakinkan menjelaskan secara empiris bahwa semua planet, termasuk bumi bergerak mengitari matahari. Inilah permasalahannya. Sebab ada juga teori lain saat itu, yang dipelopori oleh Tycho de Brahe, yang mengatakan bahwa semua planet bergerak mengitari matahari, dan bersama-sama dengan matahari, semuanya mengitari bumi.

Maka yang pertama-tama menentang Galileo dengan menggunakan Alkitab adalah seorang bernama Lodovico delle Colombe, yang kemudian mendapat dukungan dari imam Dominikan, Tommaso Caccini (1614), walaupun pada saat itu banyak tokoh Gereja Katolik malah sebenarnya mendukung percobaan Galileo, terutama kaum Jesuit. Pandangan Gereja Katolik yang resmi akhirnya disampaikan oleh Kardinal Robertus Bellarminus, yang mengatakan demikian:

“I say that if there were a true demonstration that the sun was in the centre of the universe and the earth in the third sphere, and that the sun did not go around the earth but the earth went around the sun, then it would be necessary to use careful consideration in explaining the Scriptures that seemed contrary, and we should rather have to say that we do not understand them than to say that something is false which had been proven.” (Letter of Cardinal Bellarmine to Foscarini.) Artinya kira-kira begini: “Saya katakan jika ada pembuktian yang benar bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi di lingkaran ke tiga, dan bahwa matahari tidak berputar mengelilingi bumi tetapi bumi mengitari matahari, maka adalah penting untuk menggunakan pertimbangan yang hati-hati dalam menjelaskan Kitab Suci yang kelihatannya sebaliknya, dan kita seharusnya mengatakan bahwa kita tidak mengetahuinya daripada mengatakan sesuatu yang salah, seperti yang telah dibuktikan.” (Surat Kardinal Belarminus kepada Foscarini).

Maka di sini saja sebenarnya kita ketahui bahwa pihak otoritas Gereja Katolik mempunyai pikiran yang terbuka terhadap teori Galileo, seandainya ia dapat membuktikannya. Namun sayangnya Galelio tidak dapat membuktikannya, tapi ia bersikeras agar Gereja memperhitungkan cara baru untuk menginterpretasikan Kitab Suci. Sebenarnya, jika Galileo hanya mendiskusikan mengenai pergerakan planet, maka ia dapat terus mengajarkan konsep heliosentris ini sebagai proposal teori dengan aman, tetapi rupanya Galileo ngotot untuk mengatakan hal ini sebagai kebenaran, walaupun ia tidak mempunyai bukti yang mendukung pada saat itu. Karena bukti yang diperlukan, yaitu jalur pergeseran paralel dari bintang-bintang karena pergesaran orbit bumi mengelilingi matahari, tidak dapat diamati dengan teknologi pada saat itu. Konfirmasi stellar parallax ini baru ditemukan di abad ke 19 oleh Friedrich Wilhelm Bessel.

Karena bukti yang dapat mendukung teori ini tidak cukup memadai, maka Gereja tidak dapat mendukung teorinya. Maka pada tahun 1616, pihak Gereja Katolik mengeluarkan dekrit bahwa teori heliosentris tersebut adalah teori yang salah dan bertentangan dengan Alkitab. Perlu kita ketahui bahwa bukan hanya Gereja Katolik yang menolak teori Copernicus yang dipegang oleh Galileo, tetapi gereja Protestan juga menolaknya. Bahkan Martin Luther termasuk barisan pertama yang menentang teori heliosentris, bersama-sama dengan muridnya Melancthon dan para teolog Protestan lainnya. Mereka mengecam karya Copernicus. Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya demikian “an ass who wants to pervert the whole of astronomy and deny what is said in the book of Joshua, only to make a show of ingenuity and attract attention”. (Herbert Butterfield, The Origins of Modern Science (New York: the Free Press, 1957), p. 69). Atau Melancthon yang menyebut semua pengikut Copernicus (termasuk Galileo) sebagai “tidak jujur dan merusak” (P. Melancthon, “Initia doctrinae physicae,” Corpus Reformatorum, ed. Bretschneider, XIII, p. 216.) Maka tidak benar bahwa pada saat itu yang menentang Galileo hanya Gereja Katolik, sebab Luther dan para tokoh gereja Protestan juga menentang teori heliosentris yang diyakininya.

Pada tahun 1623 Galileo bertemu dengan Paus Urban VIII yang memperbolehkan ia mempresentasikan argumen (pro dan kontra) tentang teori heliosentris ini. Galileo membukukannya dalam bukunya Dialogue on the Two World Systems, namun ia menaruh argumen- argumen yang dikatakan oleh Paus untuk diucapkan oleh karakter Simplicio, seorang tokoh dalam buku itu yang digambarkan sebagai orang bodoh. Maka ia bukannya menampilkan hal pro dan kontra secara netral, tetapi cenderung untuk membela pandangannya yang pro terhadap heliosentris ini. Karena inilah maka akhirnya, Galileo kehilangan dukungan dari Paus yang merasa dilecehkan olehnya, dan juga oleh para Jesuit yang juga mempunyai seorang astronom yang juga mengklaim telah menemukan sunspots seperti yang telah ditemukan oleh Galileo. Galileo memang akhirnya dikenakan tahanan rumah sampai ia diadili oleh Pengadilan Inkuisisi tahun 1633, namun tidak benar jika dikatakan bahwa Galileo dibunuh oleh Gereja Katolik. Ia meninggal tetap dalam iman kekristenannya.

Urusan Galileo ini tidak ada hubungannya dengan Infalibilitas Bapa Paus. Sebab karisma Infalibilitas Bapa Paus (Paus yang tidak dapat sesat) ini hanya dapat berlaku dalam 3 syarat: 1) Bapa Paus harus berbicara dalam kapasitasnya sebagai penerus Rasul Petrus; 2) pada saat Bapa Paus mengajarkan secara definitif tentang iman dan moral; 3) Ketika Bapa Paus mendefinisikan doktrin yang harus dipegang oleh semua orang beriman. Dalam kasus Galileo ini, ketiga syarat tidak terpenuhi. Klaim yang dapat dikatakan dalam hal ini adalah bahwa Gereja pada saat itu mengeluarkan disiplin yang non-infallible terhadap seorang scientist yang mengajarkan teori yang belum bisa dibuktikan, dan yang menuntut Gereja mengubah interpretasi Kitab Suci untuk dapat menerima teorinya ini.

Adalah baik bahwa Gereja Katolik tidak terburu-buru untuk menyetujui teori Galileo ini, sebab sekarang kita ketahui bahwa teori Galileo ini tidak sepenuhnya benar. Galileo berpegang bahwa matahari tidak hanya pusat tata surya tetapi pusat seluruh jagad raya. Sekarang kita ketahui bahwa matahari bukan pusat dari seluruh jagad raya, dan matahari juga sebenarnya bergerak mengitari pusat galaksi. Maka Galileo ‘benar’ dengan menyatakan bahwa bumi bergerak, tetapi ’salah’ dengan menyatakan matahari tidak bergerak. Sebaliknya para opponent Galileo ‘benar’ dalam mengatakan bahwa matahari bergerak, namun ’salah’ dengan menyatakan bumi tidak bergerak.

Terlepas dari bermacam kontroversi Galileo ini, kenyataannya, Gereja Katolik juga telah berusaha mengembalikan nama baik Galileo. Paus Yohanes Paulus II pernah membuat permintaan maaf secara formal pada tahun 1992. Sekarang malah direncanakan Vatikan akan meletakkan patung Galileo di kompleks Vatikan, yaitu kebun di dekat apartemen tempat Galileo ditahan ketika menunggu pengadilan tahun 1633. Namun jauh sebelumnya melalui surat ensikliknya Providentissimus Deus (1893), Paus Leo XIII telah mendorong pendekatan/approach Galileo untuk menyelaraskan antara iman dan ilmu pengetahuan, sebab keduanya sebenarnya tak mungkin bertentangan, walaupun memang Alkitab bukan buku science/ ilmu pengetahuan. Jika ada ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan dengan science, itu adalah karena penyampaiannya dengan gaya bahasa fenomenologis, dan inilah yang diajarkan oleh Gereja Katolik.