... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

SAKRAMEN EKARISTI

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Sesudah minggu lalu kita berbicara tentang Sakramen Baptis, hari ini kita berbicara tentang sakramen Ekaristi atau yang sering kita sebut Kurban Misa atau Misa Kudus. Selain itu, sakramen Ekaristi juga bisa disebut sebagai Perjamuan Tuhan, Kurban Kudus, Perjamuan Ekaristi atau sakramen altar.

Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium (no. 11) Sakramen Ekaristi disebut sebagai puncak dan sumber seluruh kehidupan (culmen et fons vitae) Gereja. Melalui Ekaristi, Kristus sendiri menghadirkan kurban salib-Nya, memberi santapan rohani, dan menyatukan umat dalam Tubuh-Nya.

Ekaristi ditetap sendiri oleh Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir, ketika Dia mengambil roti dan anggur, mengucap syukur, lalu berkata: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” (Luk 22:19). Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:20). Setiap kali umat merayakan Ekaristi, sabda Yesus ini dihidupi kembali.

Dengan menerima komuni dalam sakramen Ekaristi dengan layak, umat beriman memperoleh Rahmat antara lain:

a)         Kesatuan lebih erat dengan Kristus (KGK 1391).

b)        Pengampunan dosa-dosa ringan (KGK 1394).

c)         Kekuatan melawan dosa dan kelemahan.

d)        Persatuan lebih mendalam dengan sesama dalam Gereja.

Yesus sendiri berkata: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). Komuni menyatukan kita dengan Kristus dan membuat kita menjadi anggota Tubuh Kristus yang hidup, memperbaharui Rahmat yang kita terima pada saat pembaptisan dan meneguhkan kita dalam peperangan melawan dosa (KGK 1391-1397, 1416).

Sayarat untuk dapat menerima Tubuh Kristus adalah harus seorang katolik (sudah dibaptis dan komuni pertama). Jika seseorang mempunyai dosa berat dalam kesadarannya, maka terlebih dahulu harus mengaku dosa kepada imam agar sungguh layak menerima komuni kudus.

MAKNA PERSEMBAHAN (KOLEKTE)

Setiap kali kita mengikuti Perayaan Ekaristi, ada satu momen yang sering dianggap sebagai rutinitas atau formalitas saja, tetapi sesungguhnya sangat penting, yaitu pengumpulan persembahan atau kolekte. Kolekte bisa berupa uang atau kadang hasil bumi, barang, dll. Lalu apa maknanya bagi kita?

Pertama, kolekte adalah ungkapan syukur kita kepada Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK 1357) menegaskan bahwa dalam Ekaristi, Gereja mempersembahkan kepada Allah apa yang pertama-tama datang dari-Nya, yaitu roti dan anggur, sebagai tanda ciptaan yang dikembalikan kepada Pencipta. Dengan demikian, apa pun yang kita persembahkan, termasuk uang kolekte, adalah tanda syukur bahwa hidup dan rezeki kita berasal dari Tuhan.

Kedua, kolekte adalah tanda partisipasi dalam karya Gereja. Sacrosanctum Concilium (Konstitusi Liturgi Suci, artikel 48) menegaskan bahwa umat beriman hendaknya “ikut serta dalam kurban Ekaristi, bukan hanya dengan mempersembahkan kurban tak bernoda, tetapi juga dengan mempersembahkan dirinya sendiri.” Maka, persembahan uang hanyalah simbol; yang terutama ialah kita mempersembahkan diri kita kepada Allah.

Ketiga, kolekte adalah wujud kasih dan solidaritas. KGK 1351 menyatakan bahwa sejak awal Gereja, umat beriman membawa persembahan mereka untuk menolong kaum miskin. Jadi, kolekte tidak hanya untuk kebutuhan liturgi dan pastoral, tetapi juga untuk karya amal kasih. Santo Paulus mengingatkan kita: “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7). Dengan memberi, kita belajar berbagi, peduli, dan menyatukan diri dalam kasih persaudaraan.

Kita semua diajak untuk tidak memandang kolekte sebagai kewajiban atau rutinitas semata, tetapi sebagai tindakan iman, syukur, dan kasih. Jumlah yang kita berikan mungkin kecil, tetapi bila disertai dengan hati yang tulus, Allah menerimanya sebagai persembahan yang berkenan di hadapan-Nya.

Selain itu penting juga diingat, kita hendaknya memberi yang terbaik jangan diremas dulu sampai kecil sekali atau uang yang sudah robek atau yang sudah sangat lusuh, karena yang kita berikan adalah wujud diri kita yang kita persembahkan untuk Tuhan dan untuk sesama. Semoga setiap kali kita memberi dalam kolekte, kita juga mempersembahkan hati, hidup, dan seluruh karya kita untuk dipersatukan dengan kurban Kristus di altar.

SAKRAMEN BAPTIS

Kita sudah mengetahui bahwa dalam Gereja Katolik ada tujuh sakramen. Sakramen yang pertama adalah sakramen baptis atau disebut juga sakramen permandian suci. Beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang sakramen ini antara lain:

  1. Sakramen baptis adalah sakramen dasar dan prasayarat (syarat pertama dan utama) untuk dapat menerima sakramen-sakramen lainnya.
  2. Sakramen baptis adalah salah satu sakramen yang hanya boleh diterima sekali untuk selamanya.
  3. Bentuk klasik dari penyelenggaraan pembaptisan adalah tiga kali perendaman ke dalam air, tetapi bisa juga dengan menuangkan air tiga kali di atas kepala calon sambil pelayan mengatakan, “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (KGK 1229-1245,1278). Air melambangkan pembersihan dan kehidupan baru.
  4. Yang dapat dibaptis adalah setiap orang yang belum pernah dibaptis. Satu-satunya syarat adalah iman yang harus diikrarkan secara public dalam upacara liturgi sakramen baptis (KGK 1240 – 1252).
  5. Gereja Katolik (dan banyak gereja lain) mempraktikkan pembaptisan bayi dan kanak-kanak, Alasannya adalah, bahwa sebelum kita memutuskan untuk menuju Allah, Allah sudah terlebih dahulu memutuskan untuk memanggil kita. Karena itu baptisan adalah Rahmat, suatu karunia cuma-cuma dari Allah, yang menerima kita tanpa syarat. Dalam hal ini orangtua Katolik mengharapkan yang terbaik untuk anak-anak mereka sehingga mereka pun mengharapkan baptisan bagi anak-anak mereka. Dngan pembaptisan itu, bayi dan kanak-kanak dibebeaskan dari pengaruh dosa dan kuasa maut.
  6. Dengan pembaptisan kita menerima beberapa Rahmat (KGK 1262–1270) antara lain: a) Penghapusan dosa asal dan semua dosa pribadi dihapuskan; b) Kelahiran baru dalam Roh Kudus sehingga kita menjadi anak-anak Allah; c) Masuk dalam kenaggotaan Gereja: umat beriman baru menjadi bagian dari Tubuh Kristus, yakni Gereja, dan d) Meterai rohani, yakni dengan pembeptisan kita menerima “tanda tak terhapuskan” yang tidak dapat diulangi.
  7. Siapa yang dapat membaptis? Normalnya Uskup Imam atau Diakon menjadi pelayan sakramen baptis. Tetapi dalam keadaan darurat, setiap orang Kristen yang sudah dibaptis dapat membaptis dengan mengucurkan air di atas kepala si penerima dengan mengatakan, “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”.
  8. Biasanya pada pembaptisan kita mendapat nama baru yang kita sebut dengan nama baptis. Melalui nama yang kita terima dalam pembaptisan itu Tuhan mengatakan kepada kita, “Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku (Yes 43:1).
  9. Biasanya nama baptis nama para Santo Santa itu bermaksud bahwa tidak ada teladan yang lebih baik dari para santo santa, dan tidak ada penolong yang lebih baik dari pada mereka. Sehingga dengan menggunakan nama-para kudus menjadikan kita memiliki sahabat dalam Tuhan (KGK 2156-2159, 2165-2167).
Terima kasih dan semoga bermanfaat!!!

MERDEKAKU MASIH DALAM PERJALANAN


bagaimana aku memaklumkan arti kebebasan

bila aku berdoa saja dilarang

jika ibadahku dibubarkan

demi dan atas nama kata mayoritas

 

bagaimana aku memekikkan kata merdeka

jika nyanyian perutku

lebih merdu dan nyaring didengarkan

dibanding dendang genderang lagu kebangsaan

 

bagaimana aku meneriakkan makna kejayaan

jika pestamu bukanlah pestaku

andai merdekamu bukan merdekaku

merdekalah saja

merdekalah

karena merdekaku

masih sedang dalam perjalanan 

IMAM MENCIUM ALTAR

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, salah satu gerakan liturgis yang sering kita lihat namun mungkin belum kita pahami maknanya secara mendalam, yaitu “Imam mencium altar.” Setelah prosesi masuk dan sesudah imam serta para pelayan liturgi sampai di altar, imam mencium altar dengan penuh hormat. Kali ini kita hendak melihat makna dari gerak liturgis ini.

Gereja, dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) No. 49 menyatakan: "Ketika telah sampai di altar, imam bersama dengan para pelayan membungkuk hormat kepada altar, sebagai tanda penghormatan kepada Kristus; setelah itu, sebagai tanda penghormatan, imam mencium altar..."

Demikian juga dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK), altar dijelaskan sebagai: “Kristus sendiri hadir dalam altar sebagai Imam dan kurban persembahan” (KGK 1383).

Dengan demikian, ketika imam mencium altar, Imam sebenarnya mencium Kristus sendiri, yang hadir secara simbolik dan nyata melalui altar, tempat kurban Ekaristi akan dipersembahkan.

Ada tiga makna utama dari tindakan mencium altar:

  • Penghormatan kepada Kristus. Altar adalah lambang Kristus sendiri, Sang Batu Penjuru (lih. 1 Kor 10:4). Dengan menciumnya, imam menyatakan kasih dan hormat kepada Tuhan yang akan segera hadir dalam Ekaristi.
  • Penghormatan terhadap para martir atau santo-santa. Dalam tradisi kuno Gereja, altar dibangun di atas makam para martir. Hingga kini, dalam setiap altar tetap diletakkan relikui santo-santa. Maka, ciuman imam juga merupakan penghormatan kepada para kudus yang telah menyerahkan hidupnya demi Kristus.
  • Ungkapan kasih dan kesatuan. Ciuman adalah tanda kasih. Imam mencium altar sebagai lambang kasihnya kepada Allah dan kepada umat yang akan dia layani dalam perayaan kudus ini.

Walaupun hanya imam yang melakukan tindakan ini, kita sebagai umat beriman diajak untuk ikut masuk dalam makna spiritualnya. Maka kita semua tanpa terkecuali untuk:

  • menghormati altar sebagai tempat kudus, bukan sebagai benda biasa (dengan tidak ribut di sekitar altar, membelakangi altar demi foto, video dan konten FB Pro)
  • menyadari bahwa Perayaan Ekaristi adalah perjumpaan penuh kasih dengan Kristus yang hidup
  • meneladani para martir dan kudus yang hidupnya dipersembahkan bagi Tuhan.

Maka, ketika nanti kita melihat imam mencium altar, marilah kita mengangkat hati kita dalam doa dan berkata bisa mengatakan dalam hati: “Tuhan, Engkaulah altar hidupku. Aku mempersembahkan seluruh hidupku kepada-Mu.”

Semoga Perayaan Ekaristi yang kita ikuti membawa kita pada pengalaman iman yang lebih hidup dan menyentuh.

Terima kasih. Tuhan memberkati.