... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

HARI RAYA PASKAH

Sumber Foto: ©Musei Vaticani- VaticanNews
Hari Raya Paskah merupakan perayaan terpenting dalam tradisi Kekristenan, khususnya dalam Gereja Katolik. Hari raya Paskah adalah hari Raya Kebangkitan Tuhan. Paskah adalah “Pesta dari segala pesta”, “Hari Raya dari segala hari raya”, dan “Minggu Agung” (lih. CE, No. 371; KGK, No. 1169). Hari ini sudah dihitung sebagai Hari Minggu Paskah I, awal Masa Paskah yang akan berakhir pada Hari Raya Pentakosta, 50 hari kemudian. Namun demikian, masa Trihari Suci Paskah sendiri baru berakhir setelah Ibadat Sore II hari Minggu itu. Hari Raya ini tidak hanya menjadi puncak tahun liturgi, tetapi juga inti dari seluruh iman Kristiani. Melalui Paskah, umat merayakan kebangkitan Kristus dari kematian, sebagai kemenangan atas maut.

Kata "Paskah" sendiri berasal dari bahasa Ibrani "Pesach" yang berarti "melewati" atau "lolos". Istilah ini merujuk pada peristiwa yang diceriterakan dalam Kitab Keluaran ketika malaikat Tuhan "melewati" rumah-rumah umat Israel yang telah menandai pintu mereka dengan darah anak domba (Kel 12:13), menyelamatkan mereka dari tulah terakhir di Mesir, yakni kematian seluruh anak sulung Mesir (Kel 11:1 – 12:36). Kemudian dalam bahasa Yunani, istilah ini diterjemahkan sebagai "Pascha", yang kemudian diadopsi dalam bahasa Latin dan berbagai bahasa modern lainnya, seperti dalam bahasa Indonesia menjadi Paskah.

Pada awalnya hari raya Paskah merupakan perayaan Yahudi yang menandai pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Tetapi dalam kemudian dalam bingkai ajaran Kristiani, Paskah mendapatkan makna baru melalui kehidupan, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Menurut para penginjil, Yesus disalibkan pada saat menjelang Paskah Yahudi, dan bangkit pada hari ketiga. Oleh karena itu peristiwa kebangkitan Kristus dimaknai sebagai penggenapan inti terdalam dari Paskah: pembebasan manusia dari dosa dan kematian menuju kehidupan kekal (bdk. 1Kor 5:7-8).

Sejak abad ke-2, komunitas Kristen awal telah merayakan kebangkitan Kristus secara khusus, meskipun waktu dan bentuk perayaannya masih bervariasi. Baru pada Konsili Nicea I pada tahun 325 M menetapkan bahwa Hari Raya Paskah dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama pada atau setelah ekuinoks musim semi. (Sekedar pengingat: Ekuinoks adalah fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa, mengakibatkan siang dan malam memiliki durasi yang kurang lebih sama di seluruh dunia. Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun, sekitar 21 Maret dan 23 September. Ekuinoks menandai awal musim semi di belahan bumi utara dan awal musim gugur di belahan bumi selatan, dan sebaliknya.)

Dalam ajaran Gereja Katolik, Paskah memiliki makna yang sangat mendalam karena berkaitan langsung dengan inti keselamatan. Katekismus Gereja Katolik (KGK 638) menegaskan bahwa kebangkitan Yesus adalah puncak iman Kristen: "Kebangkitan Kristus adalah kebenaran puncak iman kita dalam Kristus, yang dipercayai dan dihayati oleh komunitas Kristen pertama."

Kebangkitan menunjukkan bahwa Yesus adalah sungguh Allah, dan bahwa penderitaan serta kematian-Nya bukanlah akhir dari segala-galanya, melainkan hanya sebuah jalan menuju hidup yang baru. Oleh karenanya melalui Paskah, umat beriman diajak untuk mengalami misteri Paskah terlebih secara pribadi, yakni mati terhadap dosa dan bangkit dalam kehidupan yang baru bersama Kristus (Rm 6:4). Paskah tidak hanya menegaskan kuasa Allah atas maut, tetapi juga mengundang setiap orang untuk masuk dalam pertobatan dan pembaruan hidup.

Secara liturgi Hari Raya Paskah dalam dirayakan dalam Triduum Paskah, yang mencakup Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan berpuncak pada Malam Paskah serta Hari Raya Paskah. Triduum ini adalah inti dari seluruh tahun liturgi:

  • Kamis Putih mengenang Perjamuan Terakhir dan institusi Ekaristi.
  • Jumat Agung adalah peringatan sengsara dan wafat Kristus.
  • Sabtu Suci adalah hari hening, penuh penantian.
  • Malam Paskah dirayakan dengan liturgi cahaya, liturgi sabda, liturgi baptisan, dan liturgi Ekaristi, yang merupakan perayaan penuh sukacita atas kemenangan Kristus atas maut.

Tentu perayaan ini tidak hanya bersifat seremonial belaka, namun juga mistagogis, yakni membawa umat untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri iman. Liturgi Paskah adalah bentuk nyata pewartaan dan perayaan misteri keselamatan yang dirasakan secara komunal.

Akhirnya  harus dikatakan bahwa Paskah bukanlah sekadar kenangan atas peristiwa lampau, tetapi aktualisasi karya keselamatan dalam hidup sehari-hari umat beriman Kristiani. Kebangkitan Kristus menjadi sumber harapan yang tak tergoyahkan di tengah penderitaan, krisis, dan realitas kematian. Santo Paulus menegaskan, "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga iman kamu" (1Kor 15:14). Maka Paskah mengajak umat beriman untuk:

  • Hidup dalam pertobatan dan pembaruan batin, meninggalkan dosa demi hidup suci.
  • Menjadi saksi kebangkitan dengan menyebarkan kasih, damai, dan sukacita dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
  • Menghidupi spiritualitas pengharapan, bahwa kehidupan tidak berakhir dalam penderitaan atau kematian, melainkan terbuka menuju hidup kekal.
  • Paskah juga menjadi momentum pembaruan janji baptis, simbolisasi bahwa setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus, menjadi manusia baru.

Semoga Tuhan menolong kita semua. Amin

MASA PASKAH

Saudara dan saudari dalam Kristus Yesus, selamat bertemu kembali dan sesi katekese liturgi. Minggu lalu kita sudah berbicara tentang topik Sikap Berdiri dalam perayaan liturgi kita. Kali ini karena menjelang Masa Paskah, maka kita akan berbicara secara khusus tentang Masa Paskah.

Namun sebelum kita berbicara tentang Masa Paskah, kita diingatkan kembali bahwa Masa Prapaskah akan berakhir pada malam atau sesaat sebelum perayaan Tri Hari Suci, yakni pada Hari Kamis Putih. Menjelang Masa Paskah ada beberapa istilah yang sering kita dengar dan hendak diingatkan kembali kepada kita:

1.   Pekan Suci, yaitu suatu kurun waktu satu pekan dimulai dari Minggu Palma hingga Hari Raya Paskah.

2.  Minggu Prapaskah VI atau biasa disebut dengan Minggu Palma Sengsara Tuhan (Dominica in Palmis de Passione Domini), karena untuk mengenangkan kesengsaraan Tuhan Yesus. Minggu Palma adalah pintu masuk Pekan Suci.

3.     Hari Kamis Putih yang merupakan Misa Sore Perjamuan Malam Tuhan (Missa Vespertina in Cena Domini): Gereja memulai Trihari Suci Paskah dan memperingati perjamuan malam terakhir Tuhan (pendirian/institusi Sakramen Ekaristi atau penetapan Ekaristi). Pada hari ini kita mengenangkan Perjamuan Malam Terakhir Tuhan (Ultima Cena Domini), dimana pada saat itu Yesus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri dalam rupa roti dan anggur yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya.

4.    Jumat Agung dimana pada hari ini kita Merayakan Sengsara Tuhan, ketika “Kristus Anak Domba Paskah kita dikurbankan”, apa yang telah lama dijanjikan dalam tanda dan rupa akhirnya dinyatakan dan dibawa kepada kepenuhannya. Anak Domba sejati menggantikan Anak Domba simbolis.

5.      Malam Vigili Paskah (Tirakatan Kebangkitan Tuhan). Malam ini Gereja berjaga dalam doa (Latin: Vigili, Jawa: tuguran, tirakat) dengan merayakan suatu liturgi agung untuk mengenangkan saat-saat Tuhan bangkit dari kematian. Inilah “bunda atau induk dari segala macam tirakat (vigili) ((lih. Caeremoniale Episcoporum (CE), no. 332; PPP, no. 77)). Suatu malam pembebasan, seperti ketika bangsa Israel tetap berjaga-jaga menantikan Tuhan yang akan lewat dan membebaskan mereka dari penindasan bangsa Mesir (Kel. 12: 42).

Paskah berasal dari kata pesach yang berarti “Tuhan lewat” yang dikenangkan bangsa Israel setiap tahun itu melambangkan saat kebangkitan Kristus (Paskah).

6.    Hari raya Paskah adaah hari Raya Kebangkitan Tuhan. Gereja merayakan kebangkitan kristus dengan penuh sukacita. Paskah adalah “Pesta dari segala pesta”, “Hari Raya dari segala hari raya”, dan “Minggu Agung” (lih. CE, no. 371; KGK, no. 1169). Hari ini sudah dihitung sebagai Hari Minggu Paskah I, awal Masa Paskah yang akan berakhir pada Hari Raya Pentakosta, 50 hari kemudian. Namun demikian, masa Trihari Suci Paskah sendiri baru berakhir setelah Ibadat Sore II hari Minggu itu.

Demikian untuk kali ini dan karena minggu depan sudah memasuki Pekan Suci maka kita akan bertemu kembali pada hari Minggu Paskah II atau tanggal 27 April 2025. Tuhan memberkati

TANDA SALIB (TPE 2020)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan, selamat hari minggu, selamat bertemu kembali dalam sesi katekese liturgi.

Mulai hari ini dan beberapa hari minggu selanjutnya kita akan berbicara tentang tata gerak liturgi dalam Tata Perayaan Ekaristi. Perlu kita ketahui bahwa ini adalah program mandatoris, yang harus dilaksanakan, dari Keuskupan sebagai hasil sinode III Keuskupan Sibolga, agar semua tata gerak liturgi selama perayaan Ekaristi seragam.

Hari ini kita berbicara tentang Tanda Salib. Walaupun hal ini pernah disampaikan pada katekese sebelumnya, namun kali ini Tanda Salib yang dimaksud adalah tanda Salib selama perayaan Ekaristi.

Sehubungan dengan Tanda Salib dalam perayaan Ekaristi (kurban Misa), ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

1.      Rumusannya: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin (bukan: Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus atau yang lainnya)

2.     Tanda salib dilakukan dalam beberapa momen berikut ini:

a.        Ketika memasuki gereja, sambil menandai diri dengan air suci yang ada di samping pintu masuk gereja. Melakukan tanda salib dengan air suci di pintu masuk gereja merupakan tanda peringatan pembaptisan yang telah kita terima.

b.        Ketika mengawali dan mengakhiri Perayaan Ekaristi.

c.        Ketika menerima percikan air suci kalau dibuat sebagai Pernyataan Tobat. Tanda tersebut mengungkapkan kesadaran kita sebagai anak-anak Allah dan kesetiaan kita pada janji baptis kita.

Inti dari janji baptis itu adalah penolakan dosa dan kejahatan, dan pengakuan iman kepada Allah Tritunggal.

d.        Ketika memulai bacaan Injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut dan dada untuk mengungkapkan hasrat agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan, dan hati diresapi oleh sabda Tuhan.

Khusus tanda salib ini, kita lakukan setelah kita menjawab: dimuliakan Tuhan.

e.        Pada bagian penutup sebagai tanda menerima berkat perutusan.

SIKAP BERDIRI (TPE 2020)

 Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan, selamat hari Minggu. Kita akan bertemu kembali dalam sesi katekese liturgi. Minggu lalu sudah berbicara tentang tanda salib, momen-momen tertentu kita membuat tanda salib, kali ini kita berbicara tentang sikap berdiri.

Mungkin ada yang bertanya apa pentingnya keseragaman sikap-sikap ini dalam liturgi kita. Dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) nomor 42 dikatakan: “Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Kudus. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula”. Dan hal tersebut juga sesuai dengan Konsitusi Liturgi Nomor 30. Kiranya dengan demikian kita bisa memahami betapa pentingnya keseragaman sikap selama perayaan liturgi.

Berdiri pada umumnya dianggap sebagai ungkapan rasa hormat. Misalnya ketika Presiden atau pejabat memasuki ruangan semua yang hadir diminta berdiri atau ketika bersalaman dengan orangtua atau yang dituakan, dan masih banyak contoh lain. Namun dalam perayaan ekaristi berdiri bukan saja sebagai tanda hormat namun juga merupakan tanda Syukur dan Pujian dan bahkan permohonan.

Dalam perayaan Ekaristi sikap berdiri dilakukan dalam beberapa momen berikut ini:

  1. Ketika imam dan para pelayan liturgi berarak menuju ruang altar. Sikap ini menunjukkan penghormatan kepada Allah yang datang dan hadir di tengah-tengah umat. Dari awal sampai dengan doa kolekta (pembuka) kita mengambil sikap berdiri.
  2. Pada saat pemakluman Injil, sebagai tanda hormat kepada Tuhan Yesus Kristus yang bangkit mulia dan hendak memaklumkan sabda-Nya.
  3. Pada waktu mengucapkan Syahadat (Aku Percaya) untuk membaharui pengakuan iman sebagai tanda kesediaan menjadi saksi iman.
  4. Ketika menyampaikan doa umat, sebagai tanda hormat kepada Allah yang setia mendengarkan dan mengabulkan doa-doa umat-Nya.
  5. Pada saat memulai Doa Syukur Agung (Prefasi) hingga Kudus, sebagai tanda hormat dan syukur kepada Allah.
  6. Pada waktu mengucapkan atau menyanyikan Bapa Kami sebagai tanda pujian dan permohonan.
  7. Ketika Imam mengucapkan doa sesudah komuni, sebagai tanda syukur.

Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin

MASA PRAPASKAH

Sesudah kita menjalani masa Adven, masa Natal, Masa Biasa I dan kini kita memasuki Masa Prapaskah selama kurang lebih 6 minggu (40 hari), dimulai pada hari Rabu Abu dan berakhir pada Perayaan Malam Paskah. Warna liturgi adalah Ungu.

Tentang masa Prapaskah ini ada beberapa hal yang perlu diingatkan kembali kepada kita:

Tidak menyanyikan "Gloria" (kemuliaan) dan "Alleluya." Mengapa Gloria dan Alleluya tidak dinyanyikan. Ada beberapa alasan:

  • Masa Prapaskah adalah waktu yang ditentukan untuk pertobatan, refleksi, dan persiapan spiritual menjelang perayaan Paskah. Maka dengan tidak menyanyikan "Gloria" dan "Alleluya" menciptakan suasana yang lebih sesuai untuk introspeksi dan penyesalan, sejalan dengan tema masa Prapaskah yang berfokus pada penyesalan dan harapan untuk pembaharuan.
  • "Gloria": Gubahan ini biasanya dinyanyikan pada Misa pada hari-hari besar dan kesempatan-kesempatan istimewa, tetapi pada masa Prapaskah, "Gloria" tidak dinyanyikan untuk mencerminkan nuansa kesedihan dan kerendahan hati. Hal ini menunjukkan kesedihan dan komitmen yang lebih dalam untuk bertobat.
  • "Alleluya": Kata "Alleluya," yang berarti "puji Tuhan" dalam bahasa Ibrani, biasanya dinyanyikan sebelum bacaan Injil dalam perayaan liturgi. Pada masa Prapaskah, ketidakhadiran "Alleluya" menghadirkan nuansa kesedihan, membangun suasana refleksi yang mendalam tentang penderitaan, kematian, dan pengorbanan Kristus menjelang Paskah
Tentang Rabu Abu. Hari bersangkutan disebut sebagai Hari Rabu, karena pada hari Rabu tersebut, semua orang Katolik di seluruh dunia menerima abu di kepalanya. Abu itu berasal dari pembakaran daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya. Abu melambangkan pertobatan dan kesadaran akan keterbatasan kita sebagai manusia. Ketika imam, diakon atau petugas lain mengoleskan abu ke dahi umat, berkata, “Ingatlah, bahwa engkau adalah debu, dan akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:19) atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Markus 1:15). Hal tersebut mengingatkan kita akan kebutuhan kita untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan.

Masa Prapaskah sering disebut juga sebagai Masa Puasa. Salah satu kewajiban spiritual yang kita lakukan dalam Masa Prapaskah adalah melakukan puasa dan pantang. Menurut ketentuan Gereja Katolik, puasa wajib dalam masa Prapaskah adalah pada Rabu Abu (awal Masa Prapaskah) dan Jumat Agung (peringatan Wafat Yesus Kristus). Sedangkan pantang wajib dilaksanakan pada Rabu Abu dan setiap hari Jumat selama masa Praspaskah.

Dalam ajaran Gereja Katolik, berpuasa berarti makan kenyang hanya satu kali sehari pada hari yang diwajibkan itu. Sedangkan berpantang berarti menahan diri atau mengendalikan diri dari sesuatu yang terhadapnya kita sangat bergantung atau pada kenikmatan tertentu. Pantang yang bisa lakukan, antara lain: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok/minuman beralkohol. Setiap orang bisa menambah pantang lainnya.

Menurut ketentuan Hukum Gereja, orang yang wajib berpuasa adalah semua yang berumur sudah dewasa sampai awal tahun keenampuluh (KHK kan 1252); dan yang disebut dewasa adalah yang genap berumur delapan¬belas tahun (KHK kan 97:1). Oleh karena itu, orang yang wajib berpuasa adalah mereka yang genap berumur 18 tahun sampai awal umur ke-60 tahun. Sedangkan orang orang wajib berpantang adalah semua orang yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK kan 1252).