... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

Persiapan: Kunci Keberhasilan dalam Berbagai Aspek Kehidupan

Persiapan adalah kunci dari keberhasilan dalam kehidupan manusia. Tulisan ini ini menggali kedalaman pentingnya persiapan dalam segala aspek kehidupan, meliputi pendidikan, karier, kesehatan, dan keuangan. Melalui tinjauan terhadap bukti empiris dan penelitian yang telah dilakukan, tulisan ini mengilustrasikan bagaimana persiapan yang matang dapat meningkatkan peluang keberhasilan dan mengurangi risiko kegagalan. Pemahaman mendalam tentang peran persiapan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari diharapkan dapat memberikan wawasan yang berharga bagi pembaca untuk mencapai tujuan hidup yang dicita-citakan.

Persiapan adalah pondasi dari kesuksesan dalam setiap bidang kehidupan. Ini bukan hanya sebuah praktik terbatas pada situasi tertentu, tetapi mencakup spektrum luas aktivitas manusia, mulai dari pendidikan hingga manajemen keuangan. Tulisan ini mengkhusukan diri untuk mengulas pentingnya persiapan dalam berbagai konteks.

Persiapan dalam Pendidikan

Persiapan memiliki dampak yang besar dalam konteks pendidikan. Seorang siswa yang mempersiapkan diri dengan baik sebelum ujian cenderung mencapai hasil yang lebih baik daripada mereka yang tidak melakukannya. Penelitian oleh Hattie dan Timperley (2007) menunjukkan bahwa strategi belajar yang efektif memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang. Siswa yang menyusun jadwal belajar, membuat catatan, dan memahami materi pembelajaran secara menyeluruh memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses dalam ujian mereka.

Persiapan juga penting dalam perencanaan karier akademik. Mahasiswa yang merencanakan langkah-langkah karier mereka dengan baik, termasuk pemilihan jurusan, magang, dan partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, cenderung memiliki keunggulan dalam dunia atau bursa kerja. Menurut penelitian oleh Rudolph dan Raufelder (2018), mahasiswa yang melakukan persiapan karier secara terstruktur lebih mungkin berhasil menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keterampilan mereka.

Persiapan dalam Karier

Dalam dunia kerja yang kompetitif, persiapan memainkan peran penting dalam pencapaian sukses karier. Seorang profesional yang mempersiapkan diri sebelum presentasi atau pertemuan bisnis cenderung lebih percaya diri dan efektif dalam menyampaikan ide-ide mereka. Menurut penelitian oleh Robbins dan Judge (2017), persiapan yang matang sebelum presentasi dapat meningkatkan kinerja individu dan mengurangi tingkat stres.

Persiapan juga krusial dalam pengembangan keterampilan dan peningkatan kompetensi. Individu yang terus-menerus mempersiapkan diri melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan memiliki peluang yang lebih baik untuk mendapatkan promosi dan kesempatan karier yang lebih baik di masa depan. Studi oleh Burgess dan Connell (2016) menunjukkan bahwa profesional yang berinvestasi dalam pengembangan diri mereka memiliki keunggulan kompetitif dalam pasar kerja yang berubah-ubah.

Persiapan dalam Kesehatan

Persiapan juga krusial dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan individu. Menerapkan gaya hidup sehat membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang, dari pola makan sehat hingga rutinitas olahraga yang teratur. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (2018), kebiasaan hidup sehat memerlukan kedisiplinan dan persiapan yang konsisten.

Selain itu, persiapan juga penting dalam menghadapi situasi darurat atau krisis kesehatan. Memiliki rencana darurat yang terstruktur, seperti asuransi kesehatan yang memadai dan pengetahuan tentang tindakan pertolongan pertama, dapat membantu individu dalam mengatasi situasi yang tidak terduga dengan lebih tenang dan efektif. Studi oleh Smith dan Wiles (2019) menunjukkan bahwa persiapan darurat yang baik dapat mengurangi tingkat kecemasan dan meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi situasi kritis.

Persiapan dalam Bidang Keuangan

Persiapan juga memiliki peran vital dalam manajemen keuangan pribadi. Merencanakan anggaran, menginvestasikan uang dengan bijak, dan mempersiapkan masa depan keuangan yang stabil adalah langkah-langkah penting dalam mencapai keamanan finansial. Menurut penelitian oleh Bernheim, dkk (2015), individu yang melakukan persiapan keuangan yang matang memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dan tingkat stres yang lebih rendah terkait dengan masalah keuangan.

Selain itu, persiapan juga penting dalam perencanaan masa pensiun. Memiliki rencana pensiun yang terstruktur, termasuk menabung untuk hari tua dan mengatur investasi pensiun, dapat membantu seseorang mencapai kebebasan finansial di masa pensiun. Penelitian yang dilakukan di Amerika pada tahun 2017 menemukan bahwa individu yang melakukan persiapan pensiun yang matang cenderung memiliki tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan yang lebih tinggi di masa pensiun mereka.

Persiapan adalah kunci untuk sukses dalam setiap aspek kehidupan. Dalam pendidikan, karier, kesehatan, dan keuangan, persiapan yang matang memungkinkan individu untuk menghadapi tantangan dengan percaya diri dan efektif. Dengan memahami pentingnya persiapan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat meningkatkan peluang keberhasilan dan mencapai potensi penuhnya. Karena sesuatu yang dipersiapkan saja belum tentu hasil persis sama dengan yang diharapkan, apalagi sesuatu yang tidak dipersiapkan, hasilnya pasti akan mengecewakan. Oleh karena itu, tidak dapat disangkal bahwa persiapan adalah fondasi utama dari setiap pencapaian besar dalam hidup. Selamat melakukan persiapan!

Perbedaan antara Pendidikan Formal, Non-Formal dan Informal

Pendidikan merupakan fondasi penting dalam pembangunan individu dan masyarakat. Dalam ranah pendidikan, ada dua pendekatan utama yang berbeda, yaitu pendidikan formal dan non-formal. Meskipun keduanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan individu, terdapat perbedaan signifikan dalam pendekatan, struktur, dan hasilnya. Tulisan singkat ini akan mengulas perbedaan antara pendidikan formal dan non-formal serta memberikan contoh konkret untuk memperjelas kedua konsep tersebut.

Pendidikan Formal: Struktur Terencana dan Keteraksesan yang Umum

Pendidikan formal adalah jenis pendidikan yang terstruktur dengan jelas, memiliki kurikulum yang telah ditetapkan, dan biasanya diselenggarakan dalam lingkungan sekolah atau institusi akademik yang diakui. Ciri utama pendidikan formal adalah adanya proses evaluasi formal, seperti ujian atau asesmen, serta pemberian sertifikat atau gelar setelah menyelesaikan program pendidikan tertentu. Contoh pendidikan formal meliputi sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi atau universitas.

Contoh konkret dari pendidikan formal adalah sistem sekolah umum di banyak negara di seluruh dunia. Misalnya, di Indonesia, sistem pendidikan formal terdiri dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan perguruan tinggi. Setiap tingkat pendidikan memiliki kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan diawasi oleh otoritas pendidikan.

Pendidikan Non-Formal: Fleksibilitas dan Penekanan pada Keterampilan Praktis

Pendidikan non-formal, di sisi lain, lebih fleksibel dalam hal struktur dan pendekatannya. Ini sering kali tidak terikat pada lembaga pendidikan formal dan tidak mengikuti kurikulum yang ketat. Pendidikan non-formal dapat terjadi di luar lingkungan sekolah dan dapat berlangsung dalam berbagai bentuk, seperti kursus pelatihan, workshop, seminar, atau kegiatan sukarela. Tujuan dari pendidikan non-formal adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, program pelatihan kerja yang diselenggarakan oleh organisasi nirlaba atau lembaga pemerintah adalah bentuk pendidikan non-formal yang umum. Program ini dapat mencakup pelatihan keterampilan seperti keterampilan komputer, keterampilan manajerial, atau keterampilan kerajinan tangan. Peserta biasanya tidak perlu memenuhi persyaratan masuk yang ketat, dan mereka dapat memilih program yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka.

Perbandingan Antara Pendidikan Formal dan Non-Formal:

Antara keduanya dapat dibandingkan dengan melihat keempat aspek, antara lain struktur, kurikulum, pengakuan dan tujuan. Dari segi struktur, pendidikan formal memiliki struktur yang jelas dan terorganisir, sementara pendidikan non-formal cenderung lebih fleksibel. Kurikulum pendidikan formal mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan, sedangkan pendidikan non-formal tidak terikat pada kurikulum yang ketat dan bisa disesuaikan dengan situasi lembaga atau peserta didiknya. Dari sisi pengakuan, pendidikan formal memberikan pengakuan resmi dalam bentuk sertifikat atau gelar, sedangkan pendidikan non-formal bisa saja tidak memberikan pengakuan resmi yang sama. Dan dari sisi tujuan, pendidikan formal bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan secara komprehensif, sedangkan pendidikan non-formal sering kali menekankan pada keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara langsung.

Pendidikan Informal: Pembelajaran Sehari-hari dan Tidak Terstruktur

Pendidikan informal adalah pendekatan yang terjadi tanpa rencana atau struktur yang jelas. Pembelajaran informal terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar. Ini bisa terjadi di tempat kerja, di rumah, atau melalui kegiatan sosial. Pembelajaran informal tidak diarahkan oleh guru atau institusi formal, tetapi melalui pengalaman langsung dan observasi. Contoh konkret dari pendidikan informal: Pembelajaran bahasa asing melalui interaksi dengan penutur asli atau media sosial; pembelajaran keterampilan praktis seperti memasak atau perbaikan rumah tangga dari anggota keluarga atau teman atau pendidikan karakter yang didapatkan dari lingkungan keluarga, lingkungan dan masyarakat.


Sumber Bacaan

UNESCO. (2009). Non-Formal Education: Flexible Schooling or Participatory Education? Diakses dari https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000186478

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2016). Pendidikan Nonformal. Diakses dari https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/11/pendidikan-nonformal

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). (2015). Education: Formal, Non-Formal and Informal. Diakses dari https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000245452

Memilih Program Studi Menuju Masa Depan Cerah

Memilih program studi di Perguruan Tinggi (PT) merupakan salah satu keputusan yang amat penting dalam hidup seseorang. Keputusan ini akan menentukan arah karir dan masa depan seseorang. Oleh karena itu, memilih program studi yang tepat dan sesuai bakat dan minat sangatlah penting. Berikut beberapa langkah praktis untuk membantu para pelajar SMA dalam memilih program studinya di Perguruan Tinggi Negeri.

  1. Kenali Diri Sendiri. Langkah pertama adalah memahami dan mengenal diri sendiri. Kenali minat, bakat, dan kemampuan akademik Anda. Lakukan tes minat bakat atau berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang diri Anda.
  2. Lakukan Riset Jurusan dan Universitas. Pelajari berbagai program studi yang tersedia di PT. Cari tahu kurikulum, prospek kerja, dan biaya pendidikannya. Kunjungi website PT tersebut, expo pendidikan, atau seminar untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.
  3. Pertimbangkan Faktor Lain. Selain minat dan bakat, pertimbangkan juga faktor lain seperti lokasi Perguruan Tinggi dan akses menuju PT tersebut, biaya hidup atau peluang kerja di daerah tersebut. Dukungan keluarga dan orang tua juga penting untuk dipertimbangkan. Jangan pernah memutuskan tanpa berkomunikasi dan restu dari orangtua, karena bagaimanapun orangtua yang akan membiayai Anda.
  4. Konsultasi dengan Orang Terpercaya. Mintalah saran dan masukan dari orang tua, guru BK, konselor, atau alumni PT yang ingin Anda tuju. Mereka dapat memberikan perspektif yang berbeda dan membantu Anda mempertimbangkan berbagai pilihan.
  5. Percaya Diri dan Tetap Terbuka. Percayalah juga pada intuisi dan kemampuan Anda. Jangan mudah terpengaruh oleh orang lain. Tetaplah terbuka dengan berbagai pilihan dan ikuti kata hati Anda.

Untuk menambah kesiapan Anda menuju ke Perguruan Tinggi Anda juga bisa mengikuti tes masuk PT dengan persiapan matang, manfaatkan program bimbingan belajar atau tryout dan bergabung dengan komunitas atau forum terkait program studi yang Anda minati. Sehingga dengan demikian wawasan Anda akan semakin bertambah dan membantu Anda untuk berkembang secara optimal.

Memilih program studi yang tepat membutuhkan waktu dan usaha. semoga dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat menentukan program studi yang sesuai dengan bakat dan minat, sehingga mengantarkan Anda menuju masa depan yang cerah.

Perlu juga dicatat bahwa tidak ada jurusan yang sempurna. Yang terpenting adalah memilih jurusan yang tepat untuk Anda. Jangan takut untuk berganti jurusan jika Anda merasa tidak cocok, karena masa depan Anda ada di tangan Anda. Pilihlah program studi yang tepat dan raihlah mimpimu!

POST TRUTH, IMPLIKASI DAN SOLUSINYA

Pendahuluan

Era informasi telah mengantarkan kita pada era baru, di mana akses terhadap informasi menjadi lebih mudah dan cepat. Namun, kemudahan ini juga menghadirkan tantangan baru, yaitu fenomena "post-truth". Post-truth didefinisikan sebagai kondisi di mana emosi dan keyakinan personal lebih berperan dalam menentukan opini publik daripada fakta objektif.

Fenomena ini menjadi semakin relevan di Indonesia, di mana media sosial menjadi platform utama penyebaran informasi. Platform ini, meskipun memiliki manfaat, juga rentan terhadap penyebaran informasi yang salah dan hoaks. Hal ini dapat memicu polarisasi dan fragmentasi sosial, serta melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi dan media.

Contoh konkritnya lagi bisa dilihat atau dirasakan pada saat pemilu presiden yang baru saja kita lalui. Banyak orang menjatuhkan pilihan kepada pasangan tertentu bukan karena sungguh mengetahui dan memahami latar belakang dan visi pasangan calon, melainkan lebih hanya kepada pesona tarian atau indahnya kata-kata.

Apa itu Post Truht?

Walaupun hingga kini belum ada defenisi dari post trust yang diterima secara secara universal, namun fenomena post-truth telah menjadi topik yang banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam kaitannya dengan politik dan media sosial.

Menurut Oxford English Dictionary (2016), post truht diartikan sebagai, “kondisi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal." Sejalan dengan itu, Michael J. Sandel (2018) mendefenisikannya sebagai, era di mana kebenaran tidak lagi menjadi landasan utama dalam perdebatan publik, dan digantikan oleh emosi, keyakinan, dan opini pribadi."

Ralph Keyes (2004) secara singkat mengartikannya sebagai, “era di mana emosi, bukan fakta, yang menjadi kekuatan pendorong utama dalam opini publik." Sedangkan Matthew N. Green and Andrew J. Perrin (2018) secara lebih tegas mengarahkannya dalam dunia politik dengan mengatakan bahwa post trust merupakan “suatu kondisi di mana politik didominasi oleh informasi yang salah, propaganda, dan kebohongan, dan bukan oleh fakta dan argumen yang rasional."

Faktor-faktor yang mendorong munculnya post-truth

  1. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Media sosial dan internet memungkinkan penyebaran informasi dengan cepat dan mudah, tanpa verifikasi dan filter yang ketat. Algoritma media sosial mengantarkan pengguna pada informasi yang selaras dengan keyakinan mereka, menciptakan "echo chambers" dan memperkuat polarisasi. Teknologi deepfake memungkinkan pembuatan konten manipulatif yang tampak realistis, mempermudah penyebaran informasi yang salah.
  2. Krisis kepercayaan terhadap institusi. Ketidakpercayaan terhadap media, pemerintah, dan institusi lainnya mendorong masyarakat untuk mencari informasi dari sumber-sumber alternatif yang tidak selalu terpercaya. Juga skandal dan korupsi yang melibatkan institusi semakin memperlemah kepercayaan public terhadap isntusi pemerintah atau Lembaga pelayanan publik.
  3. Polarisasi politik. Meningkatnya polarisasi politik membuat masyarakat terbagi menjadi dua kubu yang saling berlawanan, dengan keyakinan dan opini yang berbeda. Hal ini membuat masyarakat lebih mudah menerima informasi yang selaras dengan keyakinan mereka, dan lebih resisten terhadap informasi yang bertentangan.
  4. Faktor psikologis. Orang-orang cenderung lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan bias dan prasangka mereka. Confirmation bias dan motivated reasoning membuat orang-orang mencari informasi yang menguatkan keyakinan mereka, dan mengabaikan informasi yang bertentangan, meskipun apa yang mereka yakini itu tidak dapat dipercaya dan tidak benar atau tidak sesuai dengan fakta.

Dampak post-truth pada demokrasi dan masyarakat

  1. Melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi dan media. Masyarakat menjadi ragu untuk mempercayai informasi yang disampaikan oleh institusi dan media. Hal ini dapat menyebabkan apatisme politik dan partisipasi publik yang rendah.
  2. Memperkuat polarisasi dan fragmentasi sosial. Masyarakat terbagi menjadi kelompok-kelompok yang saling berlawanan dengan keyakinan dan opini yang berbeda. Hal ini dapat menyebabkan konflik dan ketegangan sosial.
  3. Mengancam demokrasi dan stabilitas nasional. Demokrasi bergantung pada informasi yang akurat dan objektif untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang tepat. Post-truth ini dapat menghambat demokrasi dan stabilitas nasional dan membahayakan sebuah negara, apalagi negara seperti Indonesia, yang tidak saja terpisah-pisah secara geografis tetapi juga sangat beranekaragam dari sisi kultur, agama, bahasa dan sosial ekonomi.

Strategi untuk melawan post-truth

  1. Meningkatkan literasi digital masyarakat. Masyarakat perlu di edukasi tentang cara mengidentifikasi informasi yang salah dan hoaks. Selain itu penting juga untuk mengajarkan critical thinking skills agar masyarakat lebih kritis terhadap informasi yang diterima.
  2. Mendukung jurnalisme berkualitas. Jurnalisme yang akurat dan objektif sangat penting untuk melawan post-truth. Penting untuk mendukung media yang memproduksi jurnalisme berkualitas tinggi. Namun apakah media dapat memegang teguh prinsip jurnalisme di tengah arus kepentingan?
  3. Membangun platform fact-checking. Platform fact-checking dapat membantu masyarakat untuk memverifikasi informasi yang diterima. Memang sudah beberapa media besar mencoba meluruskan berita-berita hoaks yang ada, namun masih terasa sangat kurang jika dibandingkan dengan tumpahnya informasi hoaks yang beredar di tengah masyarakat. Namun penting juga diingat bahwa platform fact-checking ini harus dipastikan independen dan terpercaya.
  4. Mendorong dialog dan perdebatan yang sehat. Penting untuk menciptakan ruang bagi dialog dan perdebatan yang sehat antar kelompok dengan keyakinan yang berbeda. Namun debat yang sehat bukan menjadi ajang untuk saling merendahkan dan menunjukkan kelemahan lawan debat seperti yang terjadi pada debat capres -cawapres beberapa minggu yang lalu.
  5. Mendorong regulasi yang bertanggung jawab. Pemerintah sangat perlu mengambil peran dalam mengatur platform media sosial dan penyebaran informasi. Dengan regulasi yang bertanggung jawab dapat membantu memerangi penyebaran informasi yang salah dan hoaks.

Penutup

Era post-truth menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat Indonesia. Untuk membangun kembali kepercayaan dan menjaga stabilitas nasional, diperlukan upaya bersama dari semua pihak untuk melawan post-truth dan mempromosikan kebenaran dan fakta.

 

Daftar Pustaka

Green, Matthew N., and Andrew J. Perrin. "Post-Truth Politics: Fake News, Propaganda, and the 2016 US Presidential Election." Political Science Quarterly 133, no. 1 (2018): 1-23.

Pomerantsev, Peter. The Post-Truth Condition: Fake News and the Future of Fact. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2017.

Sandel, Michael J. The Post-Truth Era: Truth, Lies, and the Decline of Democracy. New York: Liveright Publishing Corporation, 2018.

Sikap Terbaik terhadap Penilaian dari Pihak Lain

Memberi dan menerima penilaian dari pihak lain sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan kita setiap hari. Hal itu terjadi antara guru dan siswa, atasan dengan bawahan dan bisa juga sebaliknya. Dan penilaian itu, sebaik-baiknya dilakukan, tetap saja tidak dapat dilepaskan dari subjektifitas yang melakukan penilaian. Bahkan dalam dunia modern ini penilaian seringkali disampaikan hanya dalam bentuk symbol seperti biasa kita lihat dalam berbagai aplikasi android, seperti gojek, rumah belajar, telkomsel dan sebagainya. Cukup dengan nenekan symbol bintang dan menuliskan komentar pada tempat tersedia akan mempengaruhi hidup-matinya aplikasi atau orang tertentu.

Ambil contoh aplikasi bukalapak ketika pemiliknya mencampuri urusan politik dan seperti menjelek-jelekkan pemerintah, orang-orang yang tidak setuju dengan tindakan tersebut langsung menilai (baca: menghukum) aplikasi bukalapak dengan memberikan ulasan tidak bagus dan memberi bintang satu. Apa akibatnya? Dikabarkan bahwa dengan gerakan memberikan bintang satu pada aplikasinya di google paly store  bukalapak kehilangan banyak penghasilan bahkan di beberapa kota beberapa karyawannya diberhentikan dengan alasan perampingan.

Begitu berpengaruhnya penilaian pihak lain itu terhadap objek yang dinilai. Penilaian yang diberikan bisa membesarkan atau mengecilkan bahkan bisa menghidupkan atau mematikan. Pertanyaannya sekarang bagaimana sikap kita menghadapai penilaian yang diberikan oleh pihak lain? Apakah menerima itu sepenuhnya atau menolaknya, atau menerima setengah dan menolak setengah?

Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita simak sebuah cerita yang sudah banyak ditulis dan beredar di buku dan di media sosial. Dikisahkan di sebuah sekolah seni ada seorang murid bernama Lidya yang belajar melukis dengan sangat rajin. Suatu hari Lidya ingin mengetahui tingkat kemampuan melukisnya. Ia melukis satu lukisan lalu menaruhnya di aula sekolah dengan sebuah catatan kecil di sampingnya, berbunyi “Jika anda menemukan kesalahan dalam lukisan ini silakan lingkari dengan cat hitam.”

Keesokan harinya Lidya melihat lukisannya di aula penuh dengan lingkaran warna hitam. Ia pun kembali belajar dengan giat dan setelah beberapa waktu ia kembali melakukan hal yang sama. Ia menaruh lukisannya dan catatan kecil yang sama. Namun keesokan harinya lagi-lagi ia menemukan banyak lingkaran hitam di atas lukisannya. Ia kemudian menjadi sangat sedih.

Di kelas gurunya melihat bahwa Lidya tampak sedih. Gurunya bertanya, “Lidya, apa yang terjadi? Kamu tampak begitu sedih.” Kemudian Lidya menceritakan semuanya kepada Gurunya. Gurunya kemudian berkata, “Coba kamu buat lagi satu lukisan terbaikmu, namun kali ini ubah catatannya menjadi, “Siapapun yang menemukan kesalahan dalam lukisan ini, silakan memperbaikinya.”

Lidya mengikuti apa yang dikatakan oleh gurunya. Ia membuat satu lagi lukisan terbaiknya dengan mencurahkan segala teknik dan keterampilan melukis yang telah ia pelajari selama ini. Ia kembali menaruhnya di aula sekolah dan meninggalkan sebuah catatan kecil sesuai dengan yang dikatakan gurunya.

Kesesokan harinya ia menemukan lukisannya utuh seperti sediakala, tidak ada lingkaran hitam atau catatan sedikitpun. Ia merasa senang kemudian mendatangi gurunya dan bertanya, “Guru, sepertinya tidak ada perubahan yang luar biasa dalam lukisan yang saya buat, namun mengapa kali ini tidak ada yang menemukan kesalahan dalam lukisan tersebut?” Sambil tersenyum gurunya menjawab, “Lidya, dengarlah baik-baik. Adalah mudah bagi seseorang untuk menemukan kesalahan orang lain, namun sulit bagi seseorang untuk mengoreksi atau memperbaiki suatu kesalahan.”

Dari kisah itu kita bisa menyimpulkan bahwa apapun yang anda lakukan, seberapa besar usaha yang anda curahkan akan selalu ada komentar negatif. Belum tentu hal itu terjadi karena ada suatu yang buruk dalam usaha atau pekerjaan yang kita lakukan, bisa jadi itu terjadi hanya karena tidak sesuai dengan harapan dan pandangan seseorang. Jika bercermin dari kisah Lidya, kata kuncinya adalah “mencurahkan segala yang dimiliki dan memberikan yang terbaik.” Sesudah melakukan hal itu, jika masih ada komentar negatif dan merendahkan atau mengecewakan, terimalah sebagai suatu pendorong dan penyemangat. Jangan patah arang karena itu. Ingat bahwa penilaian seseorang terhadap kita tidak lepas dari pola pikir, pandangan dan pengetahuan yang dimilikinya.

Bagaimanapun orang yang selalu mengritik belum tentu dapat memberikan suatu usulan solusi perbaikan untuk anda. Oleh karena itu jangan sampai anda dihambat oleh kritik dan komentar yang negatif dan tidak membangun dalam menggapai tujuan anda. Lakukan saja yang terbaik; bahwa kemudian dinilai amat baik, kurang baik atau buruk itu sudah di luar kendali kita. Tentu tidak semua hal berada dalam kekuasaan kita, bukan? Tetaplah melakukan dan memberi yang terbaik. Tuhan senantiasa menolong.