Tulisan ini bermula dari rasa penasaran atas satu kalimat samar yang saya dengar dari rekan guru Sejarah yang sedang mengajar di kelas yang mengatakan bahwa Gajah Mada secara harfiah berarti Gajah Mabuk. Jujur baru pertama kali saya mendengar hal itu. Awalnya saya hanya penasaran saja, sampai akhirnya saya membaca beberap tulisan dan juga bertanya kepada AI tentang siapa sebenarnya Gajah Mada. Akhirnya sesudah mendapatkan beberapa poin penting, saya menuliskan sebagai pengingat untuk saya di masa depan, dan siapa tahu dapat bermanfaat untuk orang lain juga.
Gajah Mada sendiri
hidup antara tahun 1290 - 1364).
Ia dikenal juga dengan nama Jirnnodhara. Beliau merupakan seorang panglima
perang dan Mapatih (baca: perdana menteri) yang sangat berpengaruh di Nusantara
pada zaman kerajaan Majapahit.
Menurut catatan yang tersedia seperti dalam puisi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya menjadi Patih. Dia diangkat menjadi patih, pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi. Karirnya berlanjut hingga masa kekuasaan Hayam Wuruk yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia diketahui menganut keyakinan Syiwa-Budha.
Garis Keturunan
“Pada tahun saka
1213/1291 M, Bulan Jyesta, pada waktu itu saat wafatnya Paduka Bhatara yang
dimakamkan di Siwabudha Rakryan Mapatih Mpu Mada, yang seolah-olah sebagai yoni
bagi Bhatara Sapta Prabhu, dengan yang terutama di antaranya ialah Sri
Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwarddhani, cucu-cucu putra dan putri
paduka Bhatara Sri Krtanagarajnaneuwarabraja Namabhiseka pada waktu itu saat
Rakryan Mapatih Jirnnodhara membuat caitya bagi para brahmana tertinggi Siwa
dan Buddha yang mengikuti wafatnya paduka Bhatara dan sang Mahawrddhamantri
(Mpu Raganatha) yang gugur di kaki Bhatara.”
Demikian bunyi
Prasasti Gajah Mada yang bertarikh 1273 saka atau tahun 1351. Sebagai
mahamantri terkemuka, Gajah Mada dapat mengeluarkan prasastinya sendiri dan
berhak memberi titah membangun bangunan suci (caitya) untuk tokoh yang sudah
meninggal. Prasasti itu memberitakan pembangunan caitya bagi Kertanagara. Raja
terakhir Singosari itu gugur di istananya bersama patihnya, Mpu Raganatha dan
para brahmana Siva dan Buddha, akibat serangan tentara Jayakatwang dari Kediri.
Menurut arkeolog
Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, agaknya Gajah Mada memiliki alasan
khusus mengapa memilih membangunkan caitya bagi Kertanagara daripada
tokoh-tokoh pendahulu lainnya. Padahal, selama era Majapahit yang dipandang
penting tentunya Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit. kemungkinan
besar bangunan suci yang didirikan atas perintah Gajah Mada adalah Candi
Singhasari di Malang. Pasalnya, Prasasti Gajah Mada ditemukan di halaman Candi
Singhasari. Bangunan candi lain yang dihubungkan dengan Kertanagara, yaitu
Candi Jawi di Pasuruan. Candi ini sangat mungkin didirikan tidak lama setelah
tewasnya Kertanagara di Kedaton Singhasari.
Menurut Agus,
berdasarkan data prasasti, karya sastra, dan tinggalan arkeologis, ada dua
alasan mengapa Gajah Mada memuliakan Kertanagara hingga mendirikan candi
baginya. Pertama, Gajah Mada mencari legitimasi untuk membuktikan Sumpah
Palapa. Dia berupaya keras agar wilayah Nusantara mengakui kejayaan Majapahit.
Kertanagara adalah raja yang memiliki wawasan politik luas. Dengan wawasan
Dwipantara Mandala, dia memperhatikan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa.
Dengan demikian Gajah Mada seakan meneruskan politik pengembangan mandala
hingga seluruh Dwipantara (Nusantara) yang awalnya telah dirintis oleh
Kertanegara.
Kedua, dalam masa Jawa
Kuno, candi atau caitya pen-dharma-an tokoh selalu dibangun oleh kerabat atau
keturunan langsung tokoh itu, seperti Candi Sumberjati bagi Raden Wijaya
dibangun tahun 1321 pada masa Jayanegara; dan Candi Bhayalango bagi Rajapatmi
Gayatri dibangun tahun 1362 oleh cucunya, Hayam Wuruk. Atas alasan itu, Gajah
Mada masih keturunan dari Raja Kertanagara. Setidaknya Gajah Mada masih punya
hubungan darah dengan Kertanagara.
Ayah Gajah Mada
mungkin sekali bernama Gajah Pagon yang mengiringi Raden Wijaya ketika
berperang melawan pengikut Jayakatwang dari Kediri. Gajah Pagon tidak mungkin
orang biasa, bahkan sangat mungkin anak dari salah satu selir Kertanagara
karena dalam kitab Pararaton, nama Gajah Pagon disebut secara khusus. Ketika
itu, Raden Wijaya begitu mengkhawatirkan Gajah Pagon yang terluka dan
dititipkan kepada seorang kepala desa Pandakan. Menurutnya, sangat mungkin
Gajah Pagon selamat kemudian menikah dengan putri kepala desa Pandakan dan
akhirnya memiliki anak, yaitu Gajah Mada yang mengabdi pada Majapahit.
Gajah Mada mungkin
memiliki eyang yang sama dengan Tribhuwana Tunggadewi. Bedanya Gajah Mada cucu
dari istri selir, sedangkan Tribhuwana adalah cucu dari istri resmi
Kertanagara. Dengan demikian, tidak mengherankan dan dapat dipahami mengapa
Gajah Mada sangat menghormati Kertanagara karena Raja itu adalah eyangnya
sendiri. Hanya keturunan Kertanegara saja yang akan dengan senang hati
membangun caitya berupa Candi Singasari untuk mengenang kebesaran leluhurnya
itu. Bahkan konsepsi Dwipantra Mandala dari Kertanagara mungkin menginspirasi
dan mendorong Gajah Mada dalam mencetuskan Sumpah Palapa.
Tidak ada informasi
dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa
ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang kariernya naik saat menjadi Bekel
(kepala pasukan) Bhayangkara (pengawal Raja) pada masa Prabu Jayanagara
(1309–1328). Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir
Mada, sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat
sebagai patih.
Gelar Gajah Mada
Kata "Gajah" mengacu kepada hewan yang besar yang disegani hewan lainnya, dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai wahana (hewan tunggangan) dari dewa Indra. Gajah juga dihubungkan dengan Ganesa, dewa berkepala gajah berbadan manusia, putra Siwa dan Parwati. Adapun kata "Mada" dalam bahasa Jawa kuno artinya mabuk, bisa dibayangkan jika seekor gajah sedang mabuk, ia akan berjalan seenaknya, beringas, menerabas segala rintangan. Maka apabila dihubungkan dengan tokoh Gajah Mada, nama itu dapat ditafsirkan dalam dua sifat, yaitu:
- Ia menganggap dirinya sebagai wahana raja, pelaksana perintah-perintah raja, sebagaimana gajah Airawata menjadi wahana dewa Indra
- Ia adalah orang yang seakan-akan mabuk dan beringas apabila menghadapi berbagai rintangan yang akan menghambat kemajuan kerajaan. Sungguh merupakan pilihan nama yang tepat dan agaknya nama itu telah dipikirkan masak-masak maknanya sebelum dipakai untuk nama dirinya
Dalam prasasti Gajah
Mada diketahui julukan lain, yaitu Rakryan Mapatih Jirnnodhara. Mungkin nama
itu hanya sekadar gelaran bagi Gajah Mada, tetapi dapat pula dipandang sebagai
nama resminya. Arti kata Jirnnodhara adalah "pembangun sesuatu yang baru"
atau "pemugar sesuatu yang telah runtuh/rusak". Dalam pengertian
harfiah Gajah Mada adalah pembangun caitya bagi Kertanegara yang semula belum
ada. Dalam pengertian kiasan ia dapat dipandang sebagai pemugar dan penerus
gagasan Kertanegara dalam konsep Dwipantara Mandala
Meski perannya di
Kerajaan Majapahit begitu melegenda, akhir riwayat Gajah Mada hingga kini masih
belum jelas. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah
Mada Biografi Politik menulis, ada berbagai sumber yang mencoba menjelaskan
akhir hidup Gajah Mada. Sumber pertama adalah Kakawin Nagarakretagama yang
ditulis oleh Mpu Prapanca itu mengisahkan akhir hidup Gajah Mada dengan
kematiannya yang wajar pada tahun 1286 Saka (1364 M).
Dari berbagai cerita
rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menarik diri setelah Peristiwa Bubat
dan memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo
selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru. Di wilayah Probolinggo ini
memang terdapat air terjun bernama Madakaripura yang airnya jatuh dari tebing
yang tinggi. Di balik air terjun yang mengguyur bak tirai itu terdapat deretan
ceruk dan satu goa yang cukup menjorok dalam dan dipercaya dulu Gajah Mada
menjadi pertapa dengan menarik diri dari dunia ramai sebagai wanaprastha
(menyepi tinggal di hutan) hingga akhir hayatnya.
Kidung Sunda
menyebutkan bahwa Gajah Mada tidak meninggal. Kidung ini membeberkan bahwa
Gajah Mada moksa dalam pakaian kebesaran bak Dewa Visnu. Dia moksa di halaman
kepatihan kembali ke khayangan. Namun, Agus Aris Munandar menyatakan bahwa
akhir kehidupan Gajah Mada lenyap dalam uraian ketidakpastian karena dia malu
dengan pecahnya tragedi Bubat. Selanjutnya, menurut Agus, bisa ditafsirkan
bahwa Gajah Mada memang sakit dan meninggal di Kota Majapahit atau di area
Karsyan yang tak jauh dari sana. Itu sebagaimana dengan keterangan kembalinya
Rajasanagara ke ibu kota Majapahit dalam Nagarakretagama, segera setelah
mendengar sang patih sakit.
Ketidakhadiran Gajah Mada
dalam politik Majapahit meninggalkan luka bagi sang raja. Hayam Wuruk sangat
bersedih. Bahkan dikisahkan raja itu begitu putus asa. Dia langsung menemui
ibunya, kedua adik, dan kedua iparnya untuk membicarakan pengganti kedudukan
sang Patih Amangkubhumi. Namun, "Baginda berpegang teguh, Adimenteri
Gadjah Mada tak akan diganti,” tulis Nagarakretagama pupuh 71 bait 3.
Hayam Wuruk pun
mengadakan sidang Dewan Sapta Prabu untuk memutuskan pengganti Gajah Mada.
Karena tidak ada satu pun yang sanggup menggantikan Patih Gajah Mada, Hayam
Wuruk kemudian memilih empat Mahamantri Agung dibawah pimpinan Mpu Nala Tanding
untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Mereka pun digantikan oleh dua orang
mentri yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Akhirnya Hayam Wuruk memutuskan
untuk mengangkat Gajah Enggon sebagai Patih Amangkubhumi menggantikan posisi
Gajah Mada.
(Disadur dari berbagai sumber)













