... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

ALLAH JAUH ATAU DEKAT

Apakah Allah itu jauh atau dekat? Pertanyaan ini yang sering mengganggu kita umat beriman kristiani khususnya Katolik. Namun sesuai dengan kitab suci kita mengakui jauhnya Allah (transenden) dan sekaligus dekat (imanen) kepada kita, bahkan kita mengimani dan mengakui bahwa Allah lebih dekat kepada kita daripada diri kita sendiri.

Baik jauhnya Allah maupun dekatnya diucapkan dalam kitab suci misalnya dikatakan Yeremia: “Masakan Aku ini hanya Allah dari dekat … dan bukan Allah dari jauh juga?” (Yer 23:23). Jauhnya Allah diakui oleh raja Salomo dengan berkata: “Sesungguhnya langit bahkan langit yang melampaui segala langitpun tidak dapat memuat Engkau ….” (1Raj 8:27b). Namun dekatnya Tuhan diwartakan di dalam Mazmur: “Tuhan dekat kepada setiap orang yang berseru kepadaNya ….” (Mzm 145:8; bdk. juga Mzm 139).

Demikian juga dalam perjanjian baru. Jauhnya Allah diwartakan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh-sungguh tak terselami jalan-jalanNya.” (Rom 11:33 dst). Terhadap orang-orang Atena rasul mewartakan juga dekatnya Allah dengan berkata: “… Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada ….” Kis 17:27b-28a).

Tetapi Allah sangat mendekati kita di dalam diri Kristus: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Putera Allah yang tunggal, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” (Yoh 1:18). “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yoh 14:9b). 

Pewartaan kitab suci ini bergema di dalam doa Gereja, cotothnya:

Engkaulah Allah satu-satunya,

Allah yang hidup dan sejati,

Allah yang sudah ada sebelum awal zaman,

Yang tetap ada untuk selama-lamanya

Dan yang meniami cahaya yang tak terhampiri.

Namun Engkaulah satu-satunya yang baik,

Engkaulah sumber kehidupan yang menciptakan segala sesuatu.

Makhluk-Mu Kaulimpahi berkah

dan Kau gembirakan dengan cerah cahaya-Mu ….

                  (Prefasi DSA IV)

Allah sumber segala rahmat,

Engkau berkenan tinggal di antara kami

dan mendiami hati yang jujur dan murni.

Bantulah kami kiranya dengan rahmat-Mu,

agar mencapai kejujuran dan kemurnian hati,

sehingga Engkau berkean bersemayam dalam hati kami.

Demi Yesus Kristus ….

         (Doa Pemb. Hari Minggu ke-6)

Pewartaan Kitab Suci tadi bergema juga dalam ajaran Gereja katolik

Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya

Allah berkenan mewahyukan diri-Nya

Dan menyatakan rahasia kehendak-nya.

Berdasarkan kehendak ini, manusia melalui Kristus,

Sabda yang menjadi daging di dalam Roh Kudus,

menemukan jalan kepada Bapa

dan mengambil bagian dalam kodrat ilahi.

Maka dengan wahyu ini Allah yang tak kelihatan,

karena cinta kasihNya yang melimpah ruah,

menyapa manusia sebagai rahmat dan bergaul dengan mereka,

guna mengundang dan menerima mereka

ke dalam persekutuanNya.

                     (Kon. Vatikan II; Wahyu 2)

Kristuslah hidup kita

Anggapan yang sama tentang jauhnya Allah juga sering diterapkan kepada Kristus dan menyerang iman kita dengan mengatakan bahwa Kristus adalah jauh sekali dan menghakimi dengan penuh kemarahan, sehingga manusia mesti menakutinya, maka keselamatan mesti disampaikan melalui sakramen. Khususnya orang-orang biasa tidak bisa bersahabat dengan Yesus, dan justru itu orang kudus menjadi pengantara bagi orang katolik.

Lalu bagaimana kita harus menjawab dan menanggapi ini sebagai seorang katolik? Untuk menjawab itu kita dapat melihat dalam ajaran Gereja di dalam liturgi (ibadat resmi) dan di dalam kebiasaan orang-orang katolik yang telah ada sejak dulu kala.

Kehadiran Kristus di dalam hidup rohani

Berulangkali seorang katolik membuat tanda salib di badannya (katolik Roma dengan menandai dahi, dada dan kedua bahu atau dahi, mulut dan dada; katolik timur dengan menandai dahi, kaki, bahu, berarti seluruh badan) dan atau benda, seperti kitab suci, roti; orangtua juga di dahi atau dada anak.

Kebiasaan ini sudah lazim pada abad kedua, seperti kita ketahui dari pujangga Gereja Tertulianus yang mengatakan bahwa kebiasaan membuat tanda salib dari para rasul dan dihubungkan dengan Yeh 9:4 dan Wahyu 7:2; 9:4. Tanda salib juga dipakai bersama dengan penumpangan/penguluran tangan sebagai tanda peberkatan. (Marthin Luther masih sangat menganjurkan kebiasaan itu, lalu di berbagai golongan protestan dicap sebagai takhyul; masa kini lagi dimasukkan di dalam berbagai agende protestan).

Dengan membuat tanda salib, orang katolik mengaku keselamatan yang diselenggaraan Kristus di kayu salib yang menjadi sumber segala berkat. Dengan membuat tanda salib di badan, orang katolik mengakui bahwa keselamatan dari Kristus menetapkan seluruh hidupnya, pikirannya (dahi), pembicaraan (mulut), perasaan (dada) dan perbuataannya (bahu).

Dengan memberkati umat dengan tanda salib diakui bahwa salib Kristus adalah sumber segala berkat. Dengan memasang patung salib di rumah (anjuran) dan di gereja (wajib), keluarga dan umat mengakui bahwa hidup keluarga dan umat terlaksana di bawah naungan Kristus yang tersalib dan misteri keselamatan, yang terjadi di salib, merupakan pusat hidup dan agama katolik.

Ada aturan gereja, bila ada prosesi atau perarakan, maka turut dibawa serta sebuah salib, tanda dan lambang Kristus yang mengantar dan menyertai umatNya melalui zaman ini sampai ke hidup kekal.

Pada masa Paskah, lilin paska yang secara meriah dinyalakan pada malam paskah dan tinggal di tengah umat sampai hari pentakosta dan dihias dengan lima luka Kristus dan angka tahun bersangkutan melambangkan kehadiran Kristus yang tersalib dan bangkit dengan dengan jaya di tengah-tengah umatNya seperti dahulu kala tiang api menunjukkan kehadiran Allah di tengah umat Israel, mulai dari malam paskah pembebasan dari Mesir sampai masuk ke tanah perjanjian.

Pada masa natal patung palungan secara nyata menggambarkan kelahiran Kristus di dunia ini demi keselamatan umat manusia. Di banyak daerah palungan itu tidak hanya didirikan di ruang gereja melainkan juga di setiap rumah tangga, khususnya demi pendidikan anak. Di Eropa palungan terdapat juga di banyak terdapat juga di banyak gereja protestan, seperti juga lilin paskah.

Khusus pada masa Prapaskah setiap hari Jumat, tetapi juga pada kesempatan lain seperti retret, umat katolik dianjurkan melaksanakan ibadat jalan salib, sebuah ibadat yang berasal dari kota Yerusalem, dimana umat masih mengetahui jalan yang ditempuh oleh Yesus dahulu sampai ke bukit Golgota. Dengan ibadat ini dihayati dan direnungkan sengsara Kristus demi keselamatan kita, dibangunkan sikap tobat dan cinta kasih. Di berbagai daerah di Eropa ibadat jalan salib menjadi ibadat oikumene, khususnya untuk orang muda pada masa Prapaska.

Juga dalam ibadat Rosario direnungkan misteri-isteri keselamatan mulai dari peristiwa kelahiran Kristus, lewat karyaNya, sengsaraNya sampai ke peristiwa-peristiwa kemuliaanNya. Pada ibadat ini dilihat juga peranan Ibu Yesus, yang hadir pada permulaan keselamatan waktu Yesus lahir, hadir juga di kaki salib dan ketika Gereja sedang lahir (Kis 1:14).

Beberapa contoh ini saja menunjukkan bahwa Kristus untuk orang katolik tidak jauh melainkan merupakan pusat hidup rohani.

Kehadiran Kristus di dalam Liturgi

Untuk membuktikan kehadiran Kristus dalam liturgi, kita dapat melihat dua contoh berikut ini:

Tujuh sakramen

Semua sakramen tidak dilihat sebagai tanda yang ada di antara Kristus dan umatNya, melainkan adalah perbuatan Kristus sendiri yang menyelamatkan umat, menggabungkan umat dengan Kristus lebih erat, bahkan mempersatukan umat dengan Kristus.

Di dalam sakramen baptis manusia yang dahulu jauh dari Kristus menjadi anggota tubuh Kristus (bdk. 1Kor 12:13). Dalam sakramen Krisma (penguatan anggota diurapi dan dimeteraikan oleh Roh Kristus yang dijanjikanNya bagi kaum beriman (bdk. 1Yoh 2:27).

Di dalam sakramen ekaristi anggota Gereja sangat erat digabungkan dengan Kristus, yang menjadi makanan dan minuman, menjadi satu tubuh di dalam diri Kristus (bdk. 1Kor 10:16 dan ke-4 Doa Syukur Agung).

Sakramen ekaristi atau kurban misa tidak hanya satu dua kali setahun dirayakan melainkan setiap hari minggu, bahkan setipa hari bila ada imam. Maka beruntunglah kita sebagai orang katolik, karena cukup sering mempunyai kesempatan mempersatukan diri dengan Kristus.

Karena orang katolik percaya bahwa Kristus sungguh hadir di dalam hosti (roti suci), dan karena ada kebiasaan menyimpan hosti di setiap gereja, dimana sering dirayakan ekaristi (tempatnya disebut tabernakel), maka Kristus untuk umat dilihat sangat dekat, sehingga tidak hanya karena dedikasi (pengudusan) gedung gereja melainkan juga karena kehadiran Kristus di dalam sakramen mahakudus gereja disebut rumah Tuhan.

Di dalam sakramen tobat anggota Gereja berkat kematian Kristus diperdamaikan kembali dengan Allah (bdk. 2Kor 5:18-21) dengan kuasa yang diberikan Kristus sesudah bangkit dari alam maut (bdk. Yoh 20:22-23) dan rumus pengampunan dosa.

Di dalam sakramen pengurapan orang sakit, orang sakit dikuatkan dengan doa dan pengurapan minyak “atas nama Tuhan” (bdk. Yak 5:14; Mrk 6:13). Dengan pengurapan ini ditunjukkan juga , bahwa orang sakit intu sekarang lebih serupa dengan Kristus di dalam sengsara-Nya.

Di dalam sakramen pentahbisan (ordinasi) seseorang ditugaskan melayani dan memimpin umat atas nama Tuhan (“in persona Christi”) di dalam tritugas: mengajar, menguduskan dan memimpin (imam, nabi dan raja).

Di dalam sakramen perkawinan perjanjian perkawinan kedua orang itu dibuat mewujudkan perjanjian baru dan kekal di antara Kristus dan Gereja (bdk. Ef 5:22-33)

Bagaimana pandangan Gereja katolik mengenai kehadiran Kristus di dalam pewartaan sabda/Injil.

Tahun Gereja

Dalam satu tahun, Gereja katolik menguraikan/merayakan misteri Kristus mulai dengan penjelmaan/kehadiranNya pada masa Adven dan Natal sampai kedatanganNya kembali pada akhir tahun Gereja, yang juga disebut tahun liturgi atau tahun Tuhan (Anno Domini). Puncaknya perayaan misteri paska pada masa prapaska, Trihari suci dan masa paskah, sampai pentakosta.

Konsili Vatikan II lebih terperinci berbicara mengenai tahun Gereja dan memperbaharui susunannya. Kemudian dalam konstitusi liturgi dikatakan: “Gereja, mempelai Kristus, memperingati misteri penebusan begitu rupa dan membuka bagi para beriman harta keutamaan dan jasa Tuhannya sedemikian, sehingga keutamaan dan jasa itu tetap ketika dalam cara tertentu (misalnya dengan perayaan, sakramen, acara dll) dihadirkan, sehingga orang yang mencicipinya dipenuhi rahmat keselamatan.” (lih. SC 102)

Tetapi setiap hari minggu juga dirayakan sebagai hari kebangkitan Kristus (yang kecil) beserta hari Jumat sebagai hari pantang demi menghormati wafat Kristus.

Di banyak daerah di dunia yang sudah lama menjadi daerah Kristen, tahun Gereja yang dirayakan di dalam liturgi menghasilkan banyak kebiasaan rakyat dan keluarga, sehingga rakyat seluruhnya mengambil bagian dalam misteri Kristus dsn hidup keluarga ditera oleh misteri keselamatan.

Gambaran sepintas melalui sejarah

Pada awal abad ke-4 seorang imam dari Alexandria (Mesir), bernama Arius, mengajarkan bahwa Kristus Yesus hanya makhluk biasa, bukan Allah. Walaupun Arius dikucilkan, ajarannya makin berkembang di sebelah timur, akhirnya juga di sebelah barat. Banyak suku bangsa muda yang pada masa itu menerima agama Kristen, menerimanya dalam bentuk Arianisme. Arianisme itu berabad-abad lamanya menyusahkan Gereja dan meninggalkan sisa-sisa sampai sekarang. Di berbagai pertemuan besar, yang disebut konsili ekumenis (=pertemuan umum), dicari dan dirumuskan kebenaran (dogma = rumus kebenaran), misalnya di Konsili Nicea (tahun 352), Konstantinopel (tahun 381), Efesus (tahun 431), Kalsedon (tahun 451). Di berbagai konsili dirumuskan sebagai kebenaran:

“Kristus sungguh adalah Allah dan manusia. Hanya bila kodrat ilahi dan manusiawi dipertahankan, keselamatan kita terjamin. Karena Kritus sungguh Allah, maka ibuNya harus disebut dan dihormati sebagai bunda Allah. Kodrat ilahi dan manusia sejak penjelmaanNya digabungkan di dalam satu diri Kristus, tidak berpisah dan tidak bercampur.

Ada dua kehendak di dalam diri Kristus, kehendak ilahi dan kehendak manusiawi yang tetap menaklukkan diri kepada kehendak ilahi. Roh Kudus yang berasal dari Bapa dan atau melalui Putera sungguh Allah dan Tuhan. Walaupun Bapa adalah Allah, begitu juga Putera dan Roh Kudus, namun hanyalah satu Allah, tetapi tiga pribadi (persona).

Karena Arius dan Arianisme menyangkal kodrat ilahi Kristus, maka Gereja berabad-abad lamanya terpaksa menekankan kodrat ilahi. Peperangan itu yang sering disertai dengan pertempuran senjata dan dengan penganiayaan, karena para kaisar ikut campur tangan, menghasilkan beberapa bidaah (ajaran sesat), misalnya ajaran monofitisisme yang kuat tersiar di Mesir dan Arab dan menyangkal kodrat manusia Kristus.

Tetapi dengan melawan Arianisme Gereja terlalu kuat menekankan kodrat ilahi Kristus dengan semboyan “Kristus Allah kita” sehingga kodrat manusia hampir dilupakan.

Maka peranan Kristus sebagai pengantara semakin mundur dan diganti dengan orang kudus (yang sejak awal mula dihormati). Sakramen-sakramen yang dahulu kala merupakan pusat hidup rohani Gereja, sekarang juga mundur sampai hampir-hampir dilupakan diganti dengan indulgensi.

Di Gereja kuno setiap hari Minggu dirayakan sebagai hari paskah mingguan dan satu kali setahun hari Minggu dirayakan lebih meriah (50 hari, sampai Pentakosta) dengan masa persiapan (prapaska, puasa). Tetapi sejak peperangan dengan Arianisme makin munu perayan Natal dan Epifania. Di tiga abad pertama pesta natal tidak dikenal di Gereja. Baru dengan kaisar Roma pertama yang dibaptis, peringatan kelahiran Kristus yang waktu itu sudah dirayakan di Gereja Vatikan Santo Petrus, menjadi hari raya. Politik kaisar ingin mengabungkan seluruh warga kerajaannya, baik orang kafir maupun orang Kristen di dalam satu pesta nasional yang sekaligus pesta kedua agama yang kuat.

Karena di Roma pada waktu itu sanga kuat agama bintang (berasal dari Persia dan Babilonia) yang menyembah matahari sebagai dewa sang surya. Pada tanggal 24 Juni (sekarang pesta kelahiran Santo Yohanes Pembaptis) matahari mulai turun dan berbalik ke sebelah selatan. Pada tanggal 25 Desember matahari mulai naik lagi dan berbalik ke sebelah utara. Maka di situ agama bintang merayakan natal (kelahiran) Sang Surya. Untuk melawan agama kuat itu Gereja mulai merayakan kelahiran sang Surya sejati yaitu Yesus Kristus, pada tanggal yang sama. Kaisar konstantinus, demi “perdamaian” para warga kerajaannya menetapkan peringatan itu menjadi hari raya Nasional.

Perayaan natal Kristus lagi ditingkatkan dalam peperangan dengan Arianisme, sehingga sampai sekarang di kalarangan rakyat, natal dilihat lebih tinggi daripada perayaan Paskah. Tetapi kita diselamatkan dalam misteri Paskah (wafat dan kebangkitan Kristus), sedangkan kelahiranNya merupakan awal keselamatan, dan belum penyataannya.

Pada zaman pertengahan tahun 1000 mulai Gereja kembali menemui kodrat manusia Kristus. Mesti disebut dua orang kudus yang menjadi perintis, yaitu Santu Bernardus dari Clairvaux dan Santu Fransiskus dari Assisi. Kristus miskin lahir dan wafat beserta ibuNya menjadi topik devosi, disertai dengan berziarah ke tanah yang diinjak oleh Juruselamat, dimana terdapat kandang kelahiranNya, bukit sengsaraNya dan tempat pemakamanNya.

Celakanya bahwa tidak lama sebelumnya tanah suci jatuh ke tangan sultan (pemimpin Islam), sehingga negara-negara Eropa (dipimpin oleh Gereja) merasa wajib membebaskan tanah suci. Berabad-abad lamanya diutus tentara guna membebaskan tanah suci itu dan menghindarkan jatuhnya Eropa ke tangan “kaum kafir”.

Biarpun devosi umat beralih-alih dari titik berat yang satu ke titik berat yang lain, namun mesti dikatakan bahwa ajaran resmi dan liturgi Roma tetap mempertahankan pokok-pokok utama. Misalnya pesta Paskah selama seluruh sejarah mempunyai derajat tertinggi dalam liturgi, biarpun dimana-mana natal dirayakan dengan lebih meriah dan penuh emosional.

Sudah lama sebelum Konsili Vatikan II (bahkan sudah sejak abad ke-18) ada kegiatan menyesuaikan devosi rakyat dengan ketetapan dan tradisi asli dan sehat. Tetapi baru dengan Konsili Vatikan II kegiatan itu direstui oleh Gereja dan sesudah itu dilaksanakan dengan baik.

Dari pandangan katolik, para reformator (Luther, Zwingli, Kalvin) sangat berjasa menempatkan Kristus sebagai pusat hidup Gereja, tetapi dengan membuang yang sangat pokok atau penting menurut pendangan Gereja katolik misalnya tradisi, penghormatan orang kudus, terutama Santa Perawan Maria, ketujuh sakramen dll.

Tentang tahun liturgi di golongan protestan, nampak bahwa kalander tidak diterima dari kitab suci atau masa apostolik melainkan dibakukan pada masa reformasi, dengan mengubah atau membuang beberapa hal. Maka patut kita syukuri bahwa di banyak daerah sudah banyak penyesuaian dalam tahun liturgi, misalnya dengan perayaan Trihari suci sebagai puncak tahun Gereja dll. bahkan diterima kembali penghormatan kepada orang kudus.

BUKAN KATA

 

BUKAN KATA

Jika kau pernah salah

begitulah semuanya

kita bukan malaikat

Bila kau benci keserakahan

begitulah semuanya

kita adalah citra kesamaanNya 

Bukan kata

bukan!

tapi tindakan nyata

Bila kau nanti

kibarkanlah panji kejujuran

kobarkan semangat juang pahlawan

tegakkan akhlak dan kerukunan

kendatipun

kau bukan malaikat

sekiranya itu kutuliskan untukmu ...

 

sekiranya itu kutuliskan untukmu

 

sekiranya itu kutuliskan untukmu
bisa jadi engkau tidak mempercayaiku
bila kuceritakan langsung padamu
mungkin engkau akan menertawakan aku
andai kukisahkan melalui orang lain
aku takut tidak akan utuh sampai kepadamu
 
jadi bagaimana…
biarlah kukisahkan lewat hembusan bayu senja
agar ia membawanya kepadamu dengan perlahan
izinkanlah kuceritakan melalui desiran angin malam
supaya ia antarkan kepadamu apa adanya
harapku derita ini akan berlalu
dan cerita ini tidak akan menggangu
sama seperti kisah ini yang tidak akan menunggu

BELAJAR DARI ORANG SWEDIA - PEPATAH DARI NEGERI SWEDIA


Swedia dinobatkan sebagai salah satu negara yang paling bahagia di dunia dengan standar kehidupan yang tinggi. Dalam banyak hal Swedia menduduki peringkat atas, tidak terkecuali dalam kewajiban perpajakan yang hampir 30 % dari penghasilan pribadi. Tetapi bagi orang Swedia hal itu bukan sesuatu yang memberatkan, karena mereka juga menerima hal yang setimpal dari negara seperti pendidikan dan jaminan kesehatan gratis dengan standar yang amat tinggi.

Di antara negara Uni Eropa negara ini merupakan negara dengan utang negara terendah, sehingga pada tahun 2016 yang lalu Forbes menobatkan Swedia di peringkat keempat dunia berdasarkan kebebesan moneter. Iklim bisnis dan investasi juga sangat baik dan merupakan salah tujuan investasi yang paling aman.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari orang-orang Swedia terutama cara hidup mereka yang senantiasa berusaha hidup dalam keseimbangan. Hukum keseimbangan ini biasa mereka sebut Lagom (baca: law gem) yang dapat diartikan sebagai, “not too little not too much”.

Orang Swedia juga terkenal dengan kesetiaan dalam persahabatan dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan mereka, meskipun demikian mereka hanya memilih barang-barang berkualitas tinggi untuk mereka miliki dalam rumah atau mereka gunakan. Begitu juga dengan produk-produk mereka, salah satunya yang amat terkenal dan sampai di Indonesia adalah IKEA (produk furniture). Bagi para pendatang mungkin agak sulit masuk lebih dalam lingkungan pergaulan mereka, bukan karena orang Swedia sombong tetapi karena orang-orang Swedia sangat menghormati batasan-batasan pribadi.

Selain itu orang-orang Swedia sangat memberi perhatian yang amat lebih pada perencanaan segala sesuatu. Mereka sangat konsen pada perencaraan sebelum melaksanakan sesuatu. Oleh karena itu kali ini saya akan mengumpulkan pepatah-pepatah orang Swedia, dan saya persembahkan spesial kepada para pembaca yang budiman.

1.     Di mana ada kesederhanaan di situ ada kebajikan

2.     Berikanlah sahutan yang sebanding, jawablah sesuai panggilan

3.     Jumlah yang baik itulah yang baik

4.     Setiap orang menentukan kebahagiaannya sendiri

5.     Lebih baik diam daripada bicara buruk

6.     Pujian berlebihan merupakan beban

7.     Perut lebih cepat kenyang daripada mata

8.     Orang harus makan, jika tidak ia akan mati

9.     Sumur yang paling dalam sekalipun juga bisa kering

10.  Kata “tidak” yang jujur lebih baik daripada “ya” yang tidak tulus

11.  Menulis dengan baik dan berbicara dengan baik hanyalah kesia-siaan belaka jika tidak hidup dengan baik

12.  Tidak ada cuaca buruk, yang ada hanyalah pakaian yang buruk

13.  Pergi itu bagus tetapi rumah adalah yang terbaik

14.  Keseriusan dan kesenangan harus berjalan seiring

15.  Jika Anda memainkan suatu permainan, Anda harus menerima aturannya

16.  Pujian terhadap diri sendiri baunya busuk

17.  Balaslah dengan koin yang sama

18.  Kita tidak pernah menunggu terlalu lama untuk mendapatkan yang baik

19.  Sebuah bisnis dikatakan bagus apabila kedua pihak diuntungkan

20.  Orang yang terlalu banyak membuktikan diri tidak membuktikan apa-apa

21.  Tidak ada surat, itu surat yang bagus

22.  Tong kosong paling nyaring bunyinya

23.  Lebih baik seekor burung di tangan daripada sepuluh ekor di hutan

24.  Sepotong roti di kantung lebih baik dari sehelai bulu di topi

25.  Orang yang berhemat akan berpunya

26. Jangan menghakimi segala hal yang Anda lihat, jangan percayai semua yang Anda dengar, jangan melakukan semua yang bisa Anda lakukan, jangan mengatakan semua yang Anda ketahui, jangan makan semua yang Anda miliki dan jangan biarkan siapapun tahu isi hati atau isi dompet Anda.

Demikian pepatah yang saya kumpulkan dari beberapa buku tentang Swedia, semoga bermanfaat untuk kita, membuat hidup kita makin sederhana, seimbang dan bermakna. 

PERANAN KITAB SUCI DALAM GEREJA KATOLIK

Walaupun Kitab Suci di dalam hidup dan ajaran Gereja Katolik bukan merupakan sumber satu-satunya, seperti berlaku untuk golongan tertentu, namun kitab suci mempunyai kedudukan yang istimewa. Hal ini mudah sekali untuk dilihat dalam cara memakai kitab suci, khususnya Injil.

Pada perayaan misa buku Injil boleh dibawa serta di dalam perarakan, dihias dengan emas, perak dan batu permata diapit dengan lilin bernyala, lalu diletakkan di atas altar dihormati dengan ciuman.

Mimbar, tempat bacaan sabda, boleh diciptakan seimbang dengan altar, tempat kurban Kristus. Konsili Vatikan II berbicara tentang dua meja, yang ada di altar sebagai meja perjamuan Tuhan dan mimbar sebagai meja sabda Gereja.

Sebelum Injil diwartakan oleh daikon, dia memohon berkat dari uskup/imam, lalu buku Injil secara meriah dibawa ke mimbar, diapit lagi dengan lilin, didupai dan dicium.

Perarakan ke mimbar diiringi nengan nyanyian kaum tertebus, Alleluya. Dengan berdiri umat mendengar kabar gembira yang sebaiknya dinyanyikan. Gereja katolik yakin mendengar suara Kristus sendiri yang hadir bila kata suci berbunyi di tengah umat. Justru karena itu umat berdiri dan pada permulaan dan pada penutup berseru: Terpujilah Kristus! Justru itu dalam Gereja katolik tidak dibacakan ayat dan pasal, untuk menghilangkan kesan dibaca dari buku saja.

Ritus yang serupa terjadi bila ada konsili umum atau sinode besar: Kitab suci setiap hari ditahtakan dan dihormati. Di bawah otoritas kitab suci Gereja membahas persoalan-persoalannya.

Atas pesan Konsili Vatikan II liturgi sabda diperbaharui, sehingga umat lebih dalam dapat menikamati kekayaan kitab suci. Pada hari Minggu tetap ada tiga bacaan (tidak hanya dua seperti dulu) dan tidak lagi satu siklus bacaan setiap tahun diulangi, melainkan tiga siklus: Tahun A, Tahun B dan Tahun C. Dengan ini sebagian besar kitab suci didengarkan oleh umat dalam rentang waktu tiga tahun.

Pada perayaan misa setiap hari ada dua bacaan (dan satu mazmur) di dalam dua siklum (tahun I dan II).

Siapa yang berwajib (uskup, imam, daikon dan biarawan-biarawati) melaksanakan Ibadat Harian (Ofisi), dan selain itu membaca satu perikop lagi bersama dengan keterangan dari seorang pujangga Gereja dan empat bacaan singkat. Seluruh umat diundang untuk melaksanakan Ibadat Harian itu, seperti telah biasa sejak dahulu kala. Namun di Indonesia masih belum menjadi kebiasaan.

Selain itu, umat di stasi-stasi diajak juga pada hari biasa satu kali seminggu berkumpul untuk merenungkan sabda Allah. Maka tawaran pembacaan yang resmi cukup; tinggal menerimanya dengan baik dan melaksanakannya di dalam hidup sehari-hari.

Terjemahan Kitab Suci

Ada tuduhan terhadap Gereja katolik bahwa menyembunyikan kitab suci terhadap umat. Gereja melarang untuk diterjemahkan supaya kitab suci atau umat tidak binasa. Namun maksud sebenarnya supaya umat tidak tahu dimana terletak kebenaran.

Sebagai orang katolik mendengar ucapan semacam ini membuat telinga memerah dan darah kita memanas. Lalu bagaiman kita menjawabnya?

Sudah sebelum Vulgata ada beberapa terjemahan lain yang biasa dipakai dalam liturgi di lingkungan Gereja Roma yakni terjemahan yang disebut Itala.

Waktu Santo Agustinus, paus Damasus I menugaskan pujangga Gereja Hieronimus membuat terjemahan baru, yaitu yang disebut Vulgata (=yang populer), karena Itala sudah dilihat kolot bahasanya. Teks Vulgata di Gereja latin (namun tidak di gereja Yunani, Slavia dll) tetap dipakai dalam liturgi sampai Konsili Vatikan II.

Tetapi di luar liturgi, sejak awal mula, diizinkan memakai bahsa daerah. Sebelum Luther menerjemahkan kitab suci dari bahasa Ibrani dan Yunani ke dalam bahasa Jerman, di Jerman sudah ada 14 terjemahan bahasa Jerman umum dan 4 terjemahan daerah sebelah utara, dan 14 terjemahan/terbitan bagian. Walaupun dalam liturgi resmi dipertahankan bahasa Latin sebagai sarana persatuan liturgi dan tanda kesatuan Gereja, namun tetap ada usaha untuk menyampaikan isi kitab suci kepada rakyat biasa yang tidak tahu membaca dan tidak mengerti bahsa latin dengan cara:

a)   gambar-gambar kitab suci (biblia pauperum – kitab suci orang miskin) di ruang gereja.

b)   sandiwara rohani atau sandiwara misteri (di antara ruang altar/mimbar dan tempat umat atau di muka pintu Gereja.

c)    membawa Kitab Suci dalam bahasa daerah sesudah dibaca di dalam bahasa Latin/Yunani.

Memang waktu reformasi banyak golongan berkeliaran dengan membuat kejahatan atas nama Kitab Suci dan menafsirkannya sewenang-wenang, maka Gereja katolik tidak begitu antusias menyebarkan kitab suci ke tangan umat biasa, namun tidak pernah melarang untuk membaca kitab suci.

Atas pengalaman itu maka hanya diizinkan terbitan Kitab Suci yang disertai dengan keterangan dan catatan yang cukup. Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kanon 825 § 1–2, dengan tegas dinyatakan:

“Buku-buku Kitab Suci hanya boleh diterbitkan dengan aprobasi (pengabulan/pengakuan secara resmi) Takhta Apostolik atau Konferensi para Uskup; demikian pula untuk dapat diterbitkan terjemahan-terjemahannya dalam bahasa setempat dituntut agar mendapat aprobasi dari otoritas yang sama dan sekaligus dilengkapi dengan keterangan-keterangan yang perlu dan mencukupi. Umat beriman kristiani katolik, dengan izin Konferensi para Uskup, dapat mempersiapkan dan menerbitkan terjemahan-terjemahan Kitab Suci yang dilengkapi dengan keterangan-keterangan yang cocok”.

Kiranya inilah penyebab umat katolik sampai sekarang tidak begitu asyik merenungkan kitab suci secara pribadi. Tetapi sejak Konsili Vatikan II dan gerakan ekumene sudah perubahan dalam hal itu, seperi bisa kita saksikan dalam berbagai kelompok pendalam kitab suci dan kelompok-kelompok kategorial seperti karismatik atau umat basis.

Di dalam dialog ekumenis Kitab suci adalah sarana istimewa dari Allah sendiri untuk menuju jalan persatuan Gereja-Nya (Konsili Vat. II dekrit Ekumenis No. 21).

Bagi Gereja katolik kitab suci tidak merupakan sumber ajaran yang satu-satunya, namun ukuran atau landasan dan jiwa untuk segala ajaran (KV II Presbiterium Ordinaris 16; Konstitusi tentang Wahyu Ilahi 21-24). Kitab suci diilhami oleh Roh Kudus dan sungguh-sungguh mempunyai sabda Allah (DV No.11). Namun Gereja Katolik juga melihat sabda Allah lebih luas daripada hanya kitab suci.

Bahwa Kitab Suci merupakan ukuran dan patokan tidak bertentangan dengan ajaran Gereja katolik, namun selain itu masih ada dasar ajaran lain seperti tata kodrat, liturgi, tradisi, depositum fidei. Namun untuk semuanya itu kitab suci dan syahadat merupakan ukuran dan hakim.

Mengenai sumber ajaran lain selain kitab suci juga diakui Luther dalam pembelaannya dalam sidang kerajaan di Worms. Beliau mengatakan:

“Aku boleh dianggap dikalahkan, jika aku dikalahkan oleh kesaksian kitab suci atau oleh argumen-argumen akal budi yang jelas dan tetap aku dilihat dikalahkan dengan kutipan-kutipan kitab suci yang kukutip, dan suara hati saya diikat dalam sabda Allah, dan aku tidak bisa dan tidak mau membantahkan, karena sudah susah melawan suara hati, dan bahaya tidak membawa keselamatan. Semoga Allah menolong aku. Amin.”

Dalam ucapan itu jelas bahwa sang berperkara itu mengakui ukuran lain daripada kitab suci, yaitu akal budi dan suara hati.

Istilah Protestan

Istilah protestan – yang melawan diterangkan bahwa Luther melawan ajaran Gereja katolik Roma yang tidak berdasarkan kitab suci. Sesungguhnya istilah protestan mempunyai asal-usul yang lain.

Pada tahun 1529 kaisar Karl V menuntut bahwa keputusan-keputusan di Worms (1521) tentang Luther direalisasikan (ajaran Luther dilarang; Luther kena ban). Enam raja dan 14 kota “berprotes”. Di situ untuk pertama kalinya muncul istilah protestan. Kaisar tidak mau kalah dan membuka sidang kerajaan di Augsburg. Pengikut tidak mau tunduk, melainkan menggabungkan diri dengan pemerintah-pemerintah yang pada waktu itu bermusuhan dengan kaisar, yaitu Perancis, Inggris, Denmark dan Hungaria.

Pada tahun 1531 para raja daerah yang bersimpati dengan Luther mengikat perjanjian/ federal untuk melawan kaisar. Ini terjadi di kota Schmalkaden. Sejak itu istilah protestan menjadi istilah umum untuk semua yang menimbulkan gerakan sekitar Luther dan reformator lain.

Tradisi

Memang bersama dengan konsili-konsili umum (ekumenis) masa kuno Gereja katolik Roma mempertahankan tradisi sebagai sumber ajaran juga. Tetapi tradisi itu tidak pernah berlawanan dengan kitab suci atau lebih dijunjung tinggi. Dan ada tradisi yang satu itu dan banyak tradisi.

Marilah kita melihat lebih mendalam dan dari awal mula. Siapa di dalam Gereja, misalnya pada hari Minggu di dalam ibadat resmi mengatakan “Aku Percaya” sadar, bahwa dia bergabung dengan aliran tradisi yang diturunkan kepada para rasul dan tidak diputus sampai sekarang. Memang banyak tradisi di Gereja telah berlaku hanya untuk sementara. Tetapi ada juga satu aliran yang berasal dari Kristus dan para rasul sampai pada saat ini.

Tradisi sesungguhnya sudah ada sebelum kitab suci. Dari satu segi kitab suci dapat dilihat sebagai tradisi yang ditulis pada kesempatan tertentu. Adanya kitab suci tidak menghapus tradisi itu, tetapi sangat jelas bahwa tidak bertentangan dengan kitab suci.

Tradisi lebih luas daripada kitab suci (lih. Luk 1:1; Yoh 20:30; 21:25), tetapi kitab suci adalah ukuran dan hakim atas tradisi. Dari pihak lain tradisi khususnya tradisi yang paling tua adalah interpretasi kitab suci juga tidak selalu jelas dan seolah-olah saling bertentangan. (Ini dibuktikan oleh sejarah reformasi sendiri).

Luther sangat kejam melawan grup-grup preformasi (misalnya rombongan petani – pemberontak petani) yang menjadi gerombolan perampas dan pembunuh atas nama Kitab Suci, atau golongan Pembaptis Kembali yang mengizinkan menerima banyak isteri, atas nama kitab suci.

Hanya dari tradisi kitab suci kita mengetahui, kitab-kitab mana yang termasuk Kitab Suci. Kitab Suci sendiri tidak memuat daftar tentang kitab-kitab. Dan pada permulaan lama sekali tidak begitu jelas hal itu dan sekali lagi diragukan dan diubah hal itu oleh Luther tentang Deuterokanonika, walaupun dengan jelas para rasul memakainya sebagai kitab suci dan gereja 1500 tahun lamanya mengakuinya juga.

Karena tradisi merupakan sesuatu yang sangat hidup dan mengalami pertumbuhan dan karena menghasilkan banyak cabang kecil atau kebiasaan sementara, maka aliran tradisi besar kadang-kadang harus dijernihkan, dimurnikan, terlebih dengan kitab suci atau dengan bertanya bagaimana hal-hal tertentu ditafsirkan pada masanya yang paling dekat dengan masa apostolik. Ada beberapa contoh dari sejarah:

1.        Pembaptisan

Waktu hampir 300 tahun penganiayaan Gereja oleh pemerintah Romawi, ada juga orang Kristen yang tidak tahan uji melainkan murtad. Pada masa damai mereka ingin kembali. Dengan cara apa? Sidang para uskup (ratusan) di Afrika memutuskan: dengan katekumenat dan dengan pembaptisan kembali. Mereka kirim keputusan ini kepada Roma. Uskup Roma (paus) menjawab: Tidak ada di sini tradisi yang demikian. Pembaptisan hanya bisa diterimakan satu kali. Orang murtad direkonsilialisir dengan Gereja dengan penumpangan tangan dan doa sesudah masa pertobatan. Gereja Afrika seluruhnya menerima tradisi itu di Roma.

2.   Menurut kitab suci hanya bisa dibaptis yang percaya (Mrk 16:16), maka mesti dipersoalkan, apakah bayi bisa dibaptis. Kitab suci dalam hal itu tidak jelas, bahkan tidak mengizinkan bila hanya melihat kutipan Mrk 16:16. Tetapi bila kita melihat tradisi mesti dikatakan, pembaptisan anak diperbolehkan.

3.        Tentang membuat gambar dan menghormati gambar/patung perjanjian Lama melarang, walaupun ada kekecualian (misalnya para kerub di atas tabut perjanjian dan di tirai bait Allah, ular di padang gurun, pokok anggur di pintu gerbang bait Allah dll. Di dalam perjanjian baru tidak dibicarakan hal itu secara khusus hanya: Kristus disebut gambar Allah yang tidak kelihatan (1Kol 1:15). Sejak itu ada tradisi di gereja menggambarkan Kristus dan orang kudus dan menghormati gambar-gambar itu, seperti kita menghormati gambar orangtua atau lambang Negara.

Baru pada abad ke-7/8 (kejadian islam) penghormatan gambar diragukan. Di Konsili Nikea II (787) diputuskan: keadaan gambar (patung) Kristus dan orang kudus dibenarkan oleh tradisi dan sesuai dengan Perjanjian Baru. Justru karena pembenaran itu (dogmatisasi), ribuan orang dianiaya, bahkan dibunuh, karena hal itu dipandang termasuk kebenaran Kristen.

Tentang tradisi Gereja dan Gereja pada umumnya Gerja katolik yakin, bahwa Roh Kudus tidak hanya telah mengilhami para penulis Kitab Suci, melainkan Gereja pada umumnya di dalam perjalannya melalui zaman (lih. Yoh 16:13). Kristus tidak hanya hadir pada masa para rasul, tetapi tetap menyertai Gereja-Nya selama segala abad, seperti dijanjikan-Nya (Mat 28:20), sehingga dia tidak membiarkan Gereja sama tersesat di dalam praktik hidupnya maupun di dalam ajarannya.

Misalnya: Dr. Martin Luther membuang ke tujuh kitab deuterokanonika (dan beberapa tambahan pada kitab lain), maka gereja katolik membela kitab-kitab tersebut dengan argumen tadi: bahwa tidak masuk akal, para rasul dan seluruh gereja baik Timur maupun Barat 1500 tahun lamanya sesat dengan mengakui kitab-kitab itu sebagai Kitab Suci, sampai Luther mendapat kebenaran.

Sejauh mana tradisi sungguh berasal dari Kristus dan para rasul atas nama Kristus (lih. 1Kor 11:23) tentu tradisi setara dengan kitab suci. Dari segi teologi bisa dikatakan: Tuhan sendiri adalah tradisi Gereja, Aku menyertai kamu (Mat 28:20). Memelihara kemurnian tradisi adalah beban para uskup, khususnya pengganti Petrus. Sejak awal mula jemaat di Roma beserta uskupnya merasa berwajib memeliharakan kelestarian tradisi, lebih daripada jemaat lain.

Tetapi juga begitu persekutuan para uskup. Waktu penahbisan seorang uskup, lebih dahulu pentahbis bertanya kepada calon, apakah dia rela menjaga pusaka iman dengan murni dan utuh sesuai dengan tradisi yang dipertahankan dalam Gereja, senantiasa dan dimana-mana sejak zaman para rasul.

Tradisi Sebagai Sumber Ajaran Katolik

Memang benar bahwa tradisi bersama kitab suci merupakan sumber ajaran Gereja katolik. Ini diakui sejak awal mula sampai sekarang. Sehubungan dengan berbagai perselisihan tentang ajaran yang benar, konsili-konsili umum (ekumenis) tetap membela tradisi di samping kitab suci sebagai sumber ajaran Gereja.

Kepada umat di Korintus rasul Paulus mengatakan:

Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci … . (1Kor 1-3; lih. juga 11:2)

Kusampaikan – kutradisikan. Paulus menggambarkan di sini sebuah proses yang terus-menerus terjadi: satu generasi memberikan isi Injil kepada yang lain: Paulus telah menerima dan menyampaikan lagi kepada jemaat-jemaatnya. Mereka itu akan menyampaikan kepada jemaat baru dan kepada generasi baru.

Ternyata proses itu sudah lama berlangsung sebelum ada kitab suci Perjanjian Baru. Sebab di atas disebut Paulus kitab suci ialah perjanjian lama. Perjanjian baru dengan surat kepada umat di Korintus baru mulai ditulis.

Proses membentuk perjanjian baru sekitar 100 tahun selesai, biarpun masih agak lama ada jemaat yang meragukan kitab suci. Tetapi sudah sekitar 60 tahun lamanya ada yang disebut tradisi: yaitu praktik gereja merayakan liturgi dan mengatur jemaat menyampaikan ajaran tentang keselamatan dalam Kristus.

Tentang perayaan liturgi (hal perjamuan Tuhan) rasul Paulus juga mengatakan bahwa peraturan tersebut berasal dari Tuhan sendiri: Sebab apa yang telah kuteruskan (=kutradisikan) kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti …. (1Kor 11:23).

Kepada Timotius, muridnya, Paulus mengatakan:

Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan. Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita. (2Tim 1:12-14; bdk. juga 1Tim 4:15; 6:20; 2Tim 4:3).

Sesuai dengan kata ini Gereja katolik yakin bahwa ada tradisi yang berasal dari Tuhan sendiri, dan yang menyangkut baik ajaran Gereja maupun praktik Gereja dalam berbagai bidang seperti susunannya, ibadatnya, bahkan Gereja seluruhnya.

Tradisi itu sudah lebih tua daripada kitab suci (perjanjian baru). Perjanjian baru adalah tradisi yang tertulis, tetapi tidak meliputi seluruh tradisi (lih. Luk1:1; Yoh 20:30; 21:25); tradisi itu lebih luas. Tulisan kitab suci tidak menghindarkan tradisi, merupakan ukuran untuk tradisi pada masa depan. Sebaliknya juga tradisi secara otentik menjelaskan kitab suci.

Hanya dari tradisilah kita tahu buku-buku mana saja yang termasuk kitab suci. Gereja katolik juga percaya, seperti tulisan kitab suci diilhami oleh Roh Kudus tanpa meniadakan kepribadian para penulis, demikian juga Roh Kudus menyertai Gereja di dalam tradisinya.

Konsili Vatikan II di dalam dokumen mengenai wahyu ilahi mengatakan:

Jadi Tradisi suci dan Kitab Suci erat berhubungan satu sama lain dan saling mengambil bagian. Sebab keduanya yang berasal dari sumber ilahi yang sama, bagaimanapun bergabung menjadi – satu dan mengarah ke tujuan yang sama. Karena kitab suci adalah penuturan Allah sejauh dituangkan ke dalam tulisan dengan ilham Roh Ilahi; sedangkan Tradisi suci meneruskan secara utuh sabda Allah, yang dipercayakan Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul dan pengganti mereka, agar dipelihara dengan setia, dijelaskan dan disebarkan di dalam pewartaan mereka sambil diterangi Roh Kebenaran.

Maka Gereja menimba kepastiannya mengenai segala sesuatu yang diwahyukan tidak hanya dari kitab suci. Oleh karena itu kedua-duanya harus diterima dan dujunjung tinggi dengan perasaan saleh dan hormat yang sama. (DV 9)

Dengan ini sudah dijawab pertanyaan, apakah tradisi setara dengan kitab suci. Sejauh tradisi sungguh berasal dan Kristus dan mengandung sabda Allah, tentulah bahwa tradisi setara dengan Kitab Suci.

Kesulitan, sebabnya Gereja-gereja Reformasi membuang tradisi itu adalah bahwa tradisi merupakan hal yang sangat hidup kadang-kadang sulit untuk ditentukan batasnya.

Karena memang selain daripada tradisi yang tetap ada banyak buah tradisi atau kebiasaan setempat atau pada masa tertentu yang seolah-olah mengaburkan tradisi yang tulen itu (misalnya kebiasaan membuat tanda salib atau memakai dupa dan lain-lain). Dan karena tradisi sangat hidup dan juga sedang berkembang, tidak dalam arti bahwa ada akar atau wahyu baru, tetapi bahwa Roh Allah mengantar Gereja kepada segala kebenaran, sesuai dengan masa dan juga lebih dalam.

Tetapi justru karena perjanjian Tuhan menyertai Gereja sampai akhir zaman (bdk. Mat 28:20b) Gereja tidak perlu takut mengenai perkembangan tradisi itu.