... di antara mereka ...

Mereka tidak perlu engkau ajari dengan ilmu yang engkau miliki, tetapi dampingilah mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan.

Walking together

Takdir menuntun kita ke jalan berliku dan membawa kita ke tempat yang asing. Yang perlu kau lakukan adalah mengenalinya. Zaman kompetisi sudah berlalu, kini eranya kolaborasi

Poker Face

Jangan pernah memberikan kepuasan kepada orang lain dengan membiarkan mereka mengetahui bahwa mereka telah berhasil melukai anda!

Long life Education

Nemo dat quod non habet - Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang ia sendiri tidak miliki. So ... belajarlah sampai akhir!

Two in One

Dialog dan komunikasi yang baik akan membawa kita pada sebuah tujuan yang dicitakan.

Family is the core of life

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Pergilah sejauh mungkin, namun pulanglah untuk keluarga!

The most wonderful and greatest gift

Anak-anakmu adalah anugerah terindah dan terbesar dalam hidupmu, tetapi mereka bukanlah milikmu!

The nice of brotherhood

Saudaramu adalah orang selalu siap melindungimu, meskipun baru saja engkau ingin memakannya. Satu alasan: karena engkaulah saudaranya.

Happiness is Simple

Bahagia itu sederhana: Pergilah bersamanya, nikmati alam dan pulanglah dalam sukacita!

Sendiri itu perlu

Sesekali ambil waktumu untuk diri sendiri: lihatlah ke kedalaman dan engkau tahu betapa banyak keburukanmu!

SAKRAMEN PENGAKUAN DOSA

Sakramen Pengakuan Dosa juga disebut Sakramen Tobat atau sakramen Rekonsiliasi. Sakramen ini adalah anugerah besar yang diberikan Kristus kepada Gereja-Nya, supaya kita yang lemah dan berdosa dapat selalu kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. Yesus sendiri berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni; jika kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." (Yoh 20:22-23).

Sakramen ini adalah jalan pemulihan hubungan kita dengan Allah dan dengan Gereja setelah kita jatuh dalam dosa. Katekismus Gereja Katolik (KGK 1422) menegaskan: “Mereka yang mendekat ke sakramen tobat menerima dari kerahiman Allah pengampunan atas penghinaan yang dilakukan terhadap Dia, dan pada saat yang sama mereka didamaikan kembali dengan Gereja.”

Kalau dalam pembaptisan kita telah didamaikan dengan Allah, mengapa kita masih memerlukan sakramen khusus (rekonsiliasi)?

Baptis merebut kita dari kekuatan dosa dan maut membawa kita dalam hidup baru sebagai anak-anak Allah. Akan tetapi, hal itu bukan berarti sudah membebaskan kita dari kelemahan manusiawi dan kecenderungan berdosa. Oleh karena itu kita memerlukan tempat untuk bisa berdamai kembali dengan Allah. Ruang itu adalah sakramen pengakuan dosa (KGK 1425-1426).

Dosa bukan hanya melukai hubungan pribadi kita dengan Tuhan, tetapi juga melukai tubuh Kristus, yakni Gereja. Maka melalui pengakuan dosa, kita diperdamaikan kembali. Sakramen ini menjadi tanda nyata kasih Allah yang selalu membuka jalan kembali bagi kita.

Ada empat unsur penting dalam Sakramen Tobat:

1.    Pemeriksaan batin (examen conscientiae): kita menyadari dosa-dosa kita di hadapan Allah.

2.    Penyesalan yang tulus (contritio): menyesali dosa dengan hati, bukan sekadar takut hukuman.

3.    Pengakuan dosa (confessio): mengakui dosa-dosa berat secara pribadi kepada imam. KGK 1456 menegaskan kewajiban ini: “Siapa yang sadar akan dosa berat, ia wajib mengaku semua dosa berat itu…”

4.    Silih dan absolusi: imam memberikan penitensi dan absolusi, yaitu pengampunan dari Kristus melalui Gereja. Penitensi adalah tindakan membuat pemulihan atau silih untuk kesalahan yang telah dilakukan. Penitensi harus dilakukan secara nyata dalam tindakan amal kasih dan solidaritas pada sesama. Dapat juga dilakukan dengan berdoa, berpuasa, dan membantu yang miskin, baik secara spiritual maupun material (1434-1439).

Melalui sakramen pengakuan dosa, umat beriman menerima rahmat sebagai berikut:

·      Mendamaikan kembali dengan Allah (KGK 1468).

·      Mengembalikan rahmat pengudusan yang hilang karena dosa berat.

·      Memberi damai, ketenangan hati, dan penghiburan rohani.

·      Memberi kekuatan untuk melawan godaan dan bertumbuh dalam kekudusan.

Saudara-saudari, Sakramen Tobat adalah pelukan kasih Allah yang tak terbatas. Janganlah kita takut untuk datang kepada-Nya, karena Ia selalu menanti kita dengan kerahiman-Nya. Paus Fransiskus berkata: “Allah tidak pernah lelah mengampuni kita; kitalah yang sering lelah memohon pengampunan.”

Maka, marilah kita rajin menerima sakramen ini, minimal sekali dalam setahun (sebagaimana diwajibkan Gereja – KGK 1457), agar hidup kita tetap bersatu dengan Kristus dan semakin bertumbuh dalam kasih-Nya.

SAKRAMEN KRISMA

Saudara-saudari yang terkasih, berjumpa lagi dalam sesi katekese bersama tim katekese Paroki Santa Maria Bunda Para Bangsa. Hari ini secara khusus kita berbicara tentang Sakramen Krisma atau yang juga disebut Sakramen Penguatan. Disebut Sakramen Penguatan, karena melalui Krisma, kita menerima kepenuhan rahmat Roh Kudus yang telah dicurahkan atas kita sejak Baptisan

Sakramen Krisma ini salah satu dari tiga sakramen inisiasi Kristiani: Baptis, Krisma, dan Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menjelaskan: "Sakramen Krisma menyempurnakan rahmat Baptis. Sakramen ini adalah sakramen yang memberikan Roh Kudus agar kita semakin dipererat dengan Gereja, diteguhkan dalam iman, dan dipanggil untuk menjadi saksi Kristus." (KGK 1285)

Artinya bahwa melalui Krisma, kita menjadi Kristen yang matang dalam iman, bukan lagi sekadar menerima iman dari orang tua dan wali baptis, tetapi berani mengakui dan menghidupinya secara pribadi.

Ritus utama Sakramen Krisma adalah pengurapan dengan minyak krisma suci di dahi, dengan penumpangan tangan oleh uskup, sambil mengatakan: “Terimalah tanda karunia Roh Kudus.” Simbol ini mengingatkan kita akan perutusan: kita dimeteraikan sebagai milik Kristus dan dikuatkan untuk menjadi saksi-Nya. (KGK 1299–1300).

Ibarat seorang pelatih sepak bola yang memasukkan seorang pemain dalam lapangan pertandingan, dia manruh tangan di atas pendaknya dan memberi perintah terakhir. Dengan cara yang serupa kita dapat mamahami sakramen penguatan ketika Uskup atau wakilnya, menaruh tangannya atas kita. Kita malangkah dalam laprangan kehidupan dengan tuntunan dan kekuatan dari Roh Kudus.

Apa yang terjadi ketika kita menerima Sakramen Krisma? Dalam sakramen Krism akita menerima Rahmat, antara lain:

·      Penguatan iman, sehingga kita menjadi lebih teguh untuk mengakui Kristus di tengah dunia.

·      Ketujuh karunia Roh Kudus dicurahkan dengan berlimpah (Yes 11:2), yakni Roh Kebijaksanaan, Pengertian, Nasihat, Keperkasaan, Pengenalan, Kesalehan, dan takut akan Allah.

·      Perutusan sebagai saksi Kristus. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan perkataan dan perbuatan.

Seperti yang ditegaskan Konsili Vatikan II: “Dengan Sakramen Krisma, orang-orang beriman diikat lebih sempurna kepada Gereja dan diperkaya dengan kekuatan khusus Roh Kudus. Maka mereka lebih terikat untuk menyebarkan dan membela iman dengan kata dan perbuatan, sebagai saksi Kristus sejati.” (LG 11)

Sakramen Krisma biasanya diterimakah oleh Uskup (hanya oleh Uskup). Namun karena alasan yang kuat, uskup dapat mendelegasikan kewenangannya kepada seorang Imam untuk menerimakannya. Tetapi dalam kondisi bahaya maut, setiap imam diperkenankan menerimakan sakramen penguatan.

Semoga katekese ini mengingatkan kita akan Rahmat Sakramen Penguatan yang telah kita terima dan menjadikan kita lebih berani menjadi saksi-saksi Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari; dan sekaligus melahirkan kerinduan untuk menerimanya bagi yang masih belum menerima sakramen ini.

SAKRAMEN EKARISTI

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Sesudah minggu lalu kita berbicara tentang Sakramen Baptis, hari ini kita berbicara tentang sakramen Ekaristi atau yang sering kita sebut Kurban Misa atau Misa Kudus. Selain itu, sakramen Ekaristi juga bisa disebut sebagai Perjamuan Tuhan, Kurban Kudus, Perjamuan Ekaristi atau sakramen altar.

Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium (no. 11) Sakramen Ekaristi disebut sebagai puncak dan sumber seluruh kehidupan (culmen et fons vitae) Gereja. Melalui Ekaristi, Kristus sendiri menghadirkan kurban salib-Nya, memberi santapan rohani, dan menyatukan umat dalam Tubuh-Nya.

Ekaristi ditetap sendiri oleh Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir, ketika Dia mengambil roti dan anggur, mengucap syukur, lalu berkata: “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” (Luk 22:19). Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:20). Setiap kali umat merayakan Ekaristi, sabda Yesus ini dihidupi kembali.

Dengan menerima komuni dalam sakramen Ekaristi dengan layak, umat beriman memperoleh Rahmat antara lain:

a)         Kesatuan lebih erat dengan Kristus (KGK 1391).

b)        Pengampunan dosa-dosa ringan (KGK 1394).

c)         Kekuatan melawan dosa dan kelemahan.

d)        Persatuan lebih mendalam dengan sesama dalam Gereja.

Yesus sendiri berkata: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:56). Komuni menyatukan kita dengan Kristus dan membuat kita menjadi anggota Tubuh Kristus yang hidup, memperbaharui Rahmat yang kita terima pada saat pembaptisan dan meneguhkan kita dalam peperangan melawan dosa (KGK 1391-1397, 1416).

Sayarat untuk dapat menerima Tubuh Kristus adalah harus seorang katolik (sudah dibaptis dan komuni pertama). Jika seseorang mempunyai dosa berat dalam kesadarannya, maka terlebih dahulu harus mengaku dosa kepada imam agar sungguh layak menerima komuni kudus.

MAKNA PERSEMBAHAN (KOLEKTE)

Setiap kali kita mengikuti Perayaan Ekaristi, ada satu momen yang sering dianggap sebagai rutinitas atau formalitas saja, tetapi sesungguhnya sangat penting, yaitu pengumpulan persembahan atau kolekte. Kolekte bisa berupa uang atau kadang hasil bumi, barang, dll. Lalu apa maknanya bagi kita?

Pertama, kolekte adalah ungkapan syukur kita kepada Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK 1357) menegaskan bahwa dalam Ekaristi, Gereja mempersembahkan kepada Allah apa yang pertama-tama datang dari-Nya, yaitu roti dan anggur, sebagai tanda ciptaan yang dikembalikan kepada Pencipta. Dengan demikian, apa pun yang kita persembahkan, termasuk uang kolekte, adalah tanda syukur bahwa hidup dan rezeki kita berasal dari Tuhan.

Kedua, kolekte adalah tanda partisipasi dalam karya Gereja. Sacrosanctum Concilium (Konstitusi Liturgi Suci, artikel 48) menegaskan bahwa umat beriman hendaknya “ikut serta dalam kurban Ekaristi, bukan hanya dengan mempersembahkan kurban tak bernoda, tetapi juga dengan mempersembahkan dirinya sendiri.” Maka, persembahan uang hanyalah simbol; yang terutama ialah kita mempersembahkan diri kita kepada Allah.

Ketiga, kolekte adalah wujud kasih dan solidaritas. KGK 1351 menyatakan bahwa sejak awal Gereja, umat beriman membawa persembahan mereka untuk menolong kaum miskin. Jadi, kolekte tidak hanya untuk kebutuhan liturgi dan pastoral, tetapi juga untuk karya amal kasih. Santo Paulus mengingatkan kita: “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7). Dengan memberi, kita belajar berbagi, peduli, dan menyatukan diri dalam kasih persaudaraan.

Kita semua diajak untuk tidak memandang kolekte sebagai kewajiban atau rutinitas semata, tetapi sebagai tindakan iman, syukur, dan kasih. Jumlah yang kita berikan mungkin kecil, tetapi bila disertai dengan hati yang tulus, Allah menerimanya sebagai persembahan yang berkenan di hadapan-Nya.

Selain itu penting juga diingat, kita hendaknya memberi yang terbaik jangan diremas dulu sampai kecil sekali atau uang yang sudah robek atau yang sudah sangat lusuh, karena yang kita berikan adalah wujud diri kita yang kita persembahkan untuk Tuhan dan untuk sesama. Semoga setiap kali kita memberi dalam kolekte, kita juga mempersembahkan hati, hidup, dan seluruh karya kita untuk dipersatukan dengan kurban Kristus di altar.

SAKRAMEN BAPTIS

Kita sudah mengetahui bahwa dalam Gereja Katolik ada tujuh sakramen. Sakramen yang pertama adalah sakramen baptis atau disebut juga sakramen permandian suci. Beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang sakramen ini antara lain:

  1. Sakramen baptis adalah sakramen dasar dan prasayarat (syarat pertama dan utama) untuk dapat menerima sakramen-sakramen lainnya.
  2. Sakramen baptis adalah salah satu sakramen yang hanya boleh diterima sekali untuk selamanya.
  3. Bentuk klasik dari penyelenggaraan pembaptisan adalah tiga kali perendaman ke dalam air, tetapi bisa juga dengan menuangkan air tiga kali di atas kepala calon sambil pelayan mengatakan, “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (KGK 1229-1245,1278). Air melambangkan pembersihan dan kehidupan baru.
  4. Yang dapat dibaptis adalah setiap orang yang belum pernah dibaptis. Satu-satunya syarat adalah iman yang harus diikrarkan secara public dalam upacara liturgi sakramen baptis (KGK 1240 – 1252).
  5. Gereja Katolik (dan banyak gereja lain) mempraktikkan pembaptisan bayi dan kanak-kanak, Alasannya adalah, bahwa sebelum kita memutuskan untuk menuju Allah, Allah sudah terlebih dahulu memutuskan untuk memanggil kita. Karena itu baptisan adalah Rahmat, suatu karunia cuma-cuma dari Allah, yang menerima kita tanpa syarat. Dalam hal ini orangtua Katolik mengharapkan yang terbaik untuk anak-anak mereka sehingga mereka pun mengharapkan baptisan bagi anak-anak mereka. Dngan pembaptisan itu, bayi dan kanak-kanak dibebeaskan dari pengaruh dosa dan kuasa maut.
  6. Dengan pembaptisan kita menerima beberapa Rahmat (KGK 1262–1270) antara lain: a) Penghapusan dosa asal dan semua dosa pribadi dihapuskan; b) Kelahiran baru dalam Roh Kudus sehingga kita menjadi anak-anak Allah; c) Masuk dalam kenaggotaan Gereja: umat beriman baru menjadi bagian dari Tubuh Kristus, yakni Gereja, dan d) Meterai rohani, yakni dengan pembeptisan kita menerima “tanda tak terhapuskan” yang tidak dapat diulangi.
  7. Siapa yang dapat membaptis? Normalnya Uskup Imam atau Diakon menjadi pelayan sakramen baptis. Tetapi dalam keadaan darurat, setiap orang Kristen yang sudah dibaptis dapat membaptis dengan mengucurkan air di atas kepala si penerima dengan mengatakan, “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”.
  8. Biasanya pada pembaptisan kita mendapat nama baru yang kita sebut dengan nama baptis. Melalui nama yang kita terima dalam pembaptisan itu Tuhan mengatakan kepada kita, “Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku (Yes 43:1).
  9. Biasanya nama baptis nama para Santo Santa itu bermaksud bahwa tidak ada teladan yang lebih baik dari para santo santa, dan tidak ada penolong yang lebih baik dari pada mereka. Sehingga dengan menggunakan nama-para kudus menjadikan kita memiliki sahabat dalam Tuhan (KGK 2156-2159, 2165-2167).
Terima kasih dan semoga bermanfaat!!!