... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

Memilih Program Studi Menuju Masa Depan Cerah

Memilih program studi di Perguruan Tinggi (PT) merupakan salah satu keputusan yang amat penting dalam hidup seseorang. Keputusan ini akan menentukan arah karir dan masa depan seseorang. Oleh karena itu, memilih program studi yang tepat dan sesuai bakat dan minat sangatlah penting. Berikut beberapa langkah praktis untuk membantu para pelajar SMA dalam memilih program studinya di Perguruan Tinggi Negeri.

  1. Kenali Diri Sendiri. Langkah pertama adalah memahami dan mengenal diri sendiri. Kenali minat, bakat, dan kemampuan akademik Anda. Lakukan tes minat bakat atau berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang diri Anda.
  2. Lakukan Riset Jurusan dan Universitas. Pelajari berbagai program studi yang tersedia di PT. Cari tahu kurikulum, prospek kerja, dan biaya pendidikannya. Kunjungi website PT tersebut, expo pendidikan, atau seminar untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.
  3. Pertimbangkan Faktor Lain. Selain minat dan bakat, pertimbangkan juga faktor lain seperti lokasi Perguruan Tinggi dan akses menuju PT tersebut, biaya hidup atau peluang kerja di daerah tersebut. Dukungan keluarga dan orang tua juga penting untuk dipertimbangkan. Jangan pernah memutuskan tanpa berkomunikasi dan restu dari orangtua, karena bagaimanapun orangtua yang akan membiayai Anda.
  4. Konsultasi dengan Orang Terpercaya. Mintalah saran dan masukan dari orang tua, guru BK, konselor, atau alumni PT yang ingin Anda tuju. Mereka dapat memberikan perspektif yang berbeda dan membantu Anda mempertimbangkan berbagai pilihan.
  5. Percaya Diri dan Tetap Terbuka. Percayalah juga pada intuisi dan kemampuan Anda. Jangan mudah terpengaruh oleh orang lain. Tetaplah terbuka dengan berbagai pilihan dan ikuti kata hati Anda.

Untuk menambah kesiapan Anda menuju ke Perguruan Tinggi Anda juga bisa mengikuti tes masuk PT dengan persiapan matang, manfaatkan program bimbingan belajar atau tryout dan bergabung dengan komunitas atau forum terkait program studi yang Anda minati. Sehingga dengan demikian wawasan Anda akan semakin bertambah dan membantu Anda untuk berkembang secara optimal.

Memilih program studi yang tepat membutuhkan waktu dan usaha. semoga dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat menentukan program studi yang sesuai dengan bakat dan minat, sehingga mengantarkan Anda menuju masa depan yang cerah.

Perlu juga dicatat bahwa tidak ada jurusan yang sempurna. Yang terpenting adalah memilih jurusan yang tepat untuk Anda. Jangan takut untuk berganti jurusan jika Anda merasa tidak cocok, karena masa depan Anda ada di tangan Anda. Pilihlah program studi yang tepat dan raihlah mimpimu!

POST TRUTH, IMPLIKASI DAN SOLUSINYA

Pendahuluan

Era informasi telah mengantarkan kita pada era baru, di mana akses terhadap informasi menjadi lebih mudah dan cepat. Namun, kemudahan ini juga menghadirkan tantangan baru, yaitu fenomena "post-truth". Post-truth didefinisikan sebagai kondisi di mana emosi dan keyakinan personal lebih berperan dalam menentukan opini publik daripada fakta objektif.

Fenomena ini menjadi semakin relevan di Indonesia, di mana media sosial menjadi platform utama penyebaran informasi. Platform ini, meskipun memiliki manfaat, juga rentan terhadap penyebaran informasi yang salah dan hoaks. Hal ini dapat memicu polarisasi dan fragmentasi sosial, serta melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi dan media.

Contoh konkritnya lagi bisa dilihat atau dirasakan pada saat pemilu presiden yang baru saja kita lalui. Banyak orang menjatuhkan pilihan kepada pasangan tertentu bukan karena sungguh mengetahui dan memahami latar belakang dan visi pasangan calon, melainkan lebih hanya kepada pesona tarian atau indahnya kata-kata.

Apa itu Post Truht?

Walaupun hingga kini belum ada defenisi dari post trust yang diterima secara secara universal, namun fenomena post-truth telah menjadi topik yang banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam kaitannya dengan politik dan media sosial.

Menurut Oxford English Dictionary (2016), post truht diartikan sebagai, “kondisi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal." Sejalan dengan itu, Michael J. Sandel (2018) mendefenisikannya sebagai, era di mana kebenaran tidak lagi menjadi landasan utama dalam perdebatan publik, dan digantikan oleh emosi, keyakinan, dan opini pribadi."

Ralph Keyes (2004) secara singkat mengartikannya sebagai, “era di mana emosi, bukan fakta, yang menjadi kekuatan pendorong utama dalam opini publik." Sedangkan Matthew N. Green and Andrew J. Perrin (2018) secara lebih tegas mengarahkannya dalam dunia politik dengan mengatakan bahwa post trust merupakan “suatu kondisi di mana politik didominasi oleh informasi yang salah, propaganda, dan kebohongan, dan bukan oleh fakta dan argumen yang rasional."

Faktor-faktor yang mendorong munculnya post-truth

  1. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Media sosial dan internet memungkinkan penyebaran informasi dengan cepat dan mudah, tanpa verifikasi dan filter yang ketat. Algoritma media sosial mengantarkan pengguna pada informasi yang selaras dengan keyakinan mereka, menciptakan "echo chambers" dan memperkuat polarisasi. Teknologi deepfake memungkinkan pembuatan konten manipulatif yang tampak realistis, mempermudah penyebaran informasi yang salah.
  2. Krisis kepercayaan terhadap institusi. Ketidakpercayaan terhadap media, pemerintah, dan institusi lainnya mendorong masyarakat untuk mencari informasi dari sumber-sumber alternatif yang tidak selalu terpercaya. Juga skandal dan korupsi yang melibatkan institusi semakin memperlemah kepercayaan public terhadap isntusi pemerintah atau Lembaga pelayanan publik.
  3. Polarisasi politik. Meningkatnya polarisasi politik membuat masyarakat terbagi menjadi dua kubu yang saling berlawanan, dengan keyakinan dan opini yang berbeda. Hal ini membuat masyarakat lebih mudah menerima informasi yang selaras dengan keyakinan mereka, dan lebih resisten terhadap informasi yang bertentangan.
  4. Faktor psikologis. Orang-orang cenderung lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan bias dan prasangka mereka. Confirmation bias dan motivated reasoning membuat orang-orang mencari informasi yang menguatkan keyakinan mereka, dan mengabaikan informasi yang bertentangan, meskipun apa yang mereka yakini itu tidak dapat dipercaya dan tidak benar atau tidak sesuai dengan fakta.

Dampak post-truth pada demokrasi dan masyarakat

  1. Melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi dan media. Masyarakat menjadi ragu untuk mempercayai informasi yang disampaikan oleh institusi dan media. Hal ini dapat menyebabkan apatisme politik dan partisipasi publik yang rendah.
  2. Memperkuat polarisasi dan fragmentasi sosial. Masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok yang saling berlawanan dengan keyakinan dan opini yang berbeda. Hal ini dapat menyebabkan konflik dan ketegangan sosial.
  3. Mengancam demokrasi dan stabilitas nasional. Demokrasi bergantung pada informasi yang akurat dan objektif untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang tepat. Post-truth ini dapat menghambat demokrasi dan stabilitas nasional dan membahayakan sebuah negara, apalagi negara seperti Indonesia, yang tidak saja terpisah-pisah secara geografis tetapi juga sangat beranekaragam dari sisi kultur, agama, bahasa dan sosial ekonomi.

Strategi untuk melawan post-truth

  1. Meningkatkan literasi digital masyarakat. Masyarakat perlu di edukasi tentang cara mengidentifikasi informasi yang salah dan hoaks. Selain itu penting juga untuk mengajarkan critical thinking skills agar masyarakat lebih kritis terhadap informasi yang diterima.
  2. Mendukung jurnalisme berkualitas. Jurnalisme yang akurat dan objektif sangat penting untuk melawan post-truth. Penting untuk mendukung media yang memproduksi jurnalisme berkualitas tinggi. Namun apakah media dapat memegang teguh prinsip jurnalisme di tengah arus kepentingan?
  3. Membangun platform fact-checking. Platform fact-checking dapat membantu masyarakat untuk memverifikasi informasi yang diterima. Memang sudah beberapa media besar mencoba meluruskan berita-berita hoaks yang ada, namun masih terasa sangat kurang jika dibandingkan dengan tumpahnya informasi hoaks yang beredar di tengah masyarakat. Namun penting juga diingat bahwa platform fact-checking ini harus dipastikan independen dan terpercaya.
  4. Mendorong dialog dan perdebatan yang sehat. Penting untuk menciptakan ruang bagi dialog dan perdebatan yang sehat antar kelompok dengan keyakinan yang berbeda. Namun debat yang sehat bukan menjadi ajang untuk saling merendahkan dan menunjukkan kelemahan lawan debat seperti yang terjadi pada debat capres -cawapres beberapa minggu yang lalu.
  5. Mendorong regulasi yang bertanggung jawab. Pemerintah sangat perlu mengambil peran dalam mengatur platform media sosial dan penyebaran informasi. Dengan regulasi yang bertanggung jawab dapat membantu memerangi penyebaran informasi yang salah dan hoaks.

Penutup

Era post-truth menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat Indonesia. Untuk membangun kembali kepercayaan dan menjaga stabilitas nasional, diperlukan upaya bersama dari semua pihak untuk melawan post-truth dan mempromosikan kebenaran dan fakta.

 

Daftar Pustaka

Green, Matthew N., and Andrew J. Perrin. "Post-Truth Politics: Fake News, Propaganda, and the 2016 US Presidential Election." Political Science Quarterly 133, no. 1 (2018): 1-23.

Pomerantsev, Peter. The Post-Truth Condition: Fake News and the Future of Fact. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2017.

Sandel, Michael J. The Post-Truth Era: Truth, Lies, and the Decline of Democracy. New York: Liveright Publishing Corporation, 2018.

Sikap Terbaik terhadap Penilaian dari Pihak Lain

Memberi dan menerima penilaian dari pihak lain sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan kita setiap hari. Hal itu terjadi antara guru dan siswa, atasan dengan bawahan dan bisa juga sebaliknya. Dan penilaian itu, sebaik-baiknya dilakukan, tetap saja tidak dapat dilepaskan dari subjektifitas yang melakukan penilaian. Bahkan dalam dunia modern ini penilaian seringkali disampaikan hanya dalam bentuk symbol seperti biasa kita lihat dalam berbagai aplikasi android, seperti gojek, rumah belajar, telkomsel dan sebagainya. Cukup dengan nenekan symbol bintang dan menuliskan komentar pada tempat tersedia akan mempengaruhi hidup-matinya aplikasi atau orang tertentu.

Ambil contoh aplikasi bukalapak ketika pemiliknya mencampuri urusan politik dan seperti menjelek-jelekkan pemerintah, orang-orang yang tidak setuju dengan tindakan tersebut langsung menilai (baca: menghukum) aplikasi bukalapak dengan memberikan ulasan tidak bagus dan memberi bintang satu. Apa akibatnya? Dikabarkan bahwa dengan gerakan memberikan bintang satu pada aplikasinya di google paly store  bukalapak kehilangan banyak penghasilan bahkan di beberapa kota beberapa karyawannya diberhentikan dengan alasan perampingan.

Begitu berpengaruhnya penilaian pihak lain itu terhadap objek yang dinilai. Penilaian yang diberikan bisa membesarkan atau mengecilkan bahkan bisa menghidupkan atau mematikan. Pertanyaannya sekarang bagaimana sikap kita menghadapai penilaian yang diberikan oleh pihak lain? Apakah menerima itu sepenuhnya atau menolaknya, atau menerima setengah dan menolak setengah?

Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita simak sebuah cerita yang sudah banyak ditulis dan beredar di buku dan di media sosial. Dikisahkan di sebuah sekolah seni ada seorang murid bernama Lidya yang belajar melukis dengan sangat rajin. Suatu hari Lidya ingin mengetahui tingkat kemampuan melukisnya. Ia melukis satu lukisan lalu menaruhnya di aula sekolah dengan sebuah catatan kecil di sampingnya, berbunyi “Jika anda menemukan kesalahan dalam lukisan ini silakan lingkari dengan cat hitam.”

Keesokan harinya Lidya melihat lukisannya di aula penuh dengan lingkaran warna hitam. Ia pun kembali belajar dengan giat dan setelah beberapa waktu ia kembali melakukan hal yang sama. Ia menaruh lukisannya dan catatan kecil yang sama. Namun keesokan harinya lagi-lagi ia menemukan banyak lingkaran hitam di atas lukisannya. Ia kemudian menjadi sangat sedih.

Di kelas gurunya melihat bahwa Lidya tampak sedih. Gurunya bertanya, “Lidya, apa yang terjadi? Kamu tampak begitu sedih.” Kemudian Lidya menceritakan semuanya kepada Gurunya. Gurunya kemudian berkata, “Coba kamu buat lagi satu lukisan terbaikmu, namun kali ini ubah catatannya menjadi, “Siapapun yang menemukan kesalahan dalam lukisan ini, silakan memperbaikinya.”

Lidya mengikuti apa yang dikatakan oleh gurunya. Ia membuat satu lagi lukisan terbaiknya dengan mencurahkan segala teknik dan keterampilan melukis yang telah ia pelajari selama ini. Ia kembali menaruhnya di aula sekolah dan meninggalkan sebuah catatan kecil sesuai dengan yang dikatakan gurunya.

Kesesokan harinya ia menemukan lukisannya utuh seperti sediakala, tidak ada lingkaran hitam atau catatan sedikitpun. Ia merasa senang kemudian mendatangi gurunya dan bertanya, “Guru, sepertinya tidak ada perubahan yang luar biasa dalam lukisan yang saya buat, namun mengapa kali ini tidak ada yang menemukan kesalahan dalam lukisan tersebut?” Sambil tersenyum gurunya menjawab, “Lidya, dengarlah baik-baik. Adalah mudah bagi seseorang untuk menemukan kesalahan orang lain, namun sulit bagi seseorang untuk mengoreksi atau memperbaiki suatu kesalahan.”

Dari kisah itu kita bisa menyimpulkan bahwa apapun yang anda lakukan, seberapa besar usaha yang anda curahkan akan selalu ada komentar negatif. Belum tentu hal itu terjadi karena ada suatu yang buruk dalam usaha atau pekerjaan yang kita lakukan, bisa jadi itu terjadi hanya karena tidak sesuai dengan harapan dan pandangan seseorang. Jika bercermin dari kisah Lidya, kata kuncinya adalah “mencurahkan segala yang dimiliki dan memberikan yang terbaik.” Sesudah melakukan hal itu, jika masih ada komentar negatif dan merendahkan atau mengecewakan, terimalah sebagai suatu pendorong dan penyemangat. Jangan patah arang karena itu. Ingat bahwa penilaian seseorang terhadap kita tidak lepas dari pola pikir, pandangan dan pengetahuan yang dimilikinya.

Bagaimanapun orang yang selalu mengritik belum tentu dapat memberikan suatu usulan solusi perbaikan untuk anda. Oleh karena itu jangan sampai anda dihambat oleh kritik dan komentar yang negatif dan tidak membangun dalam menggapai tujuan anda. Lakukan saja yang terbaik; bahwa kemudian dinilai amat baik, kurang baik atau buruk itu sudah di luar kendali kita. Tentu tidak semua hal berada dalam kekuasaan kita, bukan? Tetaplah melakukan dan memberi yang terbaik. Tuhan senantiasa menolong.

KEBENARAN TERUKUR DI RODA

  

Lampu sein terus bernyala
lari cepat
menyelinap di antara truk-truk
di antara bus-bus
di antara becak-becak
 
Klakson terus berbunyi
lari zig-zag
pejalan kaki terkejut
pengemis jalanan jatuh pingsan
 
Terus
terus berlari cepat
lampu sein tak henti menyala
kadang kiri kadang kanan
kadang juga keduanya
 
Klakson terus berbunyi
traaak!
kemudian tiba-tiba berhenti
Kau bangun berdiri sempoyongan
menunjuk mukaku dengan sangat kasar:
Kau kan empat roda!

Anehnya
Seragam coklat mendukungmu
Dan roda pun
Jadi ukuran sebuah kebenaran

RASA MALU

Pendahuluan

Rasa malu bukan sesuatu yang salah atau negatif. Bahkan rasa malu sering dilihat sebagai salah satu tanda harga diri. Seseorang dianggap memiliki harga diri apabila masih memiliki rasa malu. Sehingga seseorang akan sangat marah jika dikatai sebagai tidak tahu malu atau tidak memiliki rasa malu. Oleh karena itu juga, ungkapan sökhi aila moroi mate – lebih baik mati daripada malu, sangat dijunjung tinggi sabagai prinsip Ono Niha (Orang Nias).


Perasaan ini umum dan secara alamiah dialami oleh manusia karena adanya kebutuhan dasar akan penerimaan sosial dan perasaan sebagai bagian dari suatu komunitas. Menurut Zimbardo (1997), rasa malu (shyness) merupakan pengalaman biasa. Merasa malu di depan umum karena mencemaskan bagaimana dapat dekat atau bertemu dengan orang lain, atau malu secara pribadi karena memfokuskan padangan terhadap diri sendiri.

Kendati demikian rasa malu bisa juga berdampak negatif jika tidak dapat dikelola dengan baik. Maka tulisan ini bermaksud untuk membuka wawasan kita tentang rasa malu dan bagaimana rasa malu tersebut berpengaruh dalam diri seseorana sebagai individu dan dalam relasinya dengan orang lain, serta bagaimana mengelolanya menjadi sesuatu yang positif.
Rasa malu adalah emosi yang timbul ketika seseorang merasa tidak pantas, tidak memenuhi harapan, atau melanggar norma sosial yang berlaku. Bahkan rasa malu itu bisa muncul dalam diri seseorang ketika orang lain yang memiliki hubungan interpersonal yang erat dengan orang yang melakukan pelanggaran terhadap norma yang ada (Budiarto, 2020).
Menurut para ahli, rasa malu adalah emosi kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor psikologis, sosial, dan budaya. Lewis (1971) menggambarkan rasa malu sebagai perasaan ketidaknyamanan yang muncul ketika individu merasa mereka melanggar norma-norma sosial atau tidak memenuhi harapan yang ditetapkan oleh lingkungan sekitar. Tangney dan Dearing (2002) mendefinisikan rasa malu sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri yang muncul ketika individu merasa mengecewakan diri sendiri atau merusak citra positif mereka di hadapan orang lain. Fessler (2004) menyatakan bahwa rasa malu adalah respons emosional yang timbul ketika individu menyadari adanya tindakan atau kegagalan yang merendahkan diri mereka di hadapan orang lain.
Meskipun setiap ahli mendefenisikan rasa malu dari perspektif tertentu, namun mereka sepakat bahwa rasa malu melibatkan perasaan negatif terhadap diri sendiri, perasaan rendah diri, atau kesadaran terhadap pelanggaran terhadap norma-norma sosial. Rasa malu juga dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku individu, baik secara positif maupun negatif, tergantung pada konteks dan cara individu mengelola emosi tersebut.

Dampak positif rasa malu

Kendatipun terasa tidak nyaman, rasa malu memainkan peran positif dalam perkembangan individu dalam beberapa cara. Pertama, rasa malu dapat mengajarkan individu tentang aturan-aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat, sehingga mendorong seseorang memodifikasi perilakunya agar mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan (Muttaqin, 2019). Rasa malu ini dapat memicu refleksi diri dan kesadaran akan norma-norma yang diharapkan dalam interaksi sosial.

Kedua, dapat membantu membangun empati terhadap orang lain. Ketika seseorang merasa malu karena tindakan mereka, mereka dapat memahami bagaimana tindakan tersebut dapat mempengaruhi perasaan atau martabat orang lain. Ini dapat membantu individu untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain dan menjadi lebih berempati dalam interaksi sosial.

Ketiga, dapat mendorong individu untuk melakukan perbaikan diri dan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukannya, dan itu terdorong seseorang untuk mengubah dan memperbaiki perilakunya di masa depan.

Dampak negatif rasa malu yang berlebihan

Dari berbagai sumber yang dibaca oleh penulis, ada beberapa dampak rasa malu yang berlebihan atau yang tidak dikelola dengan baik, yang secara signifikan mempengarugi pertumbuhan dan perkembangan individu:

  1. Rasa malu yang berlebihan dapat berkontribusi pada pengembangan kecemasan sosial atau fobia sosial; cenderung merasa rendah diri, tidak berharga, dan menutup komunikasi dengan pihak lain, sehingga dapat menghambat perkembangan kepribadian seseorang (Rakhmat, 2005)
  2. Dapat menghasilkan pandangan negatif tentang diri sendiri dan menghambat perkembangan potensi dan pencapaian individu.
  3. Dapat mendorong individu untuk menarik diri dari interaksi sosial. Mereka mungkin merasa takut atau malu untuk berada di depan orang lain atau mengungkapkan diri mereka dengan bebas.
  4. Dapat berkontribusi pada masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan.
  5. Rasa malu yang berlebihan dapat menghalangi individu untuk mengambil risiko, mengatasi rintangan, atau mencapai potensi mereka secara optimal.

Oleh karena itu, untuk menghindari diri dari rasa malu yang berlebihan, seseorang dapat mencari dukungan profesional dari psikolog atau terapis untuk mengatasi dampak negatif rasa malu yang berlebihan dan mengembangkan strategi pengelolaan yang sehat. Dengan dukungan yang tepat, individu dapat belajar menghadapi dan mengelola rasa malu dengan cara yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang positif.

Rasa malu di era digital

Perkembangan teknologi dan media sosial telah memiliki dampak yang signifikan terhadap cara kita mengalami rasa malu. Berikut adalah beberapa cara di mana tuntutan untuk terlihat sempurna dan eksposur yang luas dapat memperkuat rasa malu pada individu:

  1. Pemfilteran dan Pencitraan Diri. Media sosial sering kali menampilkan citra yang disunting dan diatur dengan sempurna. Orang sering memilih untuk membagikan momen terbaik dan paling menarik dari hidup mereka, menciptakan kesan bahwa kehidupan mereka selalu sempurna dan tanpa cela. Dalam hal ini, individu dapat merasa malu dan merasa tidak memadai ketika mereka membandingkan hidup mereka dengan citra yang dibangun oleh orang lain, sehingga memunculkan ketidakpuasan pada kemampuan untuk menyesuaikan diri yang pada akhirnya membuat seseorang mengembangkan sikap untuk menolak diri sendiri (Sumartani dkk., 2016).
  2. Tuntutan untuk Menampilkan Kebahagiaan. Media sosial juga dapat menciptakan tekanan untuk menampilkan kebahagiaan dan keberhasilan yang konstan. Individu merasa perlu untuk selalu memperlihatkan bahwa mereka memiliki kehidupan yang menyenangkan, sukses, dan bebas dari masalah. Ketika seseorang mengalami kesulitan atau rasa malu, mereka mungkin merasa terbebani untuk menyembunyikan atau menyamarkannya.
  3. Ekspos yang Luas dan Komentar Negatif. Media sosial memungkinkan informasi dan gambaran diri untuk tersebar secara luas. Ketika seseorang mengalami kegagalan, blunder, atau situasi memalukan, informasi tersebut dapat dengan cepat menyebar dan mencapai audiens yang luas.
  4. Cyberbullying dan Penghakiman Online. Media sosial juga membuka pintu bagi perilaku penghakiman dan cyberbullying. Individu dapat mengalami rasa malu yang mendalam akibat komentar negatif, penghinaan, atau penghakiman yang didapatkan dari orang lain secara online. Perasaan malu ini dapat menjadi intens dan berkepanjangan, dan dapat memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental dan kepercayaan diri individu.
  5. Ketergantungan dan Kehilangan Privasi. Penggunaan media sosial dapat menyebabkan ketergantungan dan kehilangan privasi. Individu mungkin merasa terikat pada respons dan ekspektasi online, yang dapat meningkatkan tuntutan untuk mempertahankan citra yang sempurna. Kehilangan privasi pribadi dalam era digital juga dapat meningkatkan kekhawatiran dan rasa malu terkait dengan pengungkapan pribadi yang tidak diinginkan atau penggunaan data yang tidak aman.

Mengelola rasa malu


Berikut adalah beberapa tips dan strategi yang dapat membantu mengelola rasa malu dengan baik, mengubah perspektif terhadap rasa malu, mengembangkan rasa pengampunan pada diri sendiri, dan memperbaiki kepercayaan diri:

  1. Menerima dan mengakui emosi rasa malu yang muncul. Jangan menekan atau menyangkal perasaan tersebut. Berikan diri sendiri izin untuk merasakannya dan mengakui bahwa rasa malu adalah respons alami terhadap pelanggaran norma sosial.
  2. Cobalah untuk mengubah perspektif terhadap rasa malu dengan melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Lihatlah rasa malu sebagai tanda bahwa Anda peduli dengan norma sosial dan ingin menjadi individu yang lebih baik. Alihkan fokus dari kesalahan yang telah dilakukan ke upaya perbaikan yang dapat dilakukan di masa depan.
  3. Kembangkan rasa pengampunan pada diri sendiri (Self-Compassion). Sadarilah bahwa semua orang melakukan kesalahan dan mengalami rasa malu pada saat-saat tertentu. Berikan diri sendiri dukungan dan pengertian yang sama yang Anda berikan kepada teman atau orang lain yang mengalami rasa malu. Ingatlah bahwa Anda manusia yang berharga dan layak untuk menerima pengampunan.
  4. Tingkatkan pengenalan diri, melalui refleksi diri yang mendalam. Identifikasi akar penyebab rasa malu yang berlebihan dan kenali pola pikir negatif yang mungkin memperkuat rasa malu tersebut, sehingga Anda dapat mengidentifikasi pemikiran atau keyakinan yang tidak konstruktif dan mengubahnya menjadi pola pikir yang lebih positif dan realistis.
  5. Lakukan pembenaran diri yang positif. Fokus pada pencapaian, kelebihan, dan kualitas positif yang dimiliki. Ingatkan diri sendiri tentang nilai-nilai, bakat, atau sifat positif yang Anda miliki, sehingga membantu memperkuat kepercayaan diri.
  6. Latihan menghadapi ketakutan. Langkah demi langkah, tantang diri sendiri untuk menghadapi situasi atau interaksi sosial yang memicu rasa malu. Mulailah dengan langkah kecil dan tingkatkan secara bertahap. Dengan menghadapi ketakutan secara teratur, Anda dapat memperluas zona nyaman Anda dan membangun kepercayaan diri dalam menghadapi situasi yang menantang.
  7. Jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang-orang terdekat. Berbagi perasaan dan pengalaman dengan orang yang dipercaya dapat memberikan pemahaman, dukungan, dan perspektif baru yang membantu mengelola rasa malu dengan lebih baik.

Perlu diingat bahwa mengelola rasa malu adalah proses yang berkelanjutan dan membutuhkan waktu. Jangan terlalu keras pada diri sendiri jika ada kemunduran atau kesalahan dalam perjalanan ini. Jadilah sabar dan berkomitmen untuk terus berkembang dan memperkuat diri Anda. Jika rasa malu yang berlebihan terus mengganggu kehidupan sehari-hari Anda, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental ang dapat memberikan dukungan dan panduan yang sesuai.

 

DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, Yohanes, dkk. (2020). Rasa Malu Relasional: Kritik terhadap Konstruksi Rasa Malu Psikologi Barat, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Fessler, D. M. T. (2004). Shame in two cultures: Implications for evolutionary approaches. Journal of Cognition and Culture, 4(2), 207-262. doi: 10.1163/1568537041725097

Muttaqin, F.A., dkk. (2019). Budaya Hukum Malu Sebagai Nilai Vital Terwujudnya Kesadaran Hukum Masyarakat. Al-Syakhsiyyah: Journal of Law & Family Studies, https://jurnal.iainponorogo.ac.id/index.php/syakhsiyyah/article/view/2026. doi:https://doi.org/10.21154/syakhsiyyah.v1i2.2026.

Rakhmat, J. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remadja Rosdakarya
Sumartani, D. M., dkk (2016). Dinamika rasa malu paada remaja pubertas. Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi, 7(2), 50-61.

Zimbardo, P. (1997). Psychological Theories of Shyness. http:/www. cardiff.ac.uk/socsi/shyness/ shypsychology.html