... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

TRIPLE FILTER TEST

Test, test, test!

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seseorang datang kepadanya dan terjadilah percakapan berikut.

Seseorang        :    “Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?”

Socrates          :    “Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan test sederhana. Triple Filter Test!”

Seseorang        :    “Triple Filter Test?”

Socrates          :    Benar. Sebelum kita membicarakan tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat, dan menyaring apa yang Anda katakan. Filter pertama adalah KEBENARAN. Apakah Anda yakin bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?”

Seseorang        :    “Tidak! Sebenarnya saya hanya mendengar tentang hal itu.

Socrates          :    “Baik. Jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang Anda katakan tentang teman saya itu, sesuatu yang baik?”

Seseorang        :    “Tidak, malah sebaliknya.”

Socrates          :    “Jadi, Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin bahwa itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, yaitu filter KEGUNAAN. Apakah yang Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna pada saya?”

Seseorang        :    “Tidak! Sama sekali tidak!”

Socrates          :    “Jadi kalau Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, buruk dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?”

(Kompas, 22 Agustus 2010, hlm. 13

Parodi – A Good Life, by Samuel Mulia)

TUBUH ALAMIAH YANG DITABUR, DIBANGKITKAN TUBUH ROHANIAH

Apa itu kematian?

Sejenak mari kita membaca kutipan ayat Alkitab dari surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus: Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. (lih. 1Kor 15:40-44)

Bertanya tentang apa arti kematian, sebuah jawaban yang sering dilontarkan yakni bahwa kematian adalah suatu keadaan dimana seseorang lupa bernafas. Seperti sebuah lelucon, namun sungguh benar. Karena memang orang yang sudah meninggal dunia tidak lagi bernafas. Jawaban lain yang setinggkat lebih maju adalah suatu keadaan berpisahnya jiwa dan raga. Dan sebagai orang Kristen kita mengatakan bahwa kematian adalah suatu keadaan dimana nafas Allah telah diambil keluar dari tubuh yang fana ini. Nafas yang dulu dihembuskan Allah ke dalam hidung Adam, telah diambil kembali, sehingga tanah akan kembali seperti tanah.

Secara alamiah-manusiawi manusia yang hidup sulit menerima kematian orang terdekat, kekasih atau anggota keluarganya. Hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan kecil: Mengapa? Banyak kenangan, suka duka dan perjuangan yang telah dilalui bersama. Apalagi bila yang meninggal adalah orang yang paling dikasihi atau disayangi. Jangankan meninggal, pergi jauh saja atau pindah domisili di suatu kampung dekat, isak tangis sudah dipastikan mengiringi kepergian orang yang kita kasihi itu.

Karena beratnya menerima kenyataan itu, maka ada orangtua meninggal dunia, bila ada anaknya yang masih kecil, biasanya dikatakan, “ibu (bapamu) hanya tidur yang panjang nak, kita akan bertemu nanti”. Walaupun jawaban itu sebanarnya tidak benar dan itu dilakukan hanya karena anak itu belum mengerti arti sebuah kematian, tetapi memang sungguh benar bahwa ibu (bapa) yang meninggal itu tidaklah meninggal, hanya beristirahat (dalam kubur) untuk dibangkitkan kelak, dan kita pun akan bertemu kelak dalam bumi dan langit yang baru. Bandingkan juga dengan bacaan yang baru saja dibacakan di atas.

Mati dan hidup dalam Kristus

Dulu, setidak-tidaknya pada zaman rasul Paulus, orang-orang sudah bertanya-tanya mengenai apa arti kematian. Apa yang terjadi setelah kematian manusia? Secara gampang rasul Paulus menjawab: “Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?” Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri (ayat 35-37).

Oleh karena itu, kita, orang Kristen, tidak perlu menangis, bersedih atau bahkan sampai membunuh diri. Karena kita sungguh mengerti bahwa segala sesuatu yang hidup pasti akan melewati pintu kematian: Contigentia omnia rerum. Karena tidak ada yang kekal di dunia. Tetapi lebih dari itu, sabda Tuhan sudah memberi jaminan bagi kita orang percaya. Di tempat lain dalam kitab suci dikatakan, “Bila kita sudah mati bersama Kritus, kita juga akan bangkit bersama Kristus”.

Mati bersama Kristus artinya kita meninggal dalam kepercayaan akan Kristus, kita sudah menerima pembaptisan dalam Kristus Yesus, selama kita menjalankan hidup kita mengikuti ajaran dan perintah Tuhan Yesus dan lebih dari itu kita mengikuti teladan yang telah diberikan oleh Yesus: merendahkan diri dan berkorban bagi sesame. Bila sudah demikian, kita dapat kuat berharap bahwa kita akan bangkit bersama Kristus, artinya kita masuk sebagai anggota kerajaan Allah, dimana Kristus bertahta.

Untuk kita yang masih hidup, keluarga yang ditinggal, tidak perlu bersedih dan berputus harap, karena orangtua yang meninggal hanyalah mendahului kita, nanti kita akan bertemu dan bersama lagi dalam dunia yang baru menjadi sebuah keluarga. Dan lebih dari itu mari kita menyiapkan diri untuk menghadapi saudara maut itu, supaya kita sungguh pantas bangkit bersama Kristus. Karena kematian itu adalah pintu untuk kehidupan baru!

Kembalilah hai anak-anak manusia!

Kembalilah hai anak-anak manusia!

Selain dalam Mazmur 90:10, dalam kitab Kej 5:1-32 juga dibicarakan tentang umur manusia. Namun dua perikope ini mempunyai perbedaan yang sangat besar. Perbedaan itu sekurang-kurangnya dari segi angka (jumlah) tahun umur manusia. Dalam Mazmur 70 tahun, bila kuat 80 tahun. Sementara dalam perikope Kejadian 5:1-32, kita terheran-heran dan menggeleng-geleng kepala. Mengapa tidak? Karena disana kita membaca ada orang yang umurnya mencapai 969 tahun.

Bisa kita bayangkan apa yang kira-kira akan terjadi bila di zaman kita ini ada orang yang hidup sampai umur 969 tahun. Bisa jadi orang itu bosan hidup, atau ada orang bosan melihat dia. Karena belum sepersepuluh umurnya dia sudah dipensiunkan oleh pemerintah. Saya yakin kalau memang rata-rata orang berumur panjang, seperti ditulis dalam Kejadian 5, pemerintah akan membuat UU baru mengenai kepegawaian: kapan dia pensiun, umur berapa baru bisa diterima jadi pegawai dll.

Atau juga mungkin orang yang sudah berumur 200 tahun baru berkenalan dengan seseorang dan kemudian saling menerimakan sakramen perkawinan. Kalau untuk kita sekarang, jangankan 200 tahun, pada umur 100 tahun pun, tenaga hanya cukup untuk bisa membuka kelopak mata saja, apa lagi untuk melamar seseorang, pasti sudah tidak mungkin.

Kitab Suci Salah?

Kalau begitu, kita pantas mempertanyakan kitab suci. Siapa yang bisa dipercaya, apakah Kejadian atau Mazmur atau justru kenyataan zaman kita: umur rata-rata manusia sekarang 60 tahun. Itu berarti ada tiga versi panjangnya umur manusia.

Umur panjang para nenek moyang yang hidup ratusan tahun bahkan mendekati seribu tahun itu, sudah banyak orang meragukannya dengan mengatakan bahwa tidak mungkin ada orang yang mencapai umur 969 tahun. Atau kemungkinan besar kalender yang mereka pakai waktu itu sangat berbeda dengan kalender yang kita pakai sekarang,dengan kata lain kalender mereka lebih pendek. Untuk mereka yang satu hari bukan 24 jam, mungkin hanya 4 jam saja.

Terlepas dari benar tidaknya ada orang yang mencapai umur 969 tahun, tetapi satu hal yang perlu kita sadari adalah kitab suci bukanlah terutama sebagai buku sejarah, melainkan BUKU IMAN. Itu berarti tidak semua berita atau peristiwa yang tercatat dalam kitab suci dapat dilihat sebagai berita dan peristiwa historis, melainkan harus dilihat sebagai berita dan peristiwa yang maknaniah. Kita harus mampu melihat pesan dan sabda Allah dalam semua berita dan peristiwa itu.

Oleh karena itu, kitab Mazmur dan Kejadian sebenarnya tidak saling bertentangan. Walaupun mereka mencatat angka yang berbeda, tetapi melainkan mereka sama-sama menyampaikan satu hal yang sama, yang tidak berbeda juga dengan kenyataan sekarang.

Mari membaca Mzm 90: 3 disitu dikatakan, “Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”” Jadi satu kata kunci: kembalilah anak-anak Adam! Dari segi bahasa, kata kembalilah, merupakan permintaan tetapi sekaligus perintah. Perintah hanya bisa berasal dari sesuatu yang lebih tinggi dari kita. Maka kata kembalilah, disini adalah perintah yang harus dituruti oleh manusia: Kembalilah! Artinya waktumu sudah selesai, sekarang kembalilah dimana engkau berasal.

Namun dalam Kejadian dikatakan: “Pada umur sekian, si Anu menikah dan memperanakkan Si Ano, Si Anu hidup 500 tahun lagi setelah itu, lalu ia mati. Si A memperanakkan si B dan pada umur sekian memperanakkan anak laki-laki dan perempuan, dan si A hidup 100 tahun lagi, lalu ia mati.” Jadi ada kata kunci: Lalu ia mati. Jadi berapa pun umurnya pada ujungnya mati juga, game is over. Dia mendapat perintah untuk kembali dan perntah itu tak terbantahkan.

Jadi baik Mazmur, baik kejadian maupun kenyataan duania kita sekarang ini, sama-sama mengatakan bahwa semua manusia pada akhirnya mendapat perintah untuk KEMBALI dan dengan perintah kembali itu manusia MATI. Dari tanah kembali ke tanah, dari Allah kembali kepada Allah.

Sikap menghadapi kematian

Kita sebagai orang Krsiten tidak pantas berlarut-larut dalam kesedihan, karena walau bagaimanapun kita menjaga kesehatan, seberapa pun umur kita, pada akhirnya kita akan mati. Dan itu dialami oleh semua manusia, laki-laki atau perempuan. Namun ada satu jaminan bahwa kita akan kembali kepada Dia dan akan menuju kehidupan baru. “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengutus PuteraNya ke dunia ini supaya tidak seorangpun yang binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Jadi kembalilah hai anak manusia ke hidup yang kekal, kembali kepada Allah dari mana engkau berasal.

Memang secara manusiawi wajar bila kita bersedih, apalagi yang meninggal adalah ibu kita, yang membesarkan kita. Kita bersedih karena beberapa alasan:

  • Mengenang masa lalu yang indah, ketika kita disusui, dimanja dll;
  • Mendapat petunjuk dan nasehat demi kebaikan kita;
  • Hal yang paling mendasar, yang membuat kita sedih, kita masih ingin membalas kasih sayang kepada orangtua kita, yang dulu sudah ia berikan kepada kita.

Namun sebagai seorang beriman kristiani, kita tidak boleh lalrut dalam kesedihan, apalagi sampai menyesalinya dengan mengatakan “harumani sa’e, maifu tö na sa mena’ö”. Mengapa?

  • Karena kematian itu merupakan pintu ke kehidupan abadi. Suatu kehidupan baru bersama dengan Allah kita, pencipta kita darimana kita berasal. Tak seorang pun akan bisa masuk ke kehidupan kekal tanpa mati secara badani.
  • Ingat akan kedua kata kuci: Lalu Ia Mati – Kembalilah!

Lagu bagaimana sebaiknya kita bersikap? Sebagai orang beriman tentu kita harus mengikhlaskan ibu kita menerima perintah untuk kembali. Mari kita mendoakannya agar segala dosa dan kesalahannya diampuni oleh Tuhan dan memperhitungkan segala kebaikan hatinya sebagai sesuatu yang meringankan hukuman akibat luka-luka dosa itu. Tetapi yang paling penting adalah menyadari kematian kita sendiri dan menghitung-hitung tahun kehidupan kita, dan mengisi sisa umur itu untuk berbuat sesuatu yang lebih baik.

Untuk menutup renungan ini saya akan menceritakan sebuah cerita: Diceriterakan di sebuah kampung, ada seorang ibu paruh baya yang ditinggal mati oleh suami tercinta. Saking cintanya kepada suminya, sang istri ini mengawetkan jenazah suamiya dan menggantungkannya di langit-langit kamar tidur mereka dan setiap hari menangisinya. Namun beberapa waktu kemudian dia mendengar bahwa ada seorang bijak sekaligus sakti yang mampu menghidupkan orang mati.

Karena cinta akan suami, sang istri bangkit dengan penuh semangat menemui sibijak-sakti itu. Tanpa basa-basi sang istri bertanya, “Saya dengar bapak bisa menghidupkan orang mati, tolonglah hidupkan kembali suami saya.” Si bijak-sakti menjawab, “Itu memang benar dan menghidupkan suamimu juga merupakan hal yang gampang. Tetapi ada ramuannnya”. Dengan tidak sabar istri langsung menyela, “Apa ramuannya pak?” Si bijak-sakti menjawab, “Gampang saja, cuma bawang merah dan bawang putih dan merica dari dapur orang lain yang tidak pernah ada anggota keluarganya yang meninggal.” Dengan semangatnya istri itu mengatakan: “Saya akan segera membawakannya”. Namun dari pintu ke pintu rumah tetangga, dari kampung yang satu ke kampung yang lain, istri memang mendapatkannya, tetapi tidak bisa diambil sebgai ramuan karena mereka semua mengaku bahwa pernah ada anggota keluarga yang meninggal. Dalam kekecewaan, si istri sampai pada kesadaran bahwa bukan hanya dia yang mengalami kematian semacam ini, semua orang, semua keluarga. Maka dia segera pulang dan menguburkan suaminya.

Bapak/Ibu/Sdra/sdri, kita semua adalah manusia yang berasal dari debu dan akan kembali kepada debu dan Tuhan akan memberi perintah yang sama pada waktunya: Kembalilah anak-anak adam!. Mari kita menyiapkan diri untuk menerima dan menjalankan perintah itu. Amin

NERAKA: ASAL KATA DAN MAKNANYA

Kata neraka bukanlah suatu kata asing di telinga kita. Mendengar “neraka”, dengan segera otak kita memberi gambaran tentang api yang sangat besar, membara, panas dan memusnahkan segala yang ada di dalamnya, bahkan yang ada di dekatnya sekali pun akan terpanggang oleh panas baranya. Lebih mengerikan dari api yang membakar kota Gunugsitoli waktu gempa bumi, atau dari api yang membakar pipa minyak di Irak beberapa tahun yang lalu. Para seniman juga telah menempuh berbagai cara untuk menggambarkan kedasyatan api neraka itu dengan berbagai lukisan juga dengan sastra. 

Ada berbagai pandangan mengenai neraka. Ada yang berpandangan bahwa Allah dengan sangat mudah melemparkan orang-orang berdosa ke dalam neraka. Ada juga yang percaya bahwa dalam nerakalah orang-orang jahat disiksa untuk selama-lamanya dengan api, namun mereka tidak mati agar mereka tetap merasakan siksaan api neraka itu. Ada lagi yang berpandangan bahwa neraka adalah tempat dihancurkannya para pendosa secara tuntas sampai abu pun tak tersisa.

Dalam Kitab Suci (Alkitab) bahasa Indonesia kerap kali kita menjumpai istilah ini, walaupun sebenarnya dalam teks aslinya tidak pernah menggunakan istilah neraka. Dalam Kitab Suci bahasa Indonesia, neraka digunakan sebagai terjemahan kata gehenna, sheol atau hades dan tartaros. Keempat istilah (gehenna-sheol-hades-tartaros) haruslah dibedakan dengan neraka yang seringkali dianggap sama. Memang dalam bahasa Indonesia keempat istilah itu diterjemahkan dalam satu kata, yaitu neraka. Berikut kita akan melihat satu per satu.

1.  Gehenna

Gehenna mempunyai arti yang harafiah, yaitu lembah yang terletak di sebelah Barat Daya kota Yerusalem. Daerah itu disebut sebagai lembah Henom (dalam bahasa Ibrani disebut gè-Hinnòm atau Ben-Hinom; dalam bahasa Yunani disebut gehenna). Lembah ini terkutuk dan dikenal sebagai tempat dilakukannya semua hal-hal yang keji dan najis. Seperti pada zaman nabi Yeremia, ada banyak anak dari orang Israel dibakar hidup-hidup sebagai korban kepada dewa kafir, sehingga akhirnya menjadi tempat pembakaran mayat dan sampah. Di tempat ini juga dipraktekkan ilmu-ilmu sihir, ilmu-ilmu gaib serta pedukunan. Dalam injil Yesus sering menggunakan kata ini untuk menunjukan tempat sekaligus sebagai upah orang berdosa, misalnya Markus 9:43 ” … lebih baik bagimu untuk masuk ke dalam hidup tanpa tangan daripada dua tangan masuk ke dalam gehenna (=neraka), api yang tak terpadamkan”.

 

Seperti kita tahu bahwa tempat pembuangan sampah : Bau busuk, berasap, tempat membusuknya segala sesuatu dimakan ngengat, dan api yang tak pernah padam . Di tempat inilah terjadi kebusukan dan kehancuran.

 

2.  Sheol atau Hades

 

Dalam Septuaginta (terjemahan pertama Alkitab dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani), sheol dalam bahasa Ibrani biasanya diterjemahkan menjadi hades dalam bahasa Yunani. Shoel atau hades mempunyai arti yang sangat umum, yaitu kematian, keadaan kematian, kubur, wilayah kematian dan kuburan, tempat di mana semua manusia akan pergi sesudah mati. Istilah ini tidaklah menggambarkan dan tidak mengandung ide api, atau siksaan, melainkan hanyalah kematian, tempat tinggal orang mati, yang baik maupun yang jahat. Kiranya sepadan dengan sebutan orang Nias terhadap “banua niha tou” (=kampung/dunia orang bawah). Kemudian sejalan dengan berlalunya waktu istilah ini mengalami pergeseran arti, yakni nama yang diberikan oleh orang Israel terhadap kediaman orang mati, yang mana tempat ini dibayangkan gelap dan orang mati tampak seperti bayangan yang dilupakan oleh Allah dan tanpa harapan.

Menurut pandangan Gereja Katolik, sheol dan Hades kiranya bukan tempat kediaman orang mati yang tanpa harapan lagi seperti pandangan orang Israel, melainkan terlebih dilihat sebagai tempat penantian sebelum seseorang dibangkitkan oleh Allah.

3.  Tartaros

 

Tartaros adalah bahasa Yunani (=tartarum dalam bahasa Latin) artinya liang yang gelap, tempat pembuangan bagi malaikat jahat/pemberontak, dan kita kurang tahu di mana persisnya tempat itu, apakah ada di angkasa raya, atau seputar bumi ini atau di mana. Yang jelas tempat itu adalah tempat para malaikat pemberontak dibuang sampai hari pengadilan. Istilah ini dikhususkan untuk malaikat dan tidak menyangkut nasib manusia yang tak mau membuka hati untuk menerima keselamatan dari Allah (bdk. 2 Petrus 2:4; Yudas ayat 6).

 

4.  Neraka

 

Kata neraka berasal dari pemahaman orang Yahudi mengenai Gehenna. Neraka adalah sebuah kata yang melukiskan nasib para pendosa yang selama hidupnya menentang Allah dan melanggar perintah-perintahNya, dan bukanlah sebagai suatu tempat. Nasib itu diperkenalkan secara menakutkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dengan bantuan berbagai mitologi, seperti: jurang maut, kegelapan luar, lautan api, dapur api, api yang tak terpadamkan, api kekal, hukuman kekal, kebinasaan, kehancuran, tempat tangisan dan kertakan gigi, kuasa kematian. Semua ungkapan ini bertujuan untuk menyatakan secara imajinatif bahwa pendosa akhirnya terpisah dari Allah, artinya ia akan disingkirkan dari sumber kehidupan dan kebahagiaan.

 

Dengan banyaknya jumlah sebutan ini, adalah merupakan gambaran betapa kayanya bahasa sekitar “neraka”, sekaligus menggambarkan betapa miskinnya bahasa umat manusia sehingga hampir tidak mampu mengungkapkan atau menggambarkan nasib para pendosa yang tidak membuka hati terhadap belaskasih dan kerahiman Allah. Oleh karena itu, untuk menerangkan kepada manusia sekarang akibat dari perbuatan jahat yang dilakukannya (kelak), yang sekaligus sebagai hukuman, digambarkanlah sebagai gehenna, dimana tempat itu telah diketahui dengan jelas (pada masa itu) bahwa: Di sana tidak ada kehidupan dan kebahagiaan, semuanya akan mati dan hancur.

 

Sekarang timbul pertanyaan: Bagaimana bisa diperdamaikan gambaran Alkitab mengenai neraka dengan kerahiman dan keadilan Allah? Hal ini tidaklah begitu sulit dimengerti apabila kita mengingat tiga fakta ini:

  1. Allah tidak menentukan seseorang masuk neraka secara sewenang-wenang. Surga dan neraka dapat diibaratkan dengan dua buah pintu yang bebas untuk dipilih. Allah tidak pernah menutup pintu surga kepada siapapun. Ia ingin semua manusia ciptaan tanganNya selamat, dan telah membuka jalan untuk itu. Tetapi ada banyak yang menutup pintu surga bagi diri mereka sendiri, dengan cara memilih kejahatan terus-menerus dan sedikitpun tak mau mendengar bisikan hati nurani mereka. Mereka sendiri menolak untuk masuk ke dalam kehidupan dan kebahagiaan bersama Allah. Jadi, kita sendirilah yang menentukan masuk surga atau neraka. Jika mau masuk surga, jauhilah kejahatan dan turutilah kehendak Tuhan. Jika memilih neraka lakukanlah sebaliknya. Allah sangat rindu dan menginginkan semua orang selamat. Bukankah Ia yang menciptakan mereka? Apakah Dia begitu saja membiarkan seorang jatuh binasa? Tidak . Namun karena kita tetap menutup diri untuk itu, Dia bukanlah Allah yang otoriter, Dia tidak mau mencabut kebebasan kita yang telah diberikanNya.
  2. Orang jahat tidak akan merasa bahagia dalam alam semesta yang bersih dan bebas dosa, sama seperti cacing yang terkena sinar matahari, karena memang dia bukan bagian dari itu. Pemikiran orang jahat, keinginannya, motivasinya, akan menjadi hal yang asing bagi surga. Walaupun orang jahat diperbolehkan masuk surga, toh baginya menjadi siksaan (bdk. Amsal 8:36; Why 22:11; 2 Pet 2:22). Ia senantiasa ingin pergi, lari dan bersembunyi dari Dia yang menjadi terang dan sumber dari segala hal yang berlawanan dengan kejahatan itu.
  3. Hilangnya karunia hidup bagi orang jahat adalah berdasarkan kasih Allah pada alam semesta secara keseluruhan. Di hadapan Allah, kejahatan dan sejenisnya tidak dapat bertahan. Sehingga terkesan, dengan sangat aktif Allah harus mengamankan kebahagiaan dan kesejahteraan alam semesta ini seperti seorang dokter ahli bedah yang memotong anggota badan yang sakit atau sudah keracunan dan tak dapat disembuhkan lagi, untuk menjaga supaya anggota tubuh lainnya tidak terkena infeksi, dan akhirnya menghancurkan anggota tubuh seluruhnya. Allah tidaklah adil atau mengasihi jika Ia membiarkan penyakit kanker kejahatan terus bertumbuh dan menyebarkan pencemaran untuk selamanya, sama seperti seorang dokter yang membiarkan kaki atau jari yang terkena penyakit kanker ganas. Ada saatnya Allah berkata “tidak lagi! – Cukup! – Aku muak!” untuk segala kejahatan.

Sekarang menjadi jelas, bahwa neraka adalah lawan dari surga, lawan dari kehidupan dan kebahagiaan. Neraka adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketidakbahagiaan, kehancuran dan kemusnahan total, sebagai akibat keterpisahan dari Allah, sumber kehidupan dan kebahagiaan.
Jika neraka bukanlah terutama dilihat sebagai suatu tempat, melainkan sebagai suatu situasi keterpisahan secara total dari Allah, sebagai sumber kehidupan dan kebahagiaan, apakah neraka memang tidaklah ada? Apakah neraka itu baru ada setelah kematian tubuh yang fana ini? Atau sangat dekat dengan kita?
Neraka sangat dekat dengan kehidupan nyata kita setiap hari dan senantiasa sabar menantikan orang yang akan mendiaminya. Hampir setiap hari kita mengucapkan “neraka” dengan keras bila keluarga kita sedang tidak harmonis, anak tidak mau menurut didikan kita, atau kita sedang dalam kesulitan untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Spontan kita berkata “neraka!” untuk memecahkan kebuntuan pikiran atau untuk mengeluarkan emosi yang tak dapat dibendung lagi. Pada saat itu, hati kita panas, tekanan darah kita naik dan urat-urat saraf kita menegang, seperti mau pecah rasanya. Kita tidak merasa nyaman. Dan cara yang paling ampuh untuk keluar dari situasi itu adalah berteriak, atau menangis. Bagi sebagian orang menempuh cara yang brutal, misalnya: memukuli orang, memecahkan peralatan rumah tangga, memaki, dan sebagainya. Maka ungkapan “jangan sering marah cepat tua” bukan saja hanya dapat dibenarkan melainkah harus diubah menjadi “jangan sering marah nati cepat meninggal”, bila urat saraf sering tegang, akhirnya menjadi pecah dan stroke.

Itu barulah neraka kecil, yang menggambarkan ketidakbahagian yang mungkin juga dengan segera akan berakhir. Tetapi harus diingat, bahwa hal itu sekaligus merupakan gambaran atau bayangan yang samar-samar terhadap neraka sesungguhnya; keterpisahan total dari Allah. Kalau dengan neraka kecil-kecilan saja kita sudah mengeluh dan mau mati rasanya, mengapa kita tidak mau percaya akan adanya neraka yang lebih dahsyat bila kita tetap bertegar hati dan menutup diri terhadap belaskasih kerahiman Allah? Kita memilih yang mana?

 

PEREMPUAN DALAM ALKITAB (Lanjutan ...)

Perempuan dalam pewartaan Yesus

Harus diakui, tidak ada pernyataan eksplisit Yesus yang dapat dipandang sebagai pernyataan sikapnya terhadap perempuan. Di satu pihak hal itu telah membuat kita tak mungkin secara eksplisit mendasarkan pembelaan kita terhadap pengakuan martabat perempuan dengan mengutip ayat-ayat Injil tertentu. Tetapi di lain pihak hal itu juga telah mengingatkan setiap orang bahwa tidak semua bagian Alkitab bersikap negatif begitu saja terhadap perempuan. Namun, bagaimanapun, apa yang tak dapat kita peroleh secara verbal dari Yesus, sungguh dapat kita temukan dalam sikap dan tindakan-Nya. Yesus sangat hormat kepada perempuan sebagaimana Ia amat hormat kepada setiap hidup manusia. Tak satu ayat pun dalam Injil dapat kita temui yang menunjukkan sikap Yesus merendahkan perempuan. Bahkan, seperti dilaporkan oleh Lukas, sudah sejak awal karya pewartaan-Nya Yesus didukung oleh perempuan-perempuan kaya dan terkemuka, yang “melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka” (Lk 8:3). Kita memang heran bahwa tak satu pun di antara keduabelas murid yang dipilih-Nya sebagai rasul adalah perempuan. Namun dalam seluruh pewartaan Yesus, tak ada yang dapat dijadikan petunjuk bahwa ketiadaan perempuan dalam bilangan para rasul itu adalah diakibatkan oleh pandangan-Nya yang merendahkan perempuan. Malah sebaliknya, Yesus tidak segan-segan berbicara, dekat bahkan bersentuhan dengan perempuan, yang secara eksplisit Yesus sebut sebagai “keturunan Abraham” juga (bdk Lk 13:16).

Banyak perikop dalam Injil memperlihatkan sikap Yesus yang tidak begitu saja sama dengan sikap pemimpin-pemimpin agama Yahudi yang amat merendahkan perempuan berdasarkan tradisi dan adat istiadat, bahkan berdasarkan hukum Taurat mereka. Yesus tidak segan-segan mendobrak budaya yang demikian. Ketika ada orang menjadi gusar karena Yesus membiarkan diri diurapi oleh seorang perempuan, justru Dia berkata: “Biarkan dia! Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan baik padaKu… Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mk 14:6-9). Memang betul, keempat penginjil mencatat peristiwa pengurapan Yesus oleh seorang perempuan ini. Meskipun harus diakui versi Lukas amat lain dari ketiga penginjil lainnya sehingga para ahli berpendapat bahwa peristiwa yang diceritakan Lukas tidaklah sama dengan yang diceritakan Matius, Markus dan Yohanes. Entah itu peristiwa yang sama atau tidak, kisah itu telah memperlihatkan sikap Yesus yang tidak mau begitu saja negatif terhadap perempuan. Bahkan justru bila peristiwa yang dilaporkan Lukas berbeda dari apa yang dikisahkan ketiga penginjil lainnya, kita semakin diperkaya akan bukti-bukti penghargaan Yesus kepada perempuan.

Ketika kepala rumah ibadat gusar dan memarahi orang-orang Yahudi karena Yesus menyembuhkan seorang perempuan di hari Sabat, Yesus balik mencela kepala rumah ibadat itu, kata-Nya: “Hai orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu  melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” (Lk 13:15-16). Menarik memperhatikan di sini, bahwa Yesus membenarkan tindakan-Nya atas dasar “perempuan itu adalah keturunan Abraham”. Itu berarti dia (perempuan) itu diakui Yesus sebagai berhak mendapat segala sesuatu yang pantas bagi keturunan Abraham, laki-laki dan perempuan. Dia tidak hendak mengecualikan perempuan dari privelege keturunan Abraham. Perempuan juga berhak mendapat perlakuan yang sama sebagai keturunan Abraham. Yesus sungguh menaruh hormat kepada perempuan dan mengakui kedudukan dan martabat mereka sebagai sama dengan laki-laki. Begitulah, ketika Dia didesak harus menjelaskan apakah seseorang boleh menceraikan isterinya atau tidak, Dia tidak mengutip penciptaan versi Jahwis yang memandang perempuan lebih rendah dari laki-laki, melainkan menunjuk kepada kisah penciptaan versi para Imam, yang memandang perempuan setara dan semartabat dengan laki-laki. Dia berkata, “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (bdk Mt 19:4). Kalimat itu diambil dari Kej 1:27 sebagaimana kita telah kutip di atas tadi.

Perempuan dalam hidup Gereja

Sayanglah, sikap Yesus yang amat menghormati perempuan itu tidak sepenuhnya berlanjut dalam hidup Gereja. Bahkan peristiwa pengurapan Yesus oleh seorang perempuan (berdosa atau tidak, tidak jadi soal!) yang dikisahkan para penulis Injil sebagai sesuatu yang diperintahkan Yesus harus dituliskan sebagai kenangan akan dia (perempuan itu), tidak juga selalu dikenang. Kisah itu kurang populer di antara umat dibandingkan, misalnya, dengan penyangkalan Petrus terhadap Yesus atau malah penghianatan Yudas. Kisah laki-laki selalu lebih dikenang dari pada perempuan. Dan, seperti ditunjukkan dalam perikop-perikop di atas, sudah pada PB sendiri perendahan terhadap perempuan itu terjadi. Maka tidak heran jika Bapa-bapa Gereja selanjutnya ada yang amat merendahkan martabat perempuan, bahkan boleh jadi juga sikap seperti itu masih berlangsung hingga dewasa ini. Simaklah, misalnya, ungkapan-ungkapan berikut ini:

  • Tertulianus: “Perempuan, engkau adalah gapura Setan. Engkau telah menyesatkan orang yang Setan sendiri tak berani serang secara langsung. Oleh karena kejatuhanmulah maka Putera Allah mesti mati; mestinya engkau selalu berduka dan berpakaian kabung.”
  • Ambrosius: “Adam telah berdosa karena disesatkan Hawa, dan bukan Hawa yang disesatkan Adam. Maka sudah layak dan sepantasnyalah dia mesti akui sebagai “tuan” ia yang telah disesatkannya berdosa.”
  • Yohanes Chrisostomus: “Di antara binatang-binatang buas pun tidak dapat ditemukan keganasan seperti seorang perempuan.”
  • Agustinus: “Perempuan tak terelakkan untuk tugas pembiakan; tetapi untuk semua tugas-tugas spiritual, pantaslah laki-laki.”

Semua ungkapan itu sangat merendahkan martabat perempuan. Dan boleh jadi, sikap negatif terhadap perempuan bahkan masih merasuki Gereja hingga saat ini. Dan kritik ini paling tepat diarahkan kepada Gereja kita, Katolik Roma. Peran dalam Gereja yang diberikan kepada perempuan hanyalah sebatas “pembantu”. Tanggung jawab utama dan sesungguhnya selalu dipegang oleh laki-laki dan hanya oleh mereka. Ini pantas menjadi pertanyaan yang mesti dijawab secara jujur dan terutama alkitabiah: sungguhkah, misalnya, perempuan mesti dikecualikan dari tahbisan menjadi imam? Hanya laki-lakikah yang berhak memasuki rombongan klerus? Dasar alkitabiah untuk ini sulit ditemukan kecuali fakta yang diceritakan para penulis Injil: keduabelas rasul yang dipilih Yesus semuanya laki-laki.

Sayang tak satu pun di antara penulis Injil atau bagian PB lainnya yang menerangkan perbuatan Yesus memilih hanya laki-laki sebagai rasulnya, sehingga kita hanya bisa berspekulasi dalam hal ini. Meskipun, sebagaimana telah disinggung di atas, dalam seluruh pewartaan Yesus, tak ada tempat untuk menyepelekan martabat dan peran perempuan. Bahkan, sebagaimana telah menjadi fakta favorit para penggagas teologi feminis, saksi-saksi pertama yang dipilih Tuhan untuk kebangkitan-Nya adalah para perempuan (Mk 16:1). Maka tidak heran jika akhir-akhir ini semakin terdengar suara yang memohonkan agar perempuan dapat ditahbiskan menjadi imam, betapa pun suara itu terkadang sangat sayup-sayup yang hampir tak kedengaran gaungnya untuk sampai ditanggapi secara serius. Satu hal kiranya mesti dikatakan: jika penolakan tahbisan perempuan didasarkan atas perbedaan jender saja, kiranya Gereja mesti bertobat supaya berani terbuka kepada Roh Allah yang telah memerdekakan baik laki-laki maupun perempuan. Kalau tidak, bagaimana Gereja dapat efektif mewartakan Allah sebagai pembebas bagi orang-orang tertindas sementara kaum perempuan dijadikannya tawanan kekal yang mesti menjadi abdi dan pelayan laki-laki yang setia?

Membaca Alkitab dari perspektif perempuan

Seperti disinyalir dalam bagian pertama tulisan ini, budaya (atau lebih tepat: pemahaman) bias jender tak bisa didasarkan begitu saja pada Alkitab apalagi pada Sabda (baca: kehendak) Allah. Namun harus diakui, pemahaman bias jender yang didominasi kaum laki-laki itu tidak hanya mewarnai (baca: menguasai) penulisan Alkitab, melainkan juga pembacaan dan penafsirannya. Simak saja! Sebenarnya halaman-halaman pertama Alkitab menyodorkan dua kisah penciptaan. Satu versi para Imam, yakni Kej 1:1-2:4a dan satu lagi versi Jahwis, yang diyakini para ahli sebagai teks yang lebih tua, yakni Kej 2:4b-25, yang dilanjutkan dengan bab 3 mengenai kejatuhan manusia dalam dosa. Namun kisah yang paling populer di kalangan umat, dengan demikian yang paling dihafal dan diingat, adalah kisah kedua, di mana dikatakan bahwa “TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku, ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki’.” (Kej 2:21-23).

Lalu teks itu telah dikomentari seorang rabi demikian. Mengapa seorang perempuan suka ber-make-up? Memang seharusnya demikian. Bukankah Adam itu diciptakan dari tanah, sedangkan Hawa dari rusuk Adam? Coba ambil segumpal tanah. Biarkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun, tanah itu tidak akan menjadi bau. Dia akan tetap saja seperti itu. Tetapi cobalah ambil satu tulang yang masih ada dagingnya biarpun sedikit, jika tidak diberi garam, pasti dalam dua tiga hari sudah akan berbau busuk dan menjadi tempat ulat bersarang. Demikianlah karena laki-laki dicipta dari tanah, tidak membutuhkan “garam”, tetapi perempuan membutuhkannya supaya tidak menjadi bau dan berbusuk.

Demikianlah, baik penulisan maupun pembacaan Alkitab, sangat diwarnai oleh budaya patriarkal yang amat merendahkan perempuan. Tentu saja perlakuan demikian tidaklah adil. Untuk itu Alkitab mesti dibaca secara baru, yakni dengan membuang prasangka yang merendahkan perempuan. Moga-moga orang-orang Gereja masa kini semakin menyadarinya agar terbuka kepada pembacaan Alkitab secara baru. Tiga langkah hendak disebutkan di sini. Pertama-tama, sebagaimana kita buat mengenai kisah penciptaan, kita mesti semakin merenungkan dan membuat diri makin biasa bergaul dengan perikop-perikop Alkitab yang secara nyata mengakui martabat perempuan sebagai sama dengan martabat laki-laki. Meskipun suasana patriarkal sangat kental mewarnai masyarakat dan budaya tempat lahirnya Alkitab, namun harus diakui bahwa Alkitab tidak begitu saja dapat dianggap sebagai kitab yang merendahkan martabat perempuan. Tidak adil dan tidak benar jika kita tutup mata terhadap perikop-perikop yang secara eksplisit mengakui martabat perempuan sebagai sama dengan laki-laki, baik dalam PL maupun dalam PB. Dan kita mesti membuat diri akrab dengan perikop-perikop seperti itu sehingga pelan-pelan dalam diri kita makin terbentuk sikap yang menyetarakan perempuan dan laki-laki. Seperti kita buat di atas tadi, biasakanlah diri lebih mengutip Kej 1:27 dari pada Kej 2:18 dst.

Langkah kedua, biasakanlah membaca, merenungkan dan dengan demikian menjadi akrab dengan cerita-cerita sekitar keunggulan perempuan-perempuan sepanjang perjalanan umat Allah. Pantas disebut, misalnya (di samping kisah-kisah lain), kisah anak-anak perempuan Zelafehad yang diceriterakan dalam Bil 27:1-11. Diceriterakan, kelima anak perempuan Zelafehad dengan berani menuntut hak warisan kepada Musa. Waktu itu, yang berhak menerima warisan di Israel, seperti di banyak budaya sekarang ini termasuk orang Nias, hanyalah anak laki-laki. Karena tuntutan tak biasa ini, Musa menghadap Tuhan. “Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar; memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya di tengah-tengah saudara-saudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya hak atas milik pusaka ayahnya.” Ternyata tuntutan mereka direstui oleh Tuhan Allah. Di sini sudah nampak, bahkan di saat kesadaran akan kesetaraan jender masih sangat jauh dari kehidupan masyarakat, Alkitab sudah menunjukkan perannya sebagai Sabda Allah yang maha adil, yang tak mau merendahkan perempuan di bawah laki-laki. Ia meretas adat dan pemahaman masyarakat yang amat bias jender.

Demikian juga dapat direnungkan kepahlawanan tokoh-tokoh perempuan sepanjang sejarah umat Allah. Debora, seorang nabiah isteri Lapidot, adalah pemimpin Israel yang mengalahkan Sisera, panglima raja Kanaan. Ester adalah ratu keturunan Yahudi di Persia yang berhasil menggagalkan rencana Haman, panglima tentara Persia, untuk membinasakan orang-orang Yahudi. Yudit adalah janda perkasa Yahudi yang berhasil memenggal kepala Holofernes, panglima tentara Nebukadnesar yang merencanakan kehancuran Yerusalem. Itulah sekedar menyebut contoh bagaimana Alkitab menampilkan tokoh-tokoh perempuan yang gagah perkasa sepanjang perjalanan umat Allah. Maka kiranya sungguhlah tak bisa dianggap sebagai kebetulan begitu saja melainkan merupakan tuntunan Roh Allah bagi penulis suci bahwa kisah penciptaan yang diceriterakan dalam lembaran pertama Alkitab adalah versi para Imam di mana perempuan diakui semartabat dengan laki-laki, sebagaimana telah kita kutip di atas tadi; dan bukannya versi Jahwis yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Lembar pertama Alkitab ini hendaknya kita lihat sebagai petunjuk umum bahwa kita mesti membaca seluruh Alkitab dalam terang dan kesadaran bahwa martabat manusia itu sama, entah dia laki-laki ataupun perempuan. Keduanya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri.

Demikian juga pada PB kita menemukan perikop-perikop ataupun ayat-ayat yang sungguh tidak membedakan perempuan dari laki-laki. Meskipun kita telah mengutip perikop-perikop tulisan Paulus yang sangat merendahkan martabat perempuan, namun Paulus yang sama telah juga menempatkan perempuan pada derajat yang sama dengan laki-laki. Kepada umat di Galatia dia tulis: “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:26-28). Maka, betapa pun tidak banyak, kita mesti semakin lebih sering merenungkan ayat-ayat ataupun perikop-perikop seperti ini demi membangun kesadaran kesetaraan jender di dalam diri kita.

Langkah ketiga ialah membaca secara cermat teks-teks yang nyata-nyata menyudutkan perempuan sehingga kita dapat mengerti mengapa ungkapan-ungkapan ekstrim seperti itu bisa terdapat dalam Alkitab. Sebagaimana telah disinggung di atas, pada masyarakat arkhais, masyarakat sangat patriarkal. Hal itu sekaitan dengan situasi hidup yang sangat tergantung dari kekuatan fisik sebagaimana telah kita coba lihat secara sepintas di atas tadi. Dan itu berlangsung hingga pada masa penulisan PL dan PB, bahkan hingga pada masa Bapa-bapa Gereja, sehingga Alkitab tetap dibaca dalam warna patriarkal sebagaimana pada saat penulisannya. Nah, supaya kita tidak terjerumus ke dalam pembacaan yang berat sebelah, kita perlu menyadari konteks yang amat patriarkal ini. Maka, di saat rasul Paulus meminta perempuan diam dalam pertemuan Jemaat, misalnya, itu mesti dilihat sebagai perlindungan khusus kepada mereka agar mereka tidak perlu repot-repot memikirkan hal-hal rumit yang muncul dalam Jemaat karena mereka tidak biasa dilibatkan dalam hal-hal seperti itu dalam kehidupan harian di masyarakat.

Rasanya tidak adil menuduh Paulus diskriminatif begitu saja sementara secara eksplisit dinyatakannya dalam surat-suratnya yang lain bahwa perempuan tidaklah lebih rendah dari laki-laki. Pastilah unsur perlindungan ini hendak ditonjolkannya dari pada merendahkan mereka. Maka di saat situasi dalam masyarakat sudah berkembang, sikap kita terhadap kutipan itu juga mesti berobah. Situasi sekarang lain. Kekerasan otot justru harus dihindarkan dalam penyelesaian masalah. Kerja yang dulu menuntut otot sekarang dapat dikerjakan dengan mesin, katrol, dongkrak, dsb. Otak justru lebih dibutuhkan dari pada otot. Karena itu peran perempuan tidak perlu disepelekan lagi. Maka di hadapan teks seperti itu kita tidak perlu bahkan tidak boleh menyuruh perempuan bungkam. Justru konteksnya mesti kita terangkan sehingga tidak ada di antara kita yang tersandung dan merasa telah melawan Sabda Allah jika seorang perempuan berbicara dalam pertemuan Jemaat kita. Sebaliknya kita mesti mendorong mereka berbicara dengan lebih menekankan maksud perlindungan itu tadi. Dan jangan heran sering sekali justru usul mereka jauh lebih efektif dari usul laki-laki sebab merekalah yang paling banyak peduli terhadap hidup menggereja. Demikianlah, yakni dengan menempatkan pada konteksnya, ayat-ayat yang nyata-nyata merendahkan perempuan dalam Alkitab dinetralisir. Dan itu amat sesuai dengan prinsip penafsiran Alkitab: tidak melepaskan satu ayat atau perikop dari maksud keseluruhan Alkitab sebagai Sabda Allah yang membawa pembebasan dan penyelamatan bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Pengembalian pada konteksnya menuntun kita menemukan “roh” bacaan tersebut untuk mengakui bahwa penerapannya sekarang ini mesti berbeda. Dalam hal ini berlakulah apa yang dikatakan Paulus sendiri, “hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2Kor 3:6).

Catatan akhir

Di saat orang berkata kepada Yesus: “Lihat, ibu dan saudara-saudaraMu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau,” Ia menjawab: “Siapa ibuKu dan siapa saudara-saudaraKu?” Sambil menunjuk kepada orang-orang di sekelilingNya, Ia berkata: “Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu” (Mk 3:31-35). Di hadapan kata-kata Yesus ini kita mesti mengakui bahwa keanggotaan kita dalam Kerajaan Allah, dalam Gereja sebagai Keluarga Allah, tidak lagi ditentukan oleh hubungan darah atau etnis atau bahkan oleh jenis kelamin, melainkan oleh karena “melakukan kehendak Allah”. Secara sakramental itu dibuat dalam pembaptisan. Dan dalam iman karena pembaptisan itu semua orang, baik laki-laki maupun perempuan telah menjadi sama. Kesadaran inilah yang mesti mendasari kita di saat membaca Alkitab. Maka sebagai catatan akhir, kita dihimbau (dengan keharusan!) untuk membaca seluruh Alkitab dalam semangat pengakuan martabat perempuan sebagai sama dengan laki-laki. Tanpa demikian, yakni membaca Alkitab dalam kesadaran kesetaraan jender, kaum perempuan akan menolak Alkitab sebagai Sabda Allah, sebab tak mungkinlah Allah yang menciptakan mereka, yang nota bene adalah Allah yang adil, telah mencipta mereka sebagai “abdi” laki-laki.

Perbedaan fungsi biologis sekaitan dengan perbedaan seksual tidak usah disangkal, dan memang tidak mungkin disangkal, sebab memang demikianlah adanya. Tetapi perbedaan itu tidak perlu dan juga tidak boleh dipandang sebagai dasar penempatan jenis kelamin tertentu sebagai berada di bawah yang lain, entah perempuan ataupun laki-laki.

Perbedaan itu lebih-lebih menandakan kepartneran yang mesti saling melengkapi. Dalam semangat itulah Alkitab mesti dibaca. Kita telah melihat bahwa justru di tengah-tengah masyarakat yang amat patriarkal, Alkitab telah menampilkan kisah-kisah yang amat meninggikan (atau lebih tepat: mengakui) martabat perempuan. Justru kesamaan martabat itu telah dituliskan dalam lembaran pertama Alkitab. Dan di saat Alkitab diakhiri dengan kitab Wahyu, dikisahkanlah turunnya langit dan bumi baru dari surga, di mana segala ciri kekerasan otot berhenti. Dan itu diawali dengan kisah perempuan yang telah berjuang dan akhirnya mengalahkan naga, lambang pembinasa yang jahat itu. Itu berarti lembar pertama dan terakhir Alkitab telah menggambarkan martabat perempuan sebagai tidak bisa ditempatkan di bawah martabat laki-laki, sebab keduanya secara bersamalah memang yang diciptakan menurut gambar dan rupa Sang Pencipta. Allah sendiri telah menggambarkan diri-Nya bagaikan seorang perempuan yang tak mungkin melupakan bayinya (Yes 49:15). Karena itulah kita berseru: “Allah yang maharahim!” Aspek feminim tak mungkin dilepaskan dari Allah.