... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

DEKORASI GEREJA

Perlu kita ketahui bahwa dekorasi gereja bukan sekadar hiasan luar yang memperindah bangunan, melainkan bagian dari perayaan iman yang membantu umat berjumpa dengan misteri Allah secara lebih dalam. Dalam liturgi Katolik, dekorasi liturgis memiliki makna simbolis yang mendukung suasana doa, penghormatan terhadap tempat kudus, dan penghayatan akan masa liturgi yang sedang dirayakan.

Gereja adalah Rumah Allah dan Tanda Misteri Ilahi. Gereja, secara arsitektural, adalah tempat kudus di mana komunitas beriman berkumpul untuk merayakan liturgi, khususnya Ekaristi. Oleh karena itu, tata ruang dan dekorasinya harus mencerminkan keagungan, kekudusan, dan keterarahan kepada Tuhan. Seperti dituliskan dalam PUMR No. 288, “Tempat ibadat tidak hanya harus layak dan pantas untuk doa, tetapi juga indah dalam kesederhanaannya sehingga dapat membangkitkan semangat khusyuk."

Dekorasi dalam gereja tidak boleh bersifat berlebihan, tidak mengalihkan perhatian dari misteri iman yang dirayakan, atau menjadi pusat perhatian melebihi altar dan Salib. Seperti dikatakan dalam Konstitusi Liturgi, “Tata ruang dan dekorasi hendaknya diarahkan pada perayaan iman, bukan sekadar estetika duniawi.” (Sacrosanctum Concilium no. 122–129). Prinsip dasarnya adalah:

·      Sakralitas, artinya dapat mengangkat hati kepada Allah

·      Keselarasan, artinya serasi dengan arsitektur dan tata ruang liturgi

·      Kesederhanaan dan Keagungan, artinya indah namun tidak mencolok

·      Tanda Liturgi, artinya menyampaikan makna masa atau pesta liturgis

Penggunaan bunga dalam liturgi adalah bagian penting dari dekorasi, tetapi harus dilakukan secara bijak. PUMR menyatakan: "Penggunaan bunga hendaknya bersahaja dan tidak berlebihan. Selama masa Prapaskah, tidak diperkenankan menghiasi altar dengan bunga, kecuali pada Hari Minggu Laetare (Minggu Prapaskah IV), Hari Raya dan Pesta." — PUMR no. 305

Ini menunjukkan bahwa ornamen seperti bunga dan kain altar adalah simbol masa liturgi, bukan dekorasi bebas. Warna kain liturgi (putih, ungu, hijau, merah, dll.) harus selalu sesuai dengan kalender liturgi.

Ikon, Patung, dan Salib. Patung para kudus, ikon, dan salib memiliki tempat penting dalam gereja, tetapi harus ditempatkan secara liturgis dan tidak menutupi pusat perhatian utama yaitu altar, ambo, dan tabernakel. Katekimus Gereja Katolik mengatakan, “Gambar-gambar kudus harus ditata sedemikian rupa agar tidak mengganggu penghayatan perayaan dan membantu umat berdoa.” (KGK no. 1181–1186).

Dekorasi Khusus dalam Masa Liturgi

Setiap masa liturgi memiliki corak dan nuansa yang berbeda, yang tercermin juga dalam dekorasi gereja:

·          Adven: Sederhana dan penuh harap; warna ungu, penggunaan bunga dibatasi

·          Natal: Penuh sukacita; dekorasi lebih kaya, terang dan hidup

·          Prapaskah: Sederhana, cenderung tanpa bunga, warna ungu; mengarah pada pertobatan

·          Paskah: Penuh cahaya, bunga melimpah sebagai simbol kebangkitan

·          Hari Raya Khusus (Maria, Para Kudus, dll): Boleh lebih semarak, tetap dalam kesopanan liturgis

Dapat kita simpulkan bahwa dekorasi gereja bukan untuk menyenangkan mata, melainkan untuk memperdalam iman. Gereja Katolik menghargai seni dan keindahan karena keduanya merupakan pantulan dari kemuliaan Allah. Namun, keindahan liturgi selalu tunduk pada aturan dan semangat liturgi itu sendiri.

TPE: SIKAP MEMBUNGKUK

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Minggu lalu kita sudah berbicara tentang sikap berlutut, menebah dada dan menundukkan kepala. Hari ini kita berbicara khusus membungkuk.

Telah disampaikan minggu lalu bahwa Liturgi Gereja Katolik bukan hanya soal doa atau kata-kata yang diucapkan, tetapi juga melibatkan tubuh kita sebagai bentuk ungkapan iman. Sikap tubuh dalam liturgi mengungkapkan hati dan jiwa yang berdoa.

Sikap membungkuk merupakan tanda penghormatan, penyerahan diri, dan kerendahan hati di hadapan Allah atau terhadap hal-hal suci. Cara melakukannya juga kita harus lakukan dengan hikmat, tidak terburu-buru, namun kita lakukan dengan kesadaran dan penghayatan penuh. Sepeprti dikatakan oleh Paus Benediktus XVI, “Gerakan tubuh dalam liturgi bukanlah hiasan luar, melainkan bagian dari dialog kasih antara Allah dan umat-Nya.” - The Spirit of the Liturgy, Joseph Ratzinger (Ignatius Press, 2000)

Oleh karena itu sikap membungkuk ini kita lakukan pada momen berikut ini:

  • ketika mengucapkan "Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia" (untuk Syahadat Nikea), atau "yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria" (untuk Syahadat Para Rasul).
  • ketika Imam berlutut sesudah konsekrasi, dilakukan oleh mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi.

Selain itu kita juga membungkukkan badan ketika kita menghadap altar atau tabernakel, dimana Sakramen Mahakudus ditakhtakan. Melalui sikap ini, kita diajak untuk mengakui kehadiran Allah yang kudus, menyerahkan diri kepada-Nya, dan menyatu dalam misteri suci yang dirayakan Gereja.

SIKAP BERLUTUT, MENEBAH DADA, DAN MENUNDUK

Tentang sikap yang seragam dalam perayaan liturgi resmi Gereja, sering dipertanyakan mengapa itu penting? Jawabannya adalah agar seluruh umat yang merayakan liturgi dengan sikap yang sama dapat pula membangun sikap batin yang sama. Sebagaimana dalam Konstitusi Liturgi Nomor 30 dan juga dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) nomor 42 dikatakan: “Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Kudus. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula”.

Liturgi Gereja Katolik bukan hanya soal doa atau kata-kata yang diucapkan, tetapi juga melibatkan tubuh kita sebagai bentuk ungkapan iman. Sikap tubuh dalam liturgi mengungkapkan hati dan jiwa yang berdoa. Tiga sikap ini, - berlutut, menebah dada, dan menunduk, - memiliki makna tersendiri. Bunda Gereja mengajarkan bahwa melalui tubuh, jiwa kita ikut mengungkapkan hormat, tobat, dan kerendahan hati di hadapan Allah.

Sikap Berlutut

Makna: Berlutut adalah sikap penghormatan, penyembahan, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan atau ungkapan penyerahan diri total kepada Allah.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2703 dikatakan, “Dalam liturgi, hidup batin menyatakan dirinya melalui tanda-tanda, gerakan, dan sikap tubuh.” Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi mengatakan, Sebab ada tertulis: Demi nama Yesus, bertekuk lututlah segala yang ada di langit dan di atas bumi dan di bawah bumi” (Flp 2:10). Berarti berlutut itu adalah sutu sikap penyembahan.

Dalam liturgi khususnya dalam perayaan Ekaristi, umat berlutut ketika:

  • menyatakan Tobat, sebagai tanda tobat dan penyesalan serta sikap sembah sujud untuk hormat kepada Allah.
  • mengucapkan "... Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia (untuk Syahadat Nikea), atau "yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria" (untuk Syahadat Para Rasul), khusus pada Hari Raya Kabar Sukacita (25 Maret) dan pada Hari Raya Natal.
  • pada saat konsekrasi dalam Doa Syukur Agung, atau sejak sesudah Kudus sampai akhir Doa Syukur Agung.
  • mempersiapkan diri pada waktu sebelum menerima komuni, dan meresapkan kehadiran Tuhan Yesus di dalam hati pada waktu sesudah komuni, sebagai sikap sembah sujud untuk hormat kepada Allah.

Menebah Dada

Menebah dada adalah tanda penyesalan dan pengakuan dosa pribadi. Dengan ini menyatakan bahwa kita sadar akan kelemahan dan membutuhkan belas kasih Allah.

KGK 1431, mengatakan, “Pertobatan batin adalah suatu dinamika ‘hati yang remuk redam’” (bdk. Mzm 51:19). Juga kita ingat si pemungut cukai dalam Injil: “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia menebah dadanya dan berkata: ‘Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini’” (Luk 18:13). Maka sikap ini kita lakukan ketika mengucapkan kata-kata "... saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa ..." pada pernyataan Doa Tobat Saya Mengaku (Ritus Pembuka.

Menundukkan kepala

Menunduk adalah sikap hormat dan sembah sujud. Ini adalah tanda kerendahan diri dan penghormatan terhadap kehadiran Allah. Sikap ini kita lakukan pada saat menerima berkat sebagai tanda kesediaan dan kerendahan hati.

Jadi melalui sikap tubuh, kita menyelaraskan batin dan raga dalam Liturgi, Gereja mengajarkan bahwa liturgi adalah tindakan umat Allah secara keseluruhan: jiwa, pikiran, dan tubuh. Maka, setiap gerakan - sekecil apa pun - memiliki makna dan harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan hormat.

BUNUH SAJA AKU



di tepian asa nan tersisa

kusemai hasrat untuk dapat bersamamu

di helai cita yang kuterbangkan

kupupuk rindu untuk mendekapmu

di pemukiman tangisku nan sendu

kubangun niat untuk melawatmu

namun asa tidak bertepi

hasrat dan rindu tidak terpaut lagi

niat sudah terlalu kering

hingga aku berkata kepadamu:

“bunuh saja aku

itu akan lebih baik untukmu

dan juga untukku”

DEBU ADALAH DEBU: RENUNGAN ATAS KEMATIAN


Hari ini saya bersama rekan-rekan guru mengunjungi keluarga siswa kami yang telah meninggal dunia. Berita tentang kepulangan siswa kami ini sungguh menyentuh hati. Betapa tidak, siswa ini tinggal menghitung jam saja untuk menyelesaikan seluruh asesmen sekolah, dan sesudah itu tinggal menunggu pengumuman lulus atau tidak lulus. Namun apa hendak dikata, kehidupan manusia tidak dapat ditentukan oleh siapapun, kecuali sang Pemberi hidup itu sendiri.

Meskipun dalam suasana duka mendalam dari keluarganya dan juga keluarga besar sekolah kami, sebagai seorang beriman Kristiani harus tetap merefleksikan semua peristiwa kehidupan kita dalam terang Firman Tuhan. Kali ini kita hendak mendasarkan refleksi ini pada pericope Kitab Pengkhotbah yang mengatakan:

1Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: "Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!", 2 sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan, 3 pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur, 4 dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicauan burung, dan semua penyanyi perempuan tunduk, 5 juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan, pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi -- karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap berkeliaran di jalan, 6 sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur, 7 dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. 8 Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia. (Pkh. 12:1-8)

Hampir semua orang tidak ingin mati. Jangan mati, sakitpun dihindari; jangankan mati, tua pun ditolak. Hal itu bisa kita saksikan betapa banyak orang yang sudah memutih rambutnya berusaha agar hitam kembali, orang yang sudah mulai keriput karena faktor usia berusaha agar terlihat lebih muda dengan menggunakan berbagai produk kecantikan mulai dari yang herbal sampai dengan operasi pastik. Satu tujuannya agar tidak tua. Pada prinsipnya manusia senantiasa berusaha mempertahankan hidup yang telah ia terima dari sang Pencipta; oleh karenanya membunuh diri sendiri atau orang lain merupakan dosa yang sangat berat, dan mungkin hanya belas kasih Tuhanlah yang memapu mengampuninya.

Kendatipun harus juga diakui bahwa banyak orang yang berani mati, misalnya dengan terus menerus merokok, padahal jelas tertulis, “merokok membunuhmu”. Namun cukup banyak juga yang bernyali, mungkin dalam kasus ini, mereka-mereka yang “berani mati” itu dikecualikan untuk sementara.

Walaupun segala upaya dilakukan oleh manusia untuk mempertahankan atau menambah hidupnya, ternyata manusia tetap harus tunduk pada hukum yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri, yakni “debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (ayat 7).

Tampaknya hukum-hukum alam merupakan Firman Tuhan yang tidak dibahasakan melalui tulisan atau kata-kata, tetapi dengan sebuah realitas yang ingin mengatakan keterbatasan dan kefanaan segala sesuatu, termasuk manusia. Maka pada akhirnya bisa dimengerti mengapa Pengkhotbah mengucapkan itu dalam gaya sinisme dengan mengatakan bahwa semua adalah sia-sia. Itu bermaksud bahwa segala sesuatu akan berakhir pada waktu yang ditetapkan oleh Pencipta sendiri. Fakta ini merupakan bahasa Tuhan yang sungguh nyata.

Dan memang Pengkhotbah sungguh benar bahwa semua akan kembali pada asalnya debu kembali kepada debu. Hal itu kita ketahui dari ilmu pengetahuan modern, sebagaimana misalnya ditemukan bahwa di alam semesta ini ada 118 unsur (yang disusun berdasarkan atom dan konvergensi elektornnya) beserta pengklasifikasian berdasarkan wududnya ada gas, cair padat, dsb. Artinya ketika seseorang meninggal seluruh tubuhnya akan terurai kembali dalam unsur-unsur pembentuknya tadi.

Oleh karena itu, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus menerima itu dengan kerelaan hati. Meskipun secara manusiawi kita orangtua dan keluarga bersedih dan menangis. Ini reaksi yang wajar sebagai manusia. Apalagi menurut pandangan orang Nias yang mengatakan, do mbawa gana’a do dödö nono, yang kurang lebih berarti bahwa hart aitu adalah darah yang memberi warna di wajah, namun seorang anak merupakan adalah darah dari jantung orangtuanya. Maka apapun sesungguhnya akan dilakukan oleh orangtua untuk anak-anaknya. Maka kalau seorang anak meninggal maka orangtuanya sangat sangat wajar bila bersedih.

Kendatipun demikian, sebagai seorang beriman Kristiani, kita tidak boleh larut dalam kesedihan. Mengapa? Karena ketika kita dibaptis, kita telah mati bersama Kristus dan kita percaya bahwa akan bangkit bersama Kristus. Kebetulan masa ini masa Paskah, maka kita tidak boleh ragu bahwa orang yang meninggal dalam iman akan Kristus akan bangkit bersama dengan Dia dalam kehidupan abadi.

Namun bagaimana itu bisa terjadi? Pertanyaan ini telah ditanyakan kepada rasul Paulus oleh jemaat Korintus. Maka Paulus menjawab, dengan sedikit marah, dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, mengatakan: “Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. (1Kor 15:35-38).

Berarti inilah iman kita, inilah garansi kehidupan kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Semoga dengan jaminan ini, kita dapat menerima peristiwa ini dalam kaca mata iman kita, sehingga tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Semoga Roh Kudus menghibur kita. Amin